Ramadan, Menjadi Manusia Terpilih di Mata Allah SWT

0
557

Oleh Rustam Aji bin H Fadholi (Anggota MPI PWM Jateng)

SYUKUR Alhamdulillah, inilah kata yang memang patut kita ucapkan. Sebab, kita masih diberi kesempatan menemui bulan Ramadan. Bulan di mana Allah SWT menyediakan pahala yang berlipat ganda. Sebagai manusia biasa, setidaknya kita telah memasuki fase awal keterpilihan kita di mata Allah SWT untuk menjadi manusia muttaqien (bertakwa). Saya katakan sebagai fase awal keterpilihan, sebab Allah telah memberikan nikmat berupa umur panjang sehingga kita bisa menikmati bulan Ramadan.

Tapi kita jangan terlalu bangga dulu. Sebab, ibarat calon legislatif (caleg), kita baru lolos tahap administrasi. Tentu, masih banyak fase lain yang mesti kita lewati untuk bisa benar-benar lolos menjadi manusia terpilih di mata Allah SWT. Nama kita baru termasuk dalam daftar manusia (baca: muslim) yang mendapatkan kesempatan menjumpai bulan Ramadan tahun ini. Sebab, terkait umur adalah rahasia Allah. Kita tidak tahu apakah, nanti, besok, seminggu lagi, sebulan lagi, atau tahun depan kita masih diberi kesempatan umur panjang!

Fase berikutnya yang mesti kita lewati adalah mau tidak kita memanfaatkan nikmat umur kita untuk beribadah kepada Allah, yakni menjalankan kewajiban puasa sebagaimana diperintahkan-Nya dalam Alquran surat Albaqoroh ayat 183, secara sadar bukan keterpaksaan. Ibarat sebagai caleg tadi, ini adalah fase kampanye, bagaimana bisa meraih simpatik. Dan, inilah saatnya meraih simpatik di mata Allah.

Bagi yang mampu menjalankan puasa dengan baik, Allah pun akan memberikan imbalaan yang begitu dahsyat. Selain berupa pahala yang berlipat ganda, Allah pun menyediakan malam yang lebih baik dari seribu bulan (lailatul qadar) di bulan Ramadan ini. Bagi penganut kaum materialisme, janji Allah itu mungkin bisa dianggap hanya sekadar bualan saja. Namun, sebagai kaum yang beriman, yang mengimani terhadap yang gaib, maka janji Allah itu adalah benar adanya.

Fase menjalankan ibadah puasa, memang bukanlah pekerjaan mudah. Karena, selain kita harus menahan nafsu makan dan minum serta birahi kita (terhadap istri/suami, atau siapapun itu) dari sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari, kita juga disuruh untuk menjaga ucapan dan tingkah kita. Intinya adalah puasa itu kejujuran terhadap diri kita karena Allah. Untuk itulah kemudian terkait pahala puasa ini menjadi urusan Allah. Sebab, yang tahu apakah kita telah bersikap jujur atau tidak, hanya Allah, bukan ayah/ibu, isteri/suami, anak, saudara, tetanggga atau teman kita yang menilai.

Untuk itulah, bulan Ramadan ini adalah momen bagi kita untuk kembali ke “jalan yang lurus”. Dan, Allah SWT telah memberikan tempat khusus untuk menyucikan diri kita itu di bulan Ramadan ini –termasuk dengan segala kemudahan-kemudahannya. Maka, jika kesempatan ini tidak diambil dengan baik, maka kita memang benar-benar termasuk orang yang merugi. Karena kita tidak mau berlomba-lomba untuk menjadi manusia terpilih di mata Allah SWT. Mungkin, kita hanya sekadar menjadi orang-orang yang hanya berlapar-lapar dan dahaga serta tak mendapatkan hikmah apapun di bulan Ramadan ini.

Untuk menjadi manusia terpilih (bertakwa) di mata Allah memang tak mudah. Dibutuhkan sebuah pengorbanan yang besar. Dalam surat Ali Imran ayat 134 ditegaskan, orang yang bertakwa itu adalah orang-orang yang menafkahkan (harta) baik di waktu lapang maupun sempit, bisa menahan amarah dan suka memaafkan (kesalahan).

Apakah kita (sebagai orang Islam) sudah termasuk dalam kriteria yang digambarkan oleh Allah tersebut?  Tentu, terlalu dini untuk menyebut diri kita bertakwa.

Karena itu, kiranya tepat sekali bila bulan Ramadan ini dijadikan sebagai momentum untuk menata diri menjadi manusia muttaqien. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan salat dan yang menafkahkan sebagaian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya, mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhan-Nya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal: 2-4).

Nah, untuk menjadi manusia terpilih di mata Allah, kiranya belum terlambat. Sebab bulan Ramadan masih panjang. Untuk itu, mari kita gunakan untuk memaksimalkan amal ibadah. Semoga Allah menunjukkan jalan kepada orang-orang yang (bersungguh-sungguh) bertaubat. Semoga kita meraih malam lailatul qadar…! Amin. Wallahu A’alam. (*)

rajif75@yahoo.com