Kolom

Mendidik Anak Sesuai Tuntunan Al-Qur’an

Hari-hari ini umat dan masyarakat sekaligus Mendikbudristek waspada dengan potensi learning loss pada peserta didik. Di sisi lain learning loss Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti sangat minim perhatian dari akademisi maupun tenaga pendidik.

Learning loss adalah hilangnya pengetahuan dan keterampilan akademik siswa akibat berhentinya pendidikan dalam jangka panjang. Terlebih lagi di masa disrupsi, pandemi Covid-19 dan Omicron.

Lantas bagaimana tindakan preventifnya? Mari kita mentadabburi Surat An Nisa’ (4) ayat 9, artinya : “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.”

Dan kewajiban kita meninggalkan generasi yang kuat. Generasi yang tidak mendustakan agama, tidak menghardik anak yatim, dan suka menganjurkan memberi makan orang miskin.

***

Banyak sekali anak yang memiliki ayah tetapi tidak tercukupi kebutuhan materi sehingga perkembangan tubuh dan otaknya tidak sehat; dan memiliki ibu tetapi tidak mendapatkan pengajaran yang benar tentang akal budi dan spiritual, ini yang disebut hakikat anak yatim piatu. Apakah anak kita termasuk dalam kategori anak yatim piatu secara hakikat?

Yatim–tidak memiliki ayah, ayah sebagai simbol kepala keluarga yang memberikan kecukupan duniawi/materi. Sedangkan, piatu–tidak memiliki ibu. Ibu sebagai simbol pembimbing anak dalam hal kasih sayang/non-materi.

Membangun anak yang kuat bisa diawali dari sisi spiritual, sosial, hati, pikiran dan tubuh. Dengan kecerdasan yang diharapkan, dengan mengoptimalkan otak, emosional, sosial, dan spiritual yang muaranya menjadi manusia yang tangguh dan seutuhnya sebagai generasi pembelajar sepanjang hayat.

Tubuh, gizi yang baik dan cukup. Pola hidup yang sehat yang terdiri dari pola makan, pola olah raga, pola istirahat, pola membagi waktu, pola belajar, rutinitas hidup yang sehat. Dan menjaga kesehatan, dari berbagai macam penyakit, misalnya dengan vaksinasi, makanan tambahan, ramuan herbal yang dianjurkan kesehatan.

Kita lihat Qur’an Surat ‘Abasa, surat ke-80 ayat 24, artinya : “Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Surat Taha, surat ke 20 ayat 81, Makanlah dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Barangsiapa ditimpa kemurkaan-Ku, maka sungguh, binasalah dia.”

***

Apakah fungsi pikiran itu? Pikiran, imajinasi, ide/gagasan, sensasi/perasaan dan keinginan. Pikiran bisa positif, penting dan manfaat. Petik praktik baik dalam kehidupan sehari-hari, misalnya menjauhi pembicaraan yang tidak penting. Selalu menciptakan pikiran yang positif. Selalu mengerjakan pekerjaan yang bermanfaat dan setiap hari harus lebih baik.

Dalam Surat Al Mu’minun (23: 3) disebutkan, “Dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna. Kemudian dalam Surat An Nisa (4: 114), “Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barangsiapa berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar.”

Tiga pilar kecerdasan spiritual, sholat dan berdo’a. sedekah setiap lapang maupun sempit. Dan berbuat baik kepada semua orang, lebih-lebih di tengah pagebluk saat ini, yang dampaknya mewujudkan kasih sayang sesama anak bangsa.

Rasulullah Saw. menganjurkan umat agar menyukai bertafakur, demikian Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali menulis di kitab Al-Munqizh Min Al-Dhalal yang diterjemaahkan KH. R. Abdullah Bin Nuh dengan judul “Tafakur Sesaat Lebih Baik daripada Ibadah Setahun.”

***

Al-Qur’an Surat At Talaq (65: 7), “Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani kepada seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.”

Al-Qur’an Surat An Nahl (16: 128), “Sungguh, Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Tingkatan pikiran dimulai yang paling rendah, nakal perbuatan setan, negatif, sia-sia, biasa, positif, murni dan ketuhanan. Sedangkan, hati yang lapang, bersih dan kasih sayang. Kotoran di hati, bisa berwujud kemarahan, kebencian, kesombongan, iri dengki, mementingkan diri sendiri, kekecewaan, dendam, licik dan serakah.

Kalau hati tidak ingin kotor, praktik dalam kehidupan sehari hari bisa dengan berbuat baik, sedekah, memaafkan orang lain, mohon ampun, membuka hati, beribadah dan membaca kitab suci Al-Qur’an 5 ayat dengan terjemahannya.

Baca juga, SD Muhammadiyah 1 Ketelan Terima Buku Prosiding Webinar Guru Penggerak

Al-Qur’an Surat Maryam (19: 96), “Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak (Allah) Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa kasih sayang (dalam hati mereka).”

Al-Qur’an Surat Ali Imran (3: 133-135), “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan, dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.”

***

Anak yang bijaksana, kita lihat Al-Qur’an Surat Ali Imran (3: 110), “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.”

Mendidik anak generasi kekinian baik generasi Baby Boomers, X, Y, Z, Millenials, dan Alpha solutifnya adalah dengan keteladanan. Al-Qur’an surat al Baqarah (2: 44), Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?

Al-Qur’an surat As Saff (61: 2-3), “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Dulu aku merasa dapat mengubah dunia, ternyata aku tidak sanggup. Dulu aku merasa dapat mengubah masyarakat, ternyata aku tidak mampu. Dulu aku merasa dapat memperbaiki keluargaku, ternyata aku tidak bisa. Dulu aku merasa mampu merubah anak-anakku, ternyata mereka tidak berubah juga. Lalu aku merasa semua harus dimulai dari diriku sendiri. Ternyata akupun tidak mampu. Setelah aku sadar, merubah diriku pun tidak sanggup, barulah aku bertafakur di hadapan Allah, Tuhanku yang Maha Esa Allah Swt., yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, hanya Dia lah yang sanggup merubah diriku, untuk kemudian dipergunakan-Nya aku untuk menginspirasi orang lain, termasuk anak-anakku.

Penulis : Dwi Jatmiko, Guru al Qur’an Kelas Bawah (123), Wakasek Bidang Humas Sekolah Penggerak SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE