Bikin Haru, Mahasiswa KKN Internasional UMS Sukses Dekatkan Anak Diaspora di Malaysia dengan Budaya Indonesia
PWMJATENG.COM, SURAKARTA — Tawa ceria sekaligus rasa bangga menyelimuti Sanggar Bimbingan (SB) Banting, Selangor, Malaysia, saat belasan anak pekerja Indonesia berkumpul untuk menarikan budaya leluhur mereka, Kamis (25/6/2026). Melalui kegiatan ini, kehadiran mahasiswa KKN Internasional UMS berhasil menghadirkan ruang belajar luar negeri yang menyenangkan. Alhasil, program tersebut sukses menjaga kelekatan emosional anak perantauan terhadap tanah air mereka.
Program pengenalan seni tari ini menjadi langkah nyata untuk menjaga identitas nasional generasi muda di perantauan. Dalam hal ini, anak-anak diaspora tersebut mendapatkan bimbingan langsung dari Hanifah Herawati, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Selain memberikan pelatihan, tim mahasiswa juga mengajak para peserta menyelami kekayaan budaya Nusantara di tengah kehidupan modern Malaysia.
Hanifah menegaskan bahwa kegiatan tersebut memuat misi yang jauh lebih dalam daripada sekadar melatih gerakan fisik. Sebab, seni tradisi membawa pesan filosofis mengenai jati diri bangsa yang harus tertanam sejak dini.
“Tari tradisional bukan hanya soal gerakan. Di baliknya ada cerita, ada nilai, ada identitas. Kami berharap anak-anak di sini bisa merasakan bahwa budaya Indonesia itu indah dan layak untuk mereka jaga, di mana pun mereka berada,” ujar Hanifah saat ditemui pada Kamis (25/6/2026).
Belajar Tari Bungong Jeumpa dan Paijo
Pada sesi latihan tersebut, peserta perempuan berkesempatan mempelajari Tari Bungong Jeumpa khas Aceh. Gerakan tarian ini terkenal sangat lemah gemulai dan penuh keanggunan. Di samping itu, pola gerakannya terinspirasi dari keindahan bunga cempaka yang menjadi simbol keharuman daerah asalnya.
Sementara itu, kelompok peserta laki-laki mendapatkan pengenalan Tari Paijo dari Jawa. Karakter tarian Jawa ini cenderung riang dan dinamis. Oleh karena itu, ritme musiknya yang cepat ikut mencerminkan keceriaan serta kehangatan budaya masyarakat Nusantara.
Terkait hal tersebut, langkah pemilihan dua tarian yang kontras ini bukan tanpa alasan. Sebab, Hanifah sengaja memilihnya untuk memperlihatkan bentang keberagaman budaya Indonesia kepada anak-anak yang tumbuh di luar negeri.
Antusiasme Anak Indonesia di Malaysia
Selama kegiatan berlangsung, suasana di dalam Sanggar Bimbingan (SB) Banting seketika berubah menjadi sangat riuh. Tim mahasiswa mengajarkan setiap gerakan demi gerakan secara bertahap. Oleh sebab itu, gelak tawa dan tepuk tangan meriah berkali-kali pecah di tengah ruangan saat para peserta mencoba menirukan instruktur.
Bahkan, bagi sebagian besar anak diaspora, momen ini merupakan pengalaman pertama mereka mempraktikkan tari tradisional secara langsung. Oleh karena itu, mereka tampak sangat menikmati setiap detik proses belajar yang menantang tersebut.
Nafisa, salah satu peserta anak diaspora, tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya setelah mengikuti latihan. Meskipun sempat kesulitan, menyelaraskan tubuh dengan ketukan musik daerah menjadi tantangan baru yang sangat seru baginya.
“Senang banget bisa belajar nari Indonesia. Gerakannya lucu tapi susah juga, harus pelan-pelan biar pas sama musiknya,” ungkap Nafisa jujur.
Komitmen Global KKN Internasional UMS
Oleh pihak kampus, program literasi budaya ini ditempatkan sebagai salah satu agenda unggulan di SB Banting. Selain itu, pendekatan edukasi yang menyenangkan membuat materi pengenalan budaya menjadi lebih mudah diterima. Dengan demikian, kedekatan emosional anak perantauan dengan tanah leluhur dapat terus terjaga dengan baik.
Aktivitas sosial di Selangor ini merupakan bagian dari program besar bertajuk KKN Internasional: Mangunsari Goes Abroad 2026. Skema tersebut menjadi bukti nyata dari komitmen global Universitas Muhammadiyah Surakarta. Tidak hanya fokus memperluas wawasan internasional mahasiswa, tetapi kampus juga konsisten mendorong pengabdian yang berdampak nyata bagi warga Indonesia di luar negeri.
Kontributor: Yusuf
Editor: Alafasy



