Kolom

Teruo Higa dan EM

Teruo Higa dan EM
(Bagian Kedua)

Oleh : Khafid Sirotudin*

PWMJATENG.COM – Pada medio Agustus 1945, Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak akibat bom atom Amerika pada episode akhir Perang Dunia Kedua. Tidak hanya mematikan rakyat Jepang di 2 kota itu, namun juga mematikan hampir semua tanaman, hewan dan mikro-organisme (bakteri/probiotik) yang menjadikan tanah di kedua kota itu mati. Teruo Higa (78 tahun/lahir 28 Desember 1941) adalah 1 dari sedikit orang yang selamat dari bom atom Sekutu pada 1945 itu.

Rasa getir, sedih, dan prihatin di masa lalu mendorongnya untuk mendalami ilmu biologi, mikrobiologi, dan mikrobakteriologi. Ibarat dalam ilmu kedokteran, ahli biologi itu dokter umum. Ahli mikrobiologi itu dokter spesialis dan ahli mikro-bakteriologi itu dokter sub-spesialis. Sedangkan ahli mikro kultur bakteriologi itu ibarat dokter super spesialis.

Setelah melakukan penelitian awal atas kondisi tanah dan lingkungan yg mati di Hiroshima dan Nagasaki, dia berkelana mencari ‘bakteri tertentu’ yang dibutuhkan agar tanah di kedua kota tersebut bisa dipulihkan kembali/normal dan bisa ditanami berbagai jenis tumbuh-tumbuhan.

Singkat cerita Teruo Higa melakukan ‘safar’ se antero Jepang, Thailand, Vietnam dan sampailah di Indonesia. Hanya untuk mencari ‘bakteri positif’ yang dibutuhkan dan diyakini mampu menghijaukan kembali Hiroshima dan Nagasaki.

Alhasil pada 1980 di Pecatu, Buleleng, Bali, Higa menemukan EM (Effectiive Microorganisms) sebuah koloni bakteri spesifik yang dibutuhkan untuk ‘menghidupkan’ kembali kota mati Hiroshima dan Nagasaki.

Selama beberapa tahun tinggal di Bali, penemuan EM ini dikembangkan menjadi EM-1 sampai dengan EM-4. Sebuah teknologi yang menggunakan bakteri (probiotik) untuk menyehatkan tanah dan membuat pupuk organik. Konon sekarang ini EM telah dikembangkan hingga EM-10 dan seterusnya.

EM adalah bakteri “warga negara Indonesia” yang melalui research intensif akhirnya ditemukan oleh Higa di Buleleng, Bali.

Di kalangan praktisi pertanian Indonesia, sebenarnya EM-4 sudah cukup akrab dan mulai dipakai untuk berbagai keperluan budidaya pertanian dan peternakan, di antaranya untuk membuat pupuk organik/kompos, fermentasi pakan ternak, bahan pengurai limbah rumah tangga, dll.
Dan sejatinya EM-4 merupakan warisan Higa untuk bangsa Indonesia. Hanya saja pemakaian EM-4 di Indonesia tidak ditindaklanjuti dengan penelitian lanjutan untuk membuat produk turunan berbasis teknologi EM. Disamping tidak mendapatkan dukungan yang cukup memadai dari para pemangku dan pengambil kebijakan saat itu.

Paska penemuan EM di Bali, Higa kembali ke Jepang untuk mengajukan proposal program menghidupkan kota mati Hiroshima dan Nagasaki. Namun nasib baik belum berpihak, tidak disetujui pemerintah Jepang.

Hijrah ke Thailand

Teruo Higa tidak patah arang. Dia ‘hijrah’ ke Thailand. Diajukanlah penemuan teknologi EM itu kepada Raja/Pemerintah Thailand, dan diterima dengan tangan terbuka. Maka sejak era 90-an kerajaan dan pemerintah Thailand mulai mengembangkan pertanian secara sistematis, massif dan terstruktur atas tanaman pangan, hortikultura (buah-buahan dan sayuran), serta tanaman perkebunan dengan pendampingan langsung dari Bapak Mikro-Bakteriologi Dunia, Prof. DR. Teruo Higa.

Saat kami berkunjung ke Thailand pada 2009, untuk belajar budi daya tanaman tebu dan industri gula, kami mendengar penuturan salah seorang partner kami di sana bahwa seorang ahli pertebuan asal Magelang, Jawa Tengah Indonesia, (kalo tidak salah namanya Soenoto), telah lama direkrut sebagai konsultan ahli budidaya tebu dan industri gula Thailand, menggantikan konsultan ahli dari Kuba yang telah gagal mengembangkan industri gula berbasis tebu. Rendemen tebu Thailand rata-rata 11-12%, jauh di atas rata-rata rendemen tebu di Jawa Tengah yang berada di kisaran 6-7%.

Hasil keseriusan Thailand berbuah membanggakan. Di era 2000-an kita menyaksikan bagaimana produksi beras, gula, dan buah-buahan tropis Thailand meningkat sangat pesat. Dan bukan tidak mungkin pada 5 tahun ke depan, buah kurma Thailand akan menjadi buah tangan jamaah haji Indonesia yang jumlahnya 210.000-an orang setiap tahunnya.

Baca juga, Sehat Itu Mudah, Murah, dari Rumah

Beberapa buah tropis unggulan ‘made in Thailand’ mampu bersaing dan hadir di berbagai pasar buah dunia. Diantaranya durian, kelengkeng, mangga, pepaya, jambu kristal dan kelapa. Bahkan ‘asem Jawa’ yang rasanya ‘asam’ mampu dikembangkan menjadi “Asem Bangkok yang Manis” (sweet tamarind), dengan harga eceran disini Rp 60.000-70.000 per kilogram.

Kehebatan lain dari budidaya buah tropis Thailand yaitu tidak mengenal musiman. Sepanjang tahun tanaman buah-buahan bisa diatur masa panennya, diselaraskan dengan estimasi angka ramalan (aram) musim panen buah sejenis dari sesama negara penghasil. Agar terjaga supply and demand, harga terjaga dan petani sejahtera.

Produksi madu Thailand juga meningkat mengiringi naiknya produksi buah-buahan, selaras mengikuti ‘syariat alam’. Fakta ilmiah menunjukkan bahwa 90% penyerbukan pada tanaman buah dan sayuran dilaksanakan dengan penuh amanah oleh hewan bernama ‘lebah’ (an-Nahl). Apapun jenis, bentuk, ukuran dan tampang lebah (Jawa : tawon).

Dari yang terkecil seukuran lebah klanceng sampai yang besar “tawon Gung”(lebah Apis Dorsata). Semua menghasilkan madu alami yang berguna sebagai nutrisi yang sangat baik untuk mensupport kesehatan manusia.

Sedangkan tanaman padi-padian dan biji-bijian, penyerbukannya banyak dibantu oleh angin. Ketiadaan lebah berarti isyarat kegagalan produksi tanaman buah-buahan. Subahanallah wal hamdulillah, lailaha illa Allah, Allahu Akbar.

Manusia-tumbuhan-hewan-probiotik membentuk sebuah ekosistem yang saling melengkapi, berbagi peran, dan selalu taat mengikuti garis edar sunatullah yang bersifat absolutety (mutlak), exactly (pasti) dan objective (adil/seimbang/balance).

Buah naga (dragon fruit) varietas warna putih asal Vietnam, memasuki pasar Indonesia pada tahun 2006. Disusul kemudian dengan ‘dragon fruit’ varietas merah dan kuning yang kaya zat anti oksidan.

Sejak petani buah Indonesia (Jatim, Jateng, DIY, Jabar, Kalimantan dan Sumatra) mulai membudidayakan tanaman dragon fruit warna merah secara masif dan melimpah ruah hasilnya, maka di pasar modern, pasar tradisional dan bakul buah pinggir jalan sudah terlihat lagi buah naga impor dr Vietnam. Sebab sesuai hukum pasar, produk buah impor tidak laku saat terjadi panen raya dan over suplly buah dalam negeri.

Baca juga, Perlukah Muhammadiyah Menjadi Salafi atau Lainnya?

Berkat teknologi EM produksi beras Vietnam juga mengalami surplus hingga sekarang. Dan Indonesia beberapa kali mengimpor beras dari Vietnam untuk menutup cadangan beras nasional yang defisit.

Pada era tahun 80-90an, pemerintah Indonesia lagi bersemangat dan sedang giat-giatnya menjalankan program menuju swa sembada pangan nasional. Jaman Orde Baru dikenal dengan nama program Bimas-Inmas dan Insus-Supra Insus. Akhirnya Indonesia berhasil mencapai swa sembada beras, pada akhir era 80-an sampai pertengahan era 90-an. Yang patut disayangkan adalah dipertahankannya teknologi budidaya pertanian yang terlalu menggantungkan pemakaian pupuk kimia/non organik yang sangat besar hingga sekarang. Padahal cadangan gas alam sebagai bahan baku utama pupuk kimia makin menipis dan habis.

Menurut para pakar pertanian, pemakaian pupuk kimia sintetis/ an-organik (urea dan sejenisnya) dalam jangka panjang, apalagi jika aplikasi riil di lapangan berlebihan, justru akan merusak kesuburan tanah dan kualitas lahan pertanian.

Tingkat produktivitas padi nasional kita saat ini, rata-rata hanya berkisar 6-7 ton gabah kering panen (GKP) per hektar. Kami menengarai, salah satu sebabnya yakni ‘laju penurunan kualitas tanah/lahan pertanian’ akibat terlalu lama memakai pupuk kimia non organik. Di samping adanya faktor lain yaitu ketersediaan benih/bibit unggul, teknologi dan pola tanam, kualitas dan kuantitas air, penanganan hama terpadu, saprotan/alsintan yg cukup dan kondisi cuaca yang berubah (Jawa: salah mongso).

Pada Rapat Kerja Menteri Pertanian dengan Komisi IV DPR, Rabu 12/9/2019, subsidi pupuk yang diajukan Mentan sebesar Rp 29,5 Trilyun, atau setara pupuk sebanyak 9,55 juta ton. Dengan perincian: Urea 4,1 juta ton, SP-36 sebanyak 850 ribu ton, ZA 1,05 juta ton, NPK 2,55 juta ton, dan pupuk organik 1 juta ton.

Mencermati besarnya anggaran subsidi dan alokasi jenis pupuk yang diajukan oleh Mentan, maka tidaklah keliru manakala banyak pihak pesimis terhadap keberhasilan program Pertanian Organik atau Go Organic yang telah dicanangkan pemerintah era reformasi. Kalo saja kementerian pertanian bersungguh-sungguh untuk mewujudkan ketahanan pangan berbasis organik, insya Allah akan mudah tercapai.

Apalagi teknologi pertanian berbasis probiotik semacam EM, sekarang telah berkembang menjadi teknologi bactery cycle atau probiotic cycle. Teknologi Probiotik Siklus (PS) merupakan penemuan mutakhir oleh salah satu ahli mikro-kultur bakteriologi dunia. Teknologi PS sangat mudah dan murah dalam aplikasinya, sehingga tidak menyedot anggaran negara yang sangat besar untuk subsidi.

Kembali ke Jepang

Mengetahui keberhasilan Higa mengembangkan pertanian di Thailand dan Vietnam, membuat kekaisaran dan pemerintah Jepang memanggil pulang salah seorang putra terbaik bangsa-nya serta menyetujui program untuk menghidupkan kembali Hiroshima dan Nagasaki yang dahulu Higa pernah tawarkan dan ditolak.

Berbekal EM yg ditemukan di Bali Indonesia, dalam waktu relatif singkat Higa berhasil menghidupkan kembali Hiroshima dan Nagasaki, tanah pertiwi dimana beliau kehilangan banyak anggota keluarga, kawan dan bangsanya akibat bom atom pada 14 Agustus 1945. Kedua kota tersebut sekarang menjadi ijo royo-royo, gemah ripah loh jinawi dan hidup kembali.

Saat ini Prof Dr. Teruo Higa adalah Profesor Emeritus pada Universitas Ryukyus di Okinawa Jepang. Dia juga Direktur pada The International EM Technology Center of Meio University di Okinawa. Sebagai ayah beliau patut bangga karena berhasil mengkader anaknya, Prof. Dr. Teruo Ogawa menjadi salah satu ahli mikro kultur bakteriologi dunia. Dimana keilmuan anaknya melebihi sang ayah yang ahli mikro bakteriologi dunia.

Ada filosofi hidup Higa yang menarik: “The essensial condition for human happiness is the ability to do what one really loves, whatever that may be, throughout the course of one’s lifetime.” (“Syarat utama untuk mendapatkan kebahagiaan adalah kemampuan mengerjakan apa yang benar-benar dicintai seseorang, apapun itu, di sepanjang hayatnya”) (Teruo Higa: An Earth Saving Revolution: Solutions to Problems in Agriculture, the Environment and Medicine; page 327; Sunmark Publishing, 1998).

Wallahu’alam

*) Alumni IESP FE dan Magister Agribisnis Undip Semarang; Ketua DPC APTRI (Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia) Kendal 2007-2012 dan Waket DPD APTRI Jateng 2009-2014.

Editor : M Taufiq Ulinuha

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE