Jangan Lewatkan! Ini Keutamaan Puasa Tasu’a dan Asyura pada Rabu-Kamis Pekan Ini
Oleh: Ir. H. Zen Zainul HP., CWC., CHt
Selamat datang di bulan Muharram! Tanpa terasa, kita telah memasuki bulan pertama dalam sistem kalender Hijriah. Bagi umat Muslim, kehadiran bulan ini bukan sekadar pergantian angka tahun di kalender. Muharram adalah undangan terbuka untuk membuka lembaran hidup yang baru dengan spiritualitas yang lebih tinggi.
Secara etimologis, Muharram berakar dari kata “haram” yang berarti suci, mulia, atau terlarang. Masyarakat zaman dahulu menyucikan bulan ini dan bangsa Arab melarang keras adanya peperangan atau pertumpahan darah pada periode ini.
Allah SWT pun menegaskan keagungan bulan ini langsung dalam Al-Quran (Surat At-Taubah ayat 36). Ayat tersebut menyebutkan Muharram sebagai salah satu dari empat bulan suci (arba’atun hurum), mendampingi Zulqa’dah, Zulhijah, dan Rajab. Jika pada bulan-bulan ini kita menolak keras perbuatan maksiat, maka sebaliknya, melipatgandakan amal saleh menjadi sebuah keharusan.
Mengapa Hari Rabu dan Kamis Ini Begitu Istimewa?
Bulan Muharram menyimpan hari-hari yang sangat mulia. Melalui ibadah puasa sunnah, kita dapat membuka lebar-lebar pintu pahala. Pekan ini, kita menghadapi momentum emas tersebut:
-
Rabu (9 Muharram) – Puasa Tasu‘a: Umat Muslim menunaikan puasa ini sebagai pelengkap sekaligus pembeda dari tradisi kaum lainnya.
-
Khamis (10 Muharram) – Puasa ‘Asyura: Hari yang sangat agung dan penuh sejarah. Momentum ini mengajak umat Muslim untuk merayakan kemenangan hak atas kebatilan.
Catatan Redaksi: Terdapat potensi perbedaan penanggalan imkanur rukyat antara ketetapan Pemerintah/Muhammadiyah dan ikhbar PBNU. Bagi yang mengikuti kalender Pemerintah, puasa jatuh pada Rabu dan Kamis. Sementara bagi yang mengikuti ikhbar NU, puasa Tasu’a dan Asyura jatuh pada hari Kamis dan Jumat. Perbedaan ini menjadi rahmat dan memberikan kebebasan bagi umat untuk memilih.
Sejarah Ibadah Puasa Tasu’a dan Asyura
Pada masa awal Islam, umat Muslim wajib menunaikan puasa 10 Muharram (‘Asyura), bahkan sebelum Allah SWT menurunkan perintah puasa Ramadan.
Menariknya, orang-orang Yahudi dan Nasrani juga mengagungkan hari kesepuluh ini. Mereka melakukannya sebagai bentuk syukur atas selamatnya Nabi Musa as dari kejaran Firaun.
Mendengar laporan para sahabat bahwa kaum lain juga mengagungkan hari tersebut, Rasulullah SAW memberikan jalan keluar yang bijaksana. Agar ibadah umat Islam memiliki identitas yang unik dan tidak meniru total ritual kaum lain, beliau bersabda:
“Jika demikian, Insya Allah tahun depan kita berpuasa [juga] pada hari yang kesembilan.”
Namun, Rasulullah SAW telah wafat sebelum tahun berikutnya tiba. Dari sinilah para ulama menganjurkan kita untuk menggandakan puasa pada hari ke-9 (Tasu’a) and ke-10 (Asyura) Muharram.
Pilihan dan Kebebasan Beribadah
Setelah kewajiban puasa Ramadan turun, status puasa ‘Asyura berubah menjadi ibadah sunnah yang sangat longgar namun menjanjikan hadiah besar. Keutamaan utamanya yang paling luar biasa adalah mampu menghapus dosa-dosa setahun yang lalu.
Berdasarkan hadis yang bersumber dari Sayyidah ‘Aisyah ra, Rasulullah SAW memberikan kebebasan penuh kepada umatnya melalui sabda beliau:
“Barang siapa yang ingin melakukan puasa ‘Asyura’ silakan, dan barang siapa yang tidak ingin melakukannya silakan berbuka.”
Islam menunjukkan bentuk kasih sayang yang besar melalui aturan ini. Tidak ada paksaan dalam pelaksanaannya, namun Allah SWT menyiapkan janji pahala yang luar biasa bagi mereka yang meluangkan waktu demi mendekatkan diri kepada-Nya.
Momentum Terbaik untuk Berinvestasi Akhirat
Prinsip utama seorang Muslim adalah memperbanyak amal saleh di setiap waktu. Namun, beramal di bulan-bulan suci seperti Muharram memiliki nilai urgensi dan kekhususan tersendiri.
Jika selama ini kesibukan duniawi menyita waktu kita, maka pekan ini adalah momen terbaik untuk “rehat sejenak” dan berinvestasi untuk akhirat.
Mari persiapkan diri, niatkan hati, dan ajak keluarga serta kerabat terdekat untuk bersama-sama meraih keberkahan lewat Puasa Tasu’a dan Asyura. Selamat meningkatkan kualitas ibadah di bulan Muharram!
Editor: Alafasy



