Sudah Lelah, Tetapi Mengapa Kita Masih Terus Scrolling?

Niatnya hanya mengecek satu kabar. Beberapa menit kemudian, layar sudah penuh berita buruk, debat di kolom komentar, dan unggahan teman yang tampaknya selalu selangkah di depan. Mata perih, jempol jalan terus, jam istirahat ikut terpotong. Kebiasaan menggulir kabar yang meresahkan tanpa henti ini dikenal sebagai doomscrolling.
Sering kali penyebabnya dianggap sepele: kurang disiplin memegang HP. Penjelasannya ternyata lebih berlapis. Ada yang terus membaca karena takut ketinggalan, ada pula yang berharap kabar berikutnya akan membuat keadaan lebih jelas. Sebuah penelitian dari Semarang menguji sebagian teka-teki ini.
Yang Ditemukan Peneliti di Semarang
Salfatya Santoso dan Abdullah Azzam Al Afghani dari UIN Walisongo Semarang menyurvei 150 anak muda Gen Z yang aktif bermedia sosial. Studi mereka di jurnal Psikodimensia terbit pada Juni 2026, dengan data yang dikumpulkan lewat kuesioner pada November 2025. Yang diukur adalah doomscrolling, fear of missing out (FOMO), dan emosi negatif (negative affect), yakni pengalaman seperti rasa takut, gelisah, dan marah.
Hasilnya, doomscrolling dan FOMO sama-sama berhubungan positif dengan emosi negatif. Bersama-sama, keduanya menjelaskan 19,5 persen variasi skor emosi negatif responden. Angka itu tidak berarti 19,5 persen Gen Z mengalami gangguan kecemasan, sebab skor dalam penelitian ini bukan diagnosis klinis.
Yang menarik, koefisien beta terstandar FOMO (0,308) lebih besar daripada doomscrolling (0,208). Dalam model ini, takut tertinggal kabar atau pengalaman sosial lebih kuat berkaitan dengan emosi negatif, meski selisihnya tidak membuktikan bahwa FOMO lebih berbahaya.
Dari 150 responden, 66 berasal dari Jawa Tengah. Namun sampelnya dipilih menurut kriteria tertentu, bukan secara acak, sehingga tidak mewakili seluruh Gen Z Jawa Tengah, apalagi Indonesia. Peneliti juga mencatat bahwa uji normalitas residual tidak terpenuhi; analisis dilanjutkan setelah pemeriksaan grafik. Hasil ini layak dibaca sebagai petunjuk arah.
Doomscrolling dan FOMO: Dua Kebiasaan yang Sering Bertemu
Bayangkan dua orang. Yang pertama berulang kali membuka Instagram karena takut melewatkan kabar teman, acara kampus, atau info lowongan. Yang kedua membaca pembaruan tentang konflik atau bencana sampai larut malam, padahal setiap berita membuatnya makin tidak nyaman.
Orang pertama dekat dengan FOMO, yaitu kekhawatiran tertinggal informasi atau pengalaman sosial orang lain. Orang kedua sedang doomscrolling: terus menggulir dan menyerap konten negatif atau mengkhawatirkan. Keduanya bisa saling menguatkan. Keinginan untuk selalu tahu membuat kita bertahan lebih lama di aplikasi, lalu menemukan hal-hal yang membuat kita khawatir. Tentu tidak semua scrolling tergolong doomscrolling.
Kenapa Kabar yang Meresahkan Sulit Ditinggalkan
Salah satu penjelasannya adalah ketidakpastian. Ketika membaca kabar yang mengkhawatirkan, kita ingin tahu kelanjutannya: apakah keadaan membaik, adakah informasi baru, perlukah bersiap. Membuka layar menjadi cara mencari pegangan, walau hasilnya belum tentu menenangkan.
Penelitian Tuğba Türk-Kurtça dan Metin Kocatürk di Personality and Individual Differences (2025) melibatkan 443 responden. Mereka menemukan bahwa kesulitan menerima ketidakpastian berhubungan positif dengan doomscrolling, sedangkan ketahanan psikologis berhubungan dengan kecenderungan doomscrolling yang lebih rendah. Ini hubungan, bukan urutan sebab-akibat yang pasti.
Masalahnya, satu jawaban sering melahirkan pertanyaan baru, dan lini masa tidak pernah menyediakan titik akhir. Aktivitas yang dimaksudkan agar kita lebih siap justru memakan waktu istirahat. Meski begitu, bagi sebagian orang media sosial memang membantu mencari dukungan atau informasi yang dibutuhkan.
Cemas Dulu atau Scrolling Dulu?
Dugaan paling mudah: media sosial membuat orang cemas. Bisa jadi urutannya terbalik. Orang yang sudah gelisah lebih sering membuka aplikasi untuk mengalihkan pikiran, mengikuti kabar, atau mencari teman bicara.
National Mental Health Commission Australia, dalam kajian 1 Oktober 2026 tentang pengalaman digital anak dan kaum muda usia 5-25 tahun, mencatat lebih banyak temuan bahwa gejala kesehatan mental mendahului peningkatan penggunaan teknologi, terutama media sosial, daripada sebaliknya. Laporan itu tetap mencatat pengalaman negatif, konten berbahaya, dan sulitnya berhenti sebagai risiko yang dialami sebagian anak muda. Konteksnya Australia, jadi tidak bisa langsung dipakai untuk Indonesia.
Tinjauan sistematis Joint Research Centre Komisi Eropa (Mei 2026) atas 55 penelitian longitudinal dan eksperimental menunjukkan gambaran serupa. Durasi penggunaan media sosial tidak memperlihatkan satu pola untuk semua orang, sementara penggunaan bermasalah dan pengalaman negatif lebih konsisten berkaitan dengan kesehatan mental.
Jadi menghitung jam layar saja belum cukup. Lebih berguna bertanya: apa yang kita lihat, mengapa kita terus kembali, dan bagaimana dampaknya pada tidur serta aktivitas harian.
Tekanan di Luar Layar
Meletakkan ponsel tidak otomatis menghilangkan masalah. Tenggat tugas tetap menunggu, lulusan baru masih memikirkan pekerjaan, dan unggahan teman tentang beasiswa atau karier mudah berubah menjadi bahan perbandingan yang melelahkan.
Di lingkungan kita pun ada versinya sendiri: grup WhatsApp yang tak berhenti berbunyi, kabar duka dan musibah yang beredar cepat, tangkapan layar yang dibagikan sebelum jelas kebenarannya. Menyebut semua itu soal kurang disiplin terlalu menyederhanakan.
Di rumah dan sekolah, pertanyaan “berapa jam main HP?” tetap berguna. Tetapi percakapan bisa dilanjutkan: apa yang sedang dicari anak di layar, adakah yang membuatnya khawatir, dan apakah ia merasa cukup aman untuk bercerita?
Tabayyun untuk Lini Masa Kita
Fikih Informasi yang ditanfidzkan Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada 2025 memuat prinsip selektivitas dan kehati-hatian (al-ihtiyat), keseimbangan informasi, serta rasionalitas dan proporsionalitas. Intinya: memilah informasi, bersikap kritis, bertabayyun, dan tidak terburu-buru bereaksi.
Prinsip itu semula berbicara tentang etika menerima, menyampaikan, dan mengelola informasi. Dibawa ke kebiasaan digital pribadi, pertanyaannya menjadi sangat praktis: perlukah semua kabar kita ikuti sekarang, dan sepadankah perhatian yang kita berikan dengan manfaatnya?
Kapan Cukup Berhenti Sejenak, Kapan Perlu Bantuan
Lihat dampaknya, bukan hanya lamanya. Kalau scrolling terus menggeser jam tidur, mengacaukan konsentrasi belajar, atau membuat kita berkali-kali kembali ke kabar yang menggelisahkan, kebiasaan itu perlu dievaluasi. Beberapa langkah kecil, menurut pemicunya:
- Pemicunya berita buruk: tentukan waktu khusus untuk mengikuti perkembangan, lalu berhenti ketika informasi yang dibutuhkan sudah didapat.
- Pemicunya perbandingan dengan pencapaian orang lain: rapikan akun yang diikuti dan jeda dari unggahan yang selalu memicu.
- Tidur mulai terganggu: letakkan ponsel di luar jangkauan saat bersiap istirahat.
Panduan pengelolaan stres WHO sejalan dengan langkah-langkah itu: membatasi waktu mengikuti berita bila menambah stres, mengurangi perangkat elektronik menjelang tidur, dan menjaga hubungan dengan orang yang dipercaya. Keluarga dan pendidik dapat membantu dengan mendengarkan alasan seseorang terus berada di layar sebelum menilainya malas.
Namun kecemasan yang menetap, sulit dikendalikan, dan mulai mengganggu tidur, belajar, pekerjaan, atau hubungan sosial tidak cukup diatasi dengan mengurangi scrolling. WHO menjelaskan bahwa gangguan kecemasan memerlukan penilaian dan dapat ditangani lewat layanan profesional. Jika gejala memburuk atau menghambat keseharian, temui psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan yang kompeten.
Layar akan selalu menawarkan sesuatu yang baru. Sebelum menggulir lagi, coba tanyakan dua hal: informasi apa yang benar-benar kita butuhkan sekarang, dan apa yang bisa menunggu sampai besok? Biasanya, yang perlu diketahui saat ini lebih sedikit daripada yang kita kira.
Referensi:
- Santoso & Al Afghani (2026), Psikodimensia: studi Gen Z, doomscrolling, FOMO dan emosi negatif
- Türk-Kurtça & Kocatürk (2025), Personality and Individual Differences: ketidakpastian dan doomscrolling
- National Mental Health Commission Australia (1 Oktober 2026): pengalaman digital dan kesehatan mental kaum muda
- Joint Research Centre, European Commission (18 Mei 2026): tinjauan sistematis 55 penelitian
- Pimpinan Pusat Muhammadiyah (2025), Fikih Informasi, Berita Resmi Muhammadiyah hlm. 61-62
- WHO (2026): panduan stres
- WHO (2026): lembar fakta gangguan kecemasan
Editor: Al-Afasy



