Belajar Kehidupan dari Budidaya Lele Sistem Bioflok ala Ponpes Asy-Syifa’ Jepara

0
1222

PWMJATENG.COM, JEPARA – Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa’ Muhammadiyah Blimbingrejo yang beralamat di Desa Blimbingrejo Kec Nalumsari Kab Jepara akhir-akhir ini sedang menjadi perbincangan warga Muhammadiyah. Ponpes tersebut selama ini ternyata mendapatkan bantuan budidaya ikan lele sistem bioflok dari pemerintah. Pengelola budidaya ikan lele yaitu Bapak Santoso ketika kami temui menceritakan bahwa sekitar 9 bulan yang lalu atau kurang lebih tepatnya sejak Bulan Desember 2017 pondok tersebut mendapat bantuan budidaya ikan lele sistem bioflok dari pemerintah (Kementrian Kelautan dan Perikanan).

Beliau melanjutkan, bantuan ini bermula dari Ustadz Hery Huzaery S.T M.PI yang mendapat informasi tentang bantuan budidaya lele dari kementrian. Dengan cepat beliau meminta bantuan ke ustadz lain untuk membuatkan proposal. Dan alhamdulillah proposal diterima sehingga berhak mendapatkan bantuan tersebut. Dalam perjalanannya, Ustadz Hery diundang untuk mengikuti pelatihan pengelolaan bantuan tersebut di Sukabumi. Selepas itu banyak kendala yang dihadapi di kemudian hari. Mulai dari lahan dan bagaimana mengoperasikan bantuan ini. Padahal pemerintah/kementrian hanya memberikan bibit lele, perlengkapan kolam, dan pakan selama satu kali panen lele. Maka rapat pun segera diadakan, lalu dibentuklah panitia, dan akhirnya diambillah keputusan untuk membeli lahan baru. Seiring berjalannya waktu, lahan yang masih berupa sawah ditimbun dengan tanah yang dibeli dari utara desa, dan dengan semangat gotong royong warga sekitar pondok menimbun sawah tersebut, sehingga lahan bisa disiapkan. Kemudian pihak pondok juga mengirimkan calon pengelola yaitu Bapak Santoso untuk belajar ke Muhammadiyah Boarding School (MBS) Yogyakarta yang sudah terlebih dahulu mendapatkan bantuan ini.

Bapak Santoso menjelaskan bahwa bantuan ini terdiri dari 12 kolam yang mempunyai diameter 1,5 meter dan masing-masing terisi 3.000 bibit lele, dengan total 36.000 bibit lele, dan beberapa karung pakan lele, serta perlengkapan lainnya.

“Hanya dalam waktu 2-3 bulan lele sudah bisa dipanen. Banyak warga yang datang untuk membeli karena menurut mereka lele dengan sistem bioflok ini dagingnya lebih gurih. Apalagi lele ini bersih, karena pakannya adalah pakan ikan asli. Selain dijual, lele ini juga menjadi konsumsi santri-santri kami. Sampai hari ini, kami sudah panen 1 kali sebanyak 12 kolam lele. Dan alhamdulillah pula lelenya sangat bermanfaat bagi pondok dan warga sekitar. Kami jual per kilonya Rp. 20.000,- ada yang isi 8 ekor dengan ukuran sedang dan 3 ekor jika ukurannya besar. Pada dasarnya budidaya lele ini tidak dikelola oleh santri pondok secara langsung. Akan tetapi santri pondok juga sangat berperan dalam membantu operasional budidaya ini. Santri ikut memonitoring lele dan kadang memberi pakan lele seizin dari penanggungjawab pengelola. Selain dari pada itu, akhir-akhir ini kami mengajarkan beberapa santri untuk memanen lele, menyembelih lele dan berjualan lele. Dengan adanya kolam lele sistem bioflok ini, santri-santri akan belajar mandiri. Apalagi pondok membawa visi entrepreuneurship, sehingga ketika panen (seperti kemarin), santri mampu belajar untuk mengelola jual beli yang sedang berlangsung.”, ungkap Ust. Hery Huzaery di lain kesempatan.

Tidak hanya sebagai penumbuh kesadaran berwirausaha santri, kolam lele ini pun menjadi ajang pembelajaran yang cukup diminati. Seperti beberapa Sekolah Dasar (SD) sudah menghubungi pengelola untuk mengadakan kunjungan belajar. Selain belajar tentang sistem bioflok ini, nantinya siswa-siswi SD pun dapat lebih mengenal apa itu lele, dan dapat merasakan perbedaan lele sistem bioflok dengan lele yang bersistem lain. (*)

Oleh: Roynaldy Saputro | Editor: Tri Hastuti