Kolom

Ketika Depresi Dianggap Akibat Kurang Ibadah, Apa yang Sebaiknya Dilakukan Keluarga?

Ketika depresi dianggap kurang ibadah, percakapan di rumah sering berbelok. Seorang anak bilang ia kewalahan, lalu jawaban yang datang lebih dulu adalah anjuran untuk memperbanyak salat dan zikir. Niatnya biasanya baik. Namun, yang sampai ke telinga si anak kerap berbeda: keluhannya dianggap soal iman, padahal ia sedang membutuhkan pertolongan.

Lalu apa yang sebaiknya dilakukan keluarga? Dengarkan lebih dulu, tawarkan untuk menemani, dan bantu mencari tenaga profesional bila perlu. Kementerian Kesehatan meringkasnya menjadi empat langkah: Tanya, Dengarkan, Temani, dan Hubungkan. Ibadah tetap boleh menjadi sandaran, tetapi tidak menggantikan pemeriksaan kesehatan.

Kebutuhan akan pertolongan itu besar. Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dikutip Kemenkes pada 9 Oktober 2026, dari sekitar tiga juta penduduk dengan depresi, baru 12,7 persen yang mendapatkan pengobatan. Angka ini tidak menunjukkan bahwa nasihat keagamaan membuat orang terlambat berobat, tetapi cukup untuk memperlihatkan bahwa jalan menuju bantuan memang belum mudah.

Saat Nasihat Terasa seperti Penilaian

Menemani seseorang berdoa dan mengatakan bahwa ia sakit karena kurang dekat dengan Allah adalah dua hal yang berbeda. Yang pertama bisa menjadi dukungan yang memang ia harapkan. Yang kedua membuat keluhannya terasa diabaikan.

Ambil contoh rekaan berikut. Seorang siswa SMA sudah berminggu-minggu sulit tidur dan berhenti mengikuti kegiatan yang dulu ia sukai. Ibunya berkata, “Kamu pasti kurang ibadah.” Siswa itu mungkin hanya mengangguk, lalu berhenti bercerita. Seandainya sang ibu berkata, “Ibu mau dengar dulu. Ada yang bisa Ibu bantu?”, percakapan masih terbuka dan kebutuhan anaknya baru bisa diketahui.

Cara berbicara dengan anak seperti ini juga menjadi perhatian para orang tua di Jawa Tengah. Hal tersebut tercermin dalam kegiatan edukasi kesehatan mental remaja di SMPN 39 Semarang pada 16 Oktober 2026. Dalam kegiatan tersebut, dosen keperawatan jiwa Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) memberikan materi pengenalan emosi dan komunikasi asertif kepada 135 wali murid dan 10 guru. Meski tidak secara khusus membahas stigma agama, kegiatan ini memperlihatkan pentingnya membekali orang tua dengan cara berkomunikasi yang lebih baik bersama anak.

Dengarkan Dulu, Baru Tentukan Langkah

Keluarga tidak dituntut menjadi terapis. Dalam keterangan resmi pada September 2026, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengajak masyarakat memulai dari empat hal sederhana: menanyakan keadaan orang yang tampak berubah, mendengarkan ceritanya tanpa menghakimi, menemaninya agar tidak merasa sendirian, dan menghubungkannya dengan keluarga lain atau tenaga profesional bila membutuhkan bantuan.

Bertanyalah dengan ringan, bukan seperti menginterogasi. Saat ia bercerita, simpan dulu daftar kesalahan yang ingin Anda sampaikan. Jika ia belum siap, katakan bahwa ia boleh datang kapan saja. Memaksanya mengaku, atau menuntut bukti bahwa keluhannya cukup berat, hanya akan membuatnya menutup diri.

Setelah itu, tawarkan bantuan yang konkret: “Kalau kamu mau konsultasi, aku bisa bantu cari tempatnya,” atau “Mau kutemani buat janji?” Tawaran seperti ini membuat orang yang sedang kesulitan tetap ikut menentukan langkahnya sendiri.

Panduan WHO untuk keluarga yang mendampingi orang dengan depresi sejalan dengan itu: dengarkan tanpa menghakimi dan tawarkan diri untuk menemani konsultasi. Doa atau ibadah bersama boleh ditawarkan bila ia mau, tetapi jangan dijadikan syarat sebelum ia dibantu.

Depresi Bukan Ukuran Keimanan

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), depresi muncul dari interaksi faktor biologis, psikologis, dan sosial. Kehilangan, peristiwa traumatis, tekanan hidup, dan kondisi kesehatan fisik bisa ikut berperan. Karena itu, rajin atau tidaknya seseorang salat dan mengikuti pengajian tidak bisa dipakai untuk mendiagnosisnya.

Depresi juga berbeda dari sedih sehari-hari. WHO menjelaskan bahwa gejalanya, seperti suasana hati tertekan atau hilangnya minat, berlangsung hampir sepanjang hari, hampir setiap hari, setidaknya dua minggu, dan disertai gejala lain. Keterangan ini untuk membantu memahami, bukan untuk mendiagnosis diri sendiri atau anggota keluarga.

Orang yang tetap bekerja dan beribadah belum tentu baik-baik saja. Sebaliknya, orang yang sedang sedih belum tentu mengalami depresi. Hanya pemeriksaan yang dapat memastikannya, bukan tebakan keluarga dari perilaku keagamaan.

Pandangan Muhammadiyah: Ibadah Menjadi Sandaran, Pengobatan Tetap Ikhtiar

Dalam Pengajian Tarjih Muhammadiyah pada Desember 2025, Rof’ah, anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, mengingatkan agar gangguan mental tidak disederhanakan menjadi persoalan iman. “Karena itu, iman dan ibadah merupakan pelindung, bukan satu-satunya penyebab maupun penyelesaian,” ujarnya. Ini pernyataan narasumber dalam pengajian, bukan kutipan keputusan fatwa Majelis Tarjih.

Bagi keluarga, pesannya cukup jelas. Doa, zikir, dan ibadah dapat menguatkan orang yang menjalaninya, sementara depresi sebagai kondisi kesehatan tetap perlu dinilai dan ditangani sesuai kebutuhan orangnya. Keduanya tidak perlu dipertentangkan, apalagi sampai sakit seseorang dipakai untuk mengukur imannya.

Di lingkungan Muhammadiyah, perhatian pada kedua sisi itu sudah tampak. Buku Panduan Holistic Health Care (Psycho Spiritual Health Care) yang terbit pada 2015 memadukan perhatian medis, psikologis, dan spiritual dalam pendampingan pasien di rumah sakit Muhammadiyah/‘Aisyiyah. Pada April 2026, upaya akademisi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dalam mengembangkan pendekatan Behavioral Activation for Muslim dan Islamic Mindfulness Model menjadi salah satu langkah untuk menyesuaikan dukungan psikologis dengan nilai-nilai yang dekat dengan pasien Muslim. Namun, keduanya masih menunjukkan arah pengembangan. Pedoman belum tentu diterapkan secara seragam di seluruh rumah sakit, sementara model yang diperkenalkan dalam forum akademik belum otomatis menjadi pengobatan standar. Penerapannya tetap harus didasarkan pada asesmen profesional dan bukti ilmiah.

Kapan Keluarga Perlu Mencari Pertolongan Profesional?

Bila perubahan pada emosi, tidur, nafsu makan, energi, atau minat terus berlangsung dan mulai mengganggu sekolah, pekerjaan, atau hubungan dengan orang lain, ajaklah ia berkonsultasi. Tidak perlu menunggu sampai ia benar-benar tidak sanggup beraktivitas.

Dokter spesialis kedokteran jiwa RS Muhammadiyah Kota Bandung, Gemah Nuripah, mengingatkan, “Jangan menunggu sampai kondisi menjadi sangat berat.” Dalam penjelasannya pada 15 Oktober 2026, ia juga menerangkan bahwa psikolog dan psikiater memiliki peran yang saling melengkapi. Berkonsultasi dengan psikiater pun tidak selalu berakhir dengan pemberian obat, sebab penanganan disesuaikan dengan hasil pemeriksaan.

Jika seseorang menyatakan ingin bunuh diri, menyakiti dirinya sendiri, atau menunjukkan tanda bahaya lain yang mengancam keselamatannya, jangan anggap itu sekadar cari perhatian. WHO menganjurkan agar orang yang berisiko langsung tidak ditinggalkan sendirian dan segera dihubungkan dengan layanan darurat atau tenaga kesehatan. Dahulukan keselamatannya; jangan menunda pertolongan demi mencoba nasihat lain lebih dulu.

Bantuan Bisa Dimulai dari Puskesmas dan Layanan Daring

Tidak semua keluarga mudah menjangkau psikiater. Kemenkes pada Oktober 2026 menyebut 6.549 puskesmas di seluruh Indonesia, sekitar 64 persen dari total puskesmas, sudah mampu memberikan layanan kesehatan jiwa. Jadi, puskesmas bisa menjadi titik awal, meski ketersediaan layanannya tetap perlu dicek di puskesmas masing-masing.

Hambatannya juga datang dari sisi layanan. Data Kemenkes per 1 September 2026 mencatat 1.495 psikiater di Indonesia; dari 3.513 psikolog klinis yang terdata, 213 bertugas di puskesmas. Dengan angka itu, kesenjangan pengobatan tidak adil jika hanya dibebankan pada keyakinan atau pilihan pribadi pasien dan keluarga.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah meluncurkan Layanan Online Psikolog Gratis (LOGIS) pada 2 Juli 2026. Layanan ini diumumkan dapat diakses lewat aplikasi JNN Ext 2, dengan dukungan psikolog dari delapan rumah sakit milik provinsi. Sebelum memakainya, periksa dulu ketersediaan dan prosedur terbarunya di kanal resmi Pemprov atau Dinas Kesehatan Jawa Tengah.

Untuk dukungan psikologis awal, Kemenkes menyediakan Healing119.id, yang bisa diakses lewat 119 ekstensi 8 atau fitur percakapan di situs resminya. Layanan ini ditujukan bagi orang yang sedang tertekan atau berada dalam krisis psikologis dan dapat membantu rujukan; layanan ini bukan terapi jangka panjang. Dalam keadaan gawat darurat yang mengancam keselamatan, segera ke IGD atau hubungi layanan darurat medis PSC 119.

Keluarga tidak perlu menguasai istilah kesehatan mental untuk mulai membantu. Dengarkan keluhannya, jangan menyalahkan imannya, dan temani ia mencari pertolongan. Kalau masih bingung harus mulai dari mana, antar ia ke puskesmas terdekat dan temani sampai urusannya jelas.


Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

situs slottotoslotpkv gameslk21slot777slot777slottoto 4dslot thailandslotslot gacor hari inislot gacorslot gacorslot thailandzonawin777zonawin777zonawin777slot777link slot gacor hari initoto 4dsitus totoslot gacorzonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777Zonawin777Zonawin777Zonawin777zonawin777zonawin777Zonawin777Zonawin777Zonawin777Zonawin777Zonawin777tempur777slot gacorslot gacorslot gacorslot gacorslot gacoratatotoatatotototo 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtogel 4dtogel 4datatotototo 4dtoto 4dtoto 4datatotototo 4dtoto 4dligabolapkv gamespkv games