HUD HUD & DAKWAH

0
381
Ilustrasi (sumber: voa islam)

Oleh Hayati Nufus (MIM Bloran, Kerjo, Karanganyar)

SUATU hari seorang teman alumni pondok pesantren bercerita bahwa dia enggan berdakwah di masyarakat karena dia merasa ilmunya belum cukup dan akhlaknya belum baik. Menurutnya, pendakwah haruslah orang yang cukup mumpuni  ilmu maupun akhlaknya. Saya memilih untuk tidak merespon pernyataan tersebut, karena kasus seperti ini sudah sering kita temui dan menjadi alasan klise yang terus diulang-ulang oleh orang-orang yang enggan berdakwah atau menolak tugas dakwah.

Hal serupa pernah disampaikan seorang jamaah pada sebuah halaqoh majlis ilmu, ditanggapi dengan sangat apik oleh gurunya.

Begini tanggapan sang Kyai,  “Bila kita enggan berdakwah maka hakikatnya kita membuat iblis dan tentaranya tersenyum bahagia dan lega.” Menurut Pak Kyai, iblis dan sekutunya sangat membenci orang-orang yang bergiat dakwah di jalan Allah karena tugas utama mereka adalah menjauhkan manusia dari syariat Allah dan rasul-Nya. Jika semakin banyak manusia yang terpanggil untuk berdakwah  maka akan semakin  berat dan tinggi tingkat kesulitan yang dihadapi  iblis dan sekutunya dalam menyesatkan manusia. Buah manis dari dakwah adalah akan semakin banyak orang yang tercerahkan oleh cahaya Illahi dan inilah yang paling ditakuti oleh sang musuh Allah itu.

Mengajak orang pada kebaikan dan mencegah kemunkaran (amar ma’ruf nahi munkar) adalah tugas dan  warisan spirit para nabi. Misi hidup mereka bukan hanya solihun linafsihi (memperbaiki diri sendiri) tetapi juga muslihun lighoirihi (memperbaiki  orang lain). Para nabi adalah insan-insan pilihan yang sudah terseleksi dengan sangat baik untuk tugas utama dan mulia yaitu melestarikan kebaikan di muka bumi ( rohmatan lilalmin) dan meninggikan kalimat Allah (  lii’ lai kalimatillah) dengan kalimat tersebut semesta alam terpelihara dalam naungan Ridha Illahi.

Ketika seorang pendakwah mengajak pada kebaikan (amar ma’ruf ) secara umum relatif tidak banyak pertentangan yang muncul,  karena pada dasarnya tabiat manusia itu baik dan menyukai kebaikan, tetapi ketika seorang pendakwah mulai mencegah kemunkaran masalah akan menjadi lain, disinilah tantangan dakwah dimulai. Akan banyak orang yang merasa  terusik kepentingannya sehingga menimbulkan banyak pertentangan. Siroh Rosul memberi kita pelajaran tentang hal ini, awalnya Muhammad bin Abdullah adalah sosok pemuda yang sangat dicintai dan dibanggakan oleh pamannya Abu Lahab. Sejak kecil Rosul dikenal sebagai manusia yang berbudi luhur dan tidak pernah melakukan hal yang tercela sehingga kaumnya menyandangkan gelar Al Amin atas keluhuran budinya. Ketika panggilan dakwah diserukan Rosul dari atas bukit Shafa, Abu Lahab adalah orang pertama yang menentang dan bereaksi sangat keras. “Tabban laka ya Muhammad alihadja jama’tana?”(celakalah engkau Muhammad apa untuk hal ini kami dikumpulkan?).

Umpatan keras terhadap Rasulullah yang langsung Allah jawab dengan surat al Lahab.

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa”(Q.S.111:1)

Dari sini kita dapat belajar bahwa tugas dakwah selalu mendapat tantangan yang tidak ringan sepanjang masa.

Banyak generasi muda islam yang sudah terjangkiti oleh prilaku gaya hidup hedonis, materialis dan pragmatis menolak  menjadi seorang dai (juru dakwah). Menurut mereka menjadi dai bukanlah  profesi bergengsi dibanding dengan profesi lain seperti dokter, pejabat, pengusaha, entertainer dan lainnya.

Persepsi mereka bahwa da’i adalah profesi yang kurang menjanjikan keberlimpahan finansial dan kemakmuran masa depan. Persepsi peyoratif  ini menjadi adagium yang diyakini juga oleh sebagian masyarakat, padahal  persepsi ini bertolak belakang dengan penuturan ayat berikut ini:

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?”

(Q.S.41:33).

Menurut Hasan al Basri dalam tafsir ibnu Katsir yang dimaksud ayat di atas adalah tentang seorang kekasih Allah, penolong agama Allah, orang pilihan Allah yang paling diutamakan dan paling disukai Allah di antara penduduk bumi. Yaitu orang yang memenuhi seruan Allah dan menyeru manusia untuk memenuhi seruan Allah seperti yang ia lakukan.  Seorang ulama bernama Hasan al Bana sangat bangga menjadi seorang dai kecintaannya pada profesi dakwah dinyatakan dengan sebuah statemen indah yang dijadikan slogan para dai ,  “Nahnu duat kobla kulli syain”(kami adalah pendakwah sebelum menjadi apapun).

Belajar Dakwah Dari burung Hud-Hud.

Kisah burung hud-hud dan Nabi Sulaiman dalam Al Qur’an surat An Naml ayat 20-44 bisa menjadi pengajaran dan pelajaran bagi manusia tentang bagaimana seekor burung kecil telah sukses melakukan kerja dakwah dengan hasil yang sangat spektakuler. Dikisahkan pada surat An Naml bahwa suatu hari burung Hud-Hud yang nama latinnya upupa epops sejenis burung pelatuk pemakan serangga absen dari barisannya ketika diinspeksi oleh Nabi Sulaiman. Ketidakhadiran Hud-Hud membuat nabi Sulaiman marah besar dan berniat menghukumnya dengan hukuman yang keras bila Hud-Hud tidak bisa memberi alasan yang tepat. Singkat cerita dikisahkan bahwa ketidakhadiran Hud-Hud karena sebuah alasan yang sangat penting yaitu ia telah pergi dan terbang mengepakkan sayap mengarungi jarak yang sangat jauh dari Palestina sampai pada sebuah negri bernama Saba di Yaman, ihwal negri itu Nabi Sulaiman pun belum mengetahuinya.

“Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.”

(Q.S.27:23)

“Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk.”

(Q.S.27:24).

Dua ayat di atas menjelaskan tentang info penting yang disampaikan Hud-Hud kepada Nabi Sulaiman yaitu tentang   negri besar yang makmur bernama Saba  diperintah oleh seorang ratu. Sangat disayangkan menurut hud-hud ratu dan rakyatnya disesatkan syaithon dengan menyembah matahari. Alur cerita dikisahkan Hud-Hud diutus untuk kembali ke negri Saba membawa surat yang berisi pesan dakwah dari Nabi Sulaiman untuk mengajak ratu Saba dan rakyatnya menyembah Allah yang Esa dan tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun. Klimaks cerita setelah melalui rangkaian proses diplomasi yang panjang antara ratu Saba dan Nabi Sulaiman, akhirnya sang ratu beserta rakyatnya menyerah dan dengan suka rela mereka tunduk berserah diri menyambut seruan tauhid.

Pelajaran penting dari kisah Hud-Hud adalah:

  1. Jangan pernah meremehkan apapun walaupun ia tampak kecil dan lemah di dalam kerja dakwah.
  2. Dakwah adalah hak dan kewajiban setiap muslim.
  3. Jangan menunggu menjadi ahli ilmu yang hebat untuk melakukan kerja dakwah karena burung kecil seperti Hud-Hud pun mampu melakukannya.
  4. Jangan berhenti untuk memperbaiki diri sambil melakukan tugas dakwah bagi orang lain.

Mari kita sampaikan walau satu ayat, kita ajarkan walau hanya sekedar keahlian cara menanam rumput. Dan taman yang bagus tidak akan indah dan sejuk tanpa kehadiran rumput di tanahnya. (*)

Wallahu a’lam.

_____

Kerjo 3 Oktober 2017

TINGGALKAN KOMENTAR