Sang Ikan Wader

Aku sedang merenung memikirkan hidupku. Sembari merenung, kuperkenalkan diriku. Aku wader, aku sebuah ikan kecil yang tak punya kekuatan apa-apa. Aku mungkin kelak akan berakhir dalam perut ikan pemangsa ataupun perut manusia. Dalam hal ini aku mirip manusia. Manusia tak punya kekuatan untuk melawan Tuhannya dan manusia akan selalu berakhir dalam tanah (zat asal tubuhnya).

Aku wader, yang tak punya apa-apa selain hanya ingin hidup dan mengisi kehidupanku. Aku hanya berenang mengikuti arus, karena badanku tak kuat melawan arus. Aku banyak berkembang ketika air tenang, karena di sana kenyamananku ada untuk berkembang. Aku akan bersembunyi jikalau arus deras dan banjir meluap ke darat. Aku akan bersembunyi ke tempat yang jauh yang tak kan ada arus. Aku sembunyi dan sembunyi sehingga tidak ada yang mengerti tentang keberadaanku.

Tempatku lahir ada di sungai pinggir Dukuh Mengarang. Masyarakat sekitar sering mencari ikan, terutama mencariku. Mereka bilang aku enak untuk sekedar digoreng dan bahkan beberapa dari mereka sudah memproduksi ikan wader kalengan. Masyarakat sini memang sebagian merantau, tetapi bila tidak merantau maka banyak yang terjun ke sungai mencari ikan. Memang seperti itu, kami dijadikan makanan yang lezat untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

BACA JUGA  Pandu Hizbul Wathan Pemalang Raih juara Jambore Jawa Tengah

Di satu sisi aku senang ikan di sungai dapat menghidupi mereka. Walaupun badan ikan kecil dan kurus, tapi mengandung banyak protein. Mereka puas merasakan kelezatan seekor ikan kecil sepertiku. Dan mereka dapat hidup lebih lama. Aku pun ingat pesan Tuhan, bahwa memang apa yang ada di dalam air adalah makanan yang halal bagi manusia. Aku pun sadar diri, jikalau kehidupanku merupakan sebuah pengabdian untuk mereka, karena kehidupanku sendiri sedari awal memang diciptakan untuk kebutuhan manusia.

Pernah suatu hari kulihat anak kecil memancing di sungai ini dan dia membawa umpan cacing. Kulihat anak kecil itu kurus kering seperti kekurangan gizi. Dengan hanya bermodal kaos dalam nglewer (kendor) dan celana pendek bolong-bolong serta topi merah yang dipakainya, dia setia dan sabar menunggu kail pancingnya disambar ikan. Aku tahu dalam pikirannya, dia ingin ikan besar untuk sekedar diberitahukan pada ayah dan bundanya bahwa dia pandai memancing. Aku sadar setelah itu ikannya akan dimakan olehnya sendirian, karena itu hasil jerih payahnya sendiri. Inginku menolong anak itu supaya aku dapat mengabdi pada Tuhanku. Dengan memuaskan manusia, aku kira tujuan hidupku sudah tersampai. Tapi apa daya, mulut kecilku tak sanggup memakan umpannya. Lagi pula seperti yang kubilang, dia hanya ingin ikan besar.

BACA JUGA  Khayun Fulanun: Hizbul Wathan Pandu Terhebat se-Indonesia

Sayangnya aku tak punya teman ikan besar untuk sekedar membantu anak kecil itu. Ikan besar menjadi musuhku sendiri, yang pasti akan memakanku. Tak sanggup aku melihat penampilan anak kecil itu, sesaat kemudian aku meninggalkannya, sembari berdo’a supaya penantian dan usahanya akan dibalas oleh Sang Maha Kuasa.

AKu berenang mengikuti arus, inginku temui saudaraku atau ibu dan ayahku. Tetapi aku tak pernah menemui mereka. Aku hanya hidup dalam kelompok ikan wader yang berenang kesana kemari. Dalam kelompok ini pun kita tak saling mengenal. Ketika ada satu, dua, dan bahkan lebih ikan yang tertangkap terkena jala manusia, kita tak saling peduli. Termasuk aku, aku tak peduli siapa yang tertangkap, karena aku hanya berfikir menyelamatkan diri sendiri. Ya, walaupun aku tahu bahwa hidupku ini tak bermakna, tapi setidaknya aku ingin hidup selama mungkin.

BACA JUGA  79 Peserta Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji Dinyatakan Lulus

Suatu ketika teman segerombolanku ada yang tertangkap, tapi aku juga tak peduli karena memang mungkin sudah takdirnya. Akhirnya aku berenang sekencang mungkin untuk menjauhi jala tersebut. AKu berdo’a semoga manusia yang memakannya bahagia kenyang perutnya.

Terus aku berenang tanpa tahu arah dan terpisah dari kelompokku, masih menyendiri mencari makanan kecil karena lapar perutku. Terus berenang hingga sampai pada pinggir sungai kembali. Tiba-tiba ada manusia menangkapku dengan serok dari belakang. Jujur aku tak sadar jika di dekatku ada manusia. Aku pasrah dibawanya dan berharap tak cepat dimakan. Akhirnya ku berdo’a pada Tuhan, “Tuhan izinkanku untuk hidup sedikit lebih lama, agar lebih betarti hidupku sebagai hamba-Mu”.

Penulis: Roynaldy Saputro | Editor: Tuti Astha3

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts