KH. Tafsir: Tafsir Al Hujurat Ayat 13

KH Tafsir, Ketua PWM Jawa Tengah
KH Tafsir, Ketua PWM Jawa Tengah

Surah Al Hujurat ayat 13 lebih sering kita dengar sebagai ayat yang menjelaskan tentang penciptaan manusia; relasi manusia; kesetaraan gender; persatuan dan kesatuan; dsb. Namun, kali ini penulis ingin melukiskan tafsir Surah Al Hujurat ayat 13 ini dalam bingkai dakwah Islam.

KH. Tafsir pernah menuturkan, bahwa Al Hujurat ayat 13 ini menjadi dasar dalam berdakwah. Menurut metodologi, dakwah sendiri terdapat berbagai macam cara. Merujuk Surah An Nahl ayat 125 :

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

 Ayat ini menggambarkan, bahwa seruan (دعا– يدعوا – دعوة) dapat dilaksanakan bil hikmah (nasehat yang baik), mau’idhoh hasanah (dialog/ceramah), maupun mujadalah (diskusi/berdebat dengan baik). Al Hujurat ayat 13 sendiri, seyogyanya mampu di implementasikan dalam setiap metodologi, objek dan lokasi dakwah.

BACA JUGA  Majelis Dikdasmen Lantik 91 Kepala Sekolah Muhammadiyah Se Jateng
***

Sebelumnya, mari kita simak Surah Al Hujurat ayat 13,

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Dalam ayat ini, menurut KH. Tafsir, terdapat beberapa hal yang harus dipahami terlebih dahulu sebelum ataupun ketika melakukan dakwah.

Pertama, ayat ini diawali dengan seruan secara ‘am atau umum yakni dengan frasa يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ. Hal ini menandakan bahwasanya sebelum atau ketika berdakwah, seorang dai harus لِتَعَارَفُوْا mengenal (memahami) manusianya (نَّاسُ) terlebih dahulu.

Bahkan menurut beliau, dakwah harus memahami manusia. Memahami seperti apa? Memahami di sini menurut hemat penulis diartikan sebagai memahami karakteristik dan sosiokultur manusia sebagai objek dakwah itu sendiri.

BACA JUGA  Muhammadiyah Jateng Segera Dirikan Tiga Stasiun TvMu

Kedua, masih berkaitan dengan poin diatas, KH Tafsir menyampaikan bahwa tidak cukup hanya memahami manusia. Lantas apa segmen lain yang harus dipahami? Hal ini diperjelas pada frasa شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ. Dalam memahami objek dakwah, perlu juga memahami bangsa; kelompok; dan sukunya.

Namun sebelumnya, frasa memahami pada ayat ini bukan hanya just know namun lebih dari itu memahami di sini berarti memahami kultur dan budayanya (عرف).

***

Manusia sebagai objek dakwah, dalam buku Dakwah Kultural Muhammadiyah yang disusun oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah disebutkan memiliki empat kedudukan, diantaranya :

  1. Homo religius
  2. Homo budaya
  3. Homo festivus
  4. Homo simbolikus

Artinya, seorang dai ataupun mubalig perlu memahami empat kedudukan manusia ini dan berkreasi untuk menciptakan dakwah yang sesuai dengan manusia itu sendiri.

BACA JUGA  Siswa-Siswi SD Aisyiyah Slawi menghafal 2 juz Al-Qur'an

Seorang dai atau mubalig harus mempersiapkan konten-konten keagamaan yang akan ia sampaikan. Selain itu ia harus memanfaatkan budaya yang masyarakat miliki dan berkreasi untuk menciptakan budaya baru sebagai sarana dakwah.

Dai atau mubalig juga perlu memanfaatkan “pesta rakyat” yang masih sangat erat dengan kultur masyarakat, khususnya di Indonesia. Dan terakhir, dai atau mubalig perlu memanfaatkan simbol-simbol kegamaan dan menciptakan simbol-simbol baru agar lebih memudahkannya dalam syiar.

Tentunya, ketika kita bicara soal budaya dan kultur masyarakat, seorang dai atau mubalig harus mampu menyaring mana saja yang masih bisa diakulturasi, mana saja yang bertentangan dengan aqidah dan tidak bisa dikawinkan dengan konten dakwah.

Nashrun minnallah wa fathuun qoriib.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts