BeritaKolom

Perdebatan Khilafiyyah Bukan Maqamnya Muhammadiyah

Perdebatan Khilafiyyah Bukan Maqamnya Muhammadiyah

Oleh : As’ad Bukhari, S.Sos., MA.*

PWMJATENG.COM – Perselisihan agama dalam perkara cabang atau furu’ menjadi bagian persoalan khilafiyyah yang sulit dihindari bagi sebagian Ulama, Ustaz, Muballigh, Kiai, Gus, Habib, dan Dai, bahkan kepada jamaah awam termasuk para pengikut setia. Hal ini disebabkan egoisme dan arogansi untuk membuktikan paling benar atau paling popularitas atau bahkan paling banyak dan ragam tujuan dibaliknya. Potret persaudaraan muslim di tengah perbedaan pemahaman pandangan, mazhab, manhaj, fatwa, dan tafsir sering kali memicu perselisihan, perdebatan, dan pertengkaran yang ujungnya hanya untuk mencari eksistensi yang akhirnya jauh dari adab dan akhlak.

Yang berilmu luas maupun yang hanya sekedar pengikut pun dapat berukasa di era digital sosial media serba terbuka dan bebas bicara, berekspresi, berpendapat dan juga berkomentar di aplikasi platform manapun itu. Sehingga kepentingan dinul Islam yang lebih besar terlupakan akibat selalu melakukan perselisihan khilafiyyah yang tak berkesudahan yang semua mengklaim paling benar. Situasi di mana beragama di internal Islam cukup rumit bila hanya membahas perbedaan furuiyyah dalam khilafiyyah.

Kiai Ahmad Dahlan dalam sejarah nya adalah ulama muda yang paling sering dikritik atau ditahzir dan paling sering disebut kiai kafir atau ditakfir. Dari ulama Londo, kiai kafir, kiai berjas, dan seterusnya yang akhirnya menyerang pribadi sampai mencaci maki model dakwahnya yang dianggap aneh dalam gerakan TBC dan gerakan pemberdayaan umat. Kiai Ahmad Dahlan sering disebut Kiai Amali, Kiai Praktis, Kiai Aksi dan tidak suka dengan perselisihan apalagi perdebatan yang menguras energi sia-sia, sedangkan ummat butuh segara ditolong dalam kesengsaraan yang diderita.

Kiai Ahmad Dahlan tidak melakukan dakwah secara keras, melainkan sangat santun dan lemah lembut dengan cara mampu mengalihkan santrinya, jamaahnya dan pengikutnya kepada kegiatan yang lebih manfaat dan mencerdaskan dalam kemajuan daripada melakukan amaliyyah jumud. Justru para kalangan Islam tradisional dan Islam konvensional, serta Islam kejawenlah yang selalu merasa kesal, marah, benci, dan tidak suka dengan pola gerakan dakwah Kiai Ahmad Dahlan beserta persyarikatan Muhammadiyah nya. Itulah tantangan besar dari berbagai kisah yang ada, persoalan khilafiyyah cenderung tidak jadi konsen utama dan tidak fokus membahas furuiyyah, sebab bagi Kiai Ahmad Dahlan yang utama adalah pendidikan, dakwah dan kemanusiaan.

Baca juga, Hukum Musik, UAH, dan Siapa Kaum Salaf?

Khilafiyyah bukan maqamnya Muhammadiyah apalagi bila berlarut-larut, berkepanjangan, berseri-seri atau bahkan sampai pada ekspresi emosi, marah, benci, murka karena dianggap telah berlebihan. Memang betul, di dalam Islam persoalan tahzir dan takfir itu adalah sesuatu yang tidak baik, fitnah, polemik dan penuh kebencian. Akan tetapi merespons, meladeni, menentang terus-terusan tentu bukan bagian dari maqam atau tingkat atau kulturnya Muhammadiyah melakukan hal itu.

Muhammadiyah itu organisasi yang sudah sering dan terbiasa dibenci, dicaci, dimaki, dihina, ditertawakan, dirusak, dan dianggap gila di zaman Kiai Ahmad Dahlan pun telah dirasakan. Hanya saja tingkat maqam emosi warga Muhammadiyah saat ini setipis tisu, emosi amarah sebesar lautan, dan arogansi eksistensi setinggi langit yang padahal tak perlu sejauh itu. Sebab bermuhammadiyah itu jangan Jubriya, walaupun Muhammadiyah yang dihina selama memang tidak masuk dalam ranah pada kriminalitas pembunuhan, pemberontakan, atau gerakan sadis berdarah tanpa nalar logika.

Bermuhammadiyah dengan terus menerus mencerdaskan, mencerahkan dan menggerakkan adalah hal yang lebih urgensi daripada harus dalam sikap reaksional yang melemahkan spiritual lagi nilai keimanan. Terlepas adanya dinamika ideologi Politik atau ideologi agama yang melakukan infiltrasi itu, maka ranahnya adalah perang pemikiran dan bukan perang fisik kekuatan lagi.

Dunia sosmed dan dunia digital selain memudahkan belajar atau memahami informasi apapun, juga dapat menjadi bencana persaudaraan antar sesama umat beragama dan sesama yang seagama. Perbedaan pemahaman secara tafsir, tajdid, dan takwil maupun lainnya semakin membuat khilafiyyah semakin membesar, sehingga tak berkesudahan selama tidak ada diskursus, isu, atau topik baru lagi yang muncul. Sebagai warga Muhammadiyah tentunya adab, akhlak dan akal jauh lebih utama daripada amarah, arogansi dan angkara murka yang ditonjolkan. Maqam Muhammadiyah itu pertengahan yang dapat mendamaikan dan merangkul, justru bukan menjadi pemain atau objek yang saling ribut memukul pula seperti yang lainnya.

Baca juga, Ramai Soal Musik, UAH: Musik dari Sejarah hingga Al-Qur’an dan Sunnah

Maqam Muhammadiyah itu berkemajuan, sehingga untuk level furuiyyah dan khilafiyyah tidak menjadi domain utama dalam dakwah Muhammadiyah apapun bentuk situasi dan kondisinya. Sebagai manusia yang memiliki kelemahan memang benar manusiawi, akan tetapi tidak perlu terlalu jauh, terlalu dalam dan terlalu lebar melihat itu sebagai suatu fokus utama sehingga melupakan hal lain yang lebih produktif, progresif dan protektif. Khilafiyyah itu bukan maqam levelnya Muhammadiyah Untuk masuk ke arena sana yang membuat persoalan umat tak selesai tanpa solusi.

Dakwah digital Muhammadiyah dan dakwah sosial media Muhammadiyah jauh lebih baik untuk dikembangkan sebagai sarana dakwah terbarukan era kontemporer. Sebagai para Muballigh, tokoh agama dan para guru umat lebih baik tampilkan saja perbedaan itu dalam adab dan akhlak islam agar umat mengikuti. Bagi jamaah pengikut lebih baik menahan diri dan tidak memperkeruh suasana karena lebih utama menjaga ukhuwah Islamiyah dan persatuan lagi persaudaraan sesama muslim meskipun berbeda organisasi, mazhab, manhaj, fatwa, dan rujukan ulamanya. Semua kembalikan saja kepada Allah dengan bertawakkal kepada Nya memohon ampunan dan pertolongan agar senantiasa selamat baik di dunia dan di akhirat tentunya.

*Alumni Pendidikan Intensif Muballigh Muda Berkemajuan

Editor : M Taufiq Ulinuha

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE