Kolom

Menciptakan Ekosistem Muhammadiyah (1)

Menciptakan Ekosistem Muhammadiyah

Oleh : Gus Zuhron Arrofi*

PWMJATENG.COMĀ ā€“Ā Seekor anak Singa dilepaskan oleh induknya untuk berpetualang mengarungi hutan rimba sendirian. Sang induk tentu mempunyai tujuan agar anaknya tumbuh menjadi dewasa, mandiri danĀ  kaya akan wawasan. Setelah memberikan bekal yang cukup, perjalanan anak raja hutan itu pun dimulai. Dengan sangat percaya diri anak Singa mulai mengayunkan langkah memasuki belantara hutan yang rimbun dan luas. Di hutan Singa muda ini bertemu banyak hewan lain, mereka semua bersikap ramah dan bersahabat.

Namun ada yang mengganjal dalam hati putra mahkota ini. Setiap hewan yang bertemu dengannya selalu menyapanya dengan kata, ā€œHai kucingā€¦apa kabarmuā€. Sapaan awal membuatnya marah dan mengklarifikasi bahwa dirinya bukan kucing melainkan Singa muda dan merupakan putra mahkota dari raja hutan. Seiring berjalannya waktu semua yang ia temui di hutan selalu menyapanya dengan sapaan yang sama. Sampai muncul keraguan sebenarnya dirinya itu Kucing apa anak Singa.

Baca juga, Persiapan Pemilu untuk Caleg Muhammadiyah

Satu bulan berlalu dan petualangan pun usai. Anak Singa yang gagah memutuskan untuk kembali ke rumah. Pengalaman selama perjalanan di hutan akan diceritakan dengan tuntas sebagai oleh-oleh terbaik untuk orang tuanya. Langkahnya mantap dan penuh percaya diri. Sampai di rumah anak Singa ini disambut bahagia oleh induknya dengan mengatakan ā€œGimana kabar anak singaku yang gagah dan beraniā€ mendengar ucapan itu sontak sang anak sing marah dan mengatakan ā€œAku ini bukan singa, aku adalah kucingā€. Tanpa sadar rupanya ekosistem hutan telah mengubah jati dirinya.

Mari kita tarik cerita ilustrasi di atas dalam konteks Muhammadiyah. Ada pertanyaan besar yang sudah sering diajukan mengapa jumlah kader Muhammadiyah tidak sebanding dengan jumlah lulusan yang dihasilkan atau tidak berbanding lurus dengan jumlah manusia yang bekerja di Amal Usaha Muhammadiyah. Bukankah mereka ada yang 6 tahun sekolah di Muhammadiyah, ada yang 3 tahun, 4 tahun, 5 tahun ada juga yang hanya 2 tahun. Bahkan ada juga yang sudah bekerja lebih dari 20 tahun dan tetap tidak Muhammadiyah. Semestinya itu waktu yang lebih dari cukup untuk menjadikan mereka mempunyai cita rasa Muhammadiyah.

Baca juga, Muhammadiyah dan Dialog Terbuka: Ujian Kualitas ā€˜Isi Kepalaā€™ Capres-Cawapres Indonesia

Setidaknya ada 4 faktor mengapa hal itu bisa terjadi. Pertama, atmosfer bermuhammadiyah tidak cukup mendominasi di lingkungan amal usaha dengan beragam bentuknya. Perbincangan sederhana, diskusi, obrolan, workshop yang berfokus bagaimana membesarkan Persyarikatan dan menjadikan peserta didik sebagai kader Muhammadiyah nyaris tidak pernah menjadi menu utama. Kedua, kurikulum sekolah dan perguruan tinggi hanya menempatkan aspek kemuhammadiyahan sebagai aksesoris, belum menjadi ruh yang menginternalisasi di dalamnya. Terlalu berkiblat pada narasi negara menjadikan lembaga pendidikan Muhammadiyah kehilangan jati dirinya sebagai lumbung para pejuang.

Ketiga, patut diduga kenapa jumlah lulusan lembaga pendidikan Muhammadiyah tidak banyak yang melanjutkan perjuangan Kiai Dahlan. Karena sebagian besar para dosen, guru dan karyawan juga bukan menjadi bagian dalam Muhammadiyah. Keterlibatan mereka dalam amal usaha sebatas tenaga profesional pencari cuan tanpa harus merasa bertanggung jawab untuk membesarkan Muhammadiyah. Keempat, belum adanya sistem kaderisasi yang terstruktur sistematis dan masif. Baitul Arqom meskipun disebut sebagai perkaderan utama faktanya belum mampu menggaransi seseorang dari bukan Muhammadiyah kemudian bertransformasi menjadi makhluk Muhammadiyah. Baitul Arqom baru sebatas menjadi bagian parsial dari mimpi Muhammadiyah akan kaderisasi.

*Sekretaris MPKSDI PWM Jawa Tengah

Editor :Ā M Taufiq Ulinuha

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tidak bisa menyalin halaman ini karena dilindungi copyright redaksi. Selengkapnya hubungi redaksi melalui email.

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE