BeritaKolom

Basis Nilai Sejarah Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) bagi AUM Kesehatan

Basis Nilai Sejarah Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) bagi AUM Kesehatan

Oleh : Rudi Pramono, S.E.*

PWMJATENG.COM – Dalam sejarah pergerakan KH Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah, selain menggarap bidang pendidikan juga bidang kemanusiaan. Dalam bidang kemanusiaan, KH Ahmad Dahlan sangat termotivasi oleh QS Al Ma’un sebagaimana dikemukakan oleh Mas Mansyur pada tahun 1916 ataupun diungkapkan oleh Muhammad Natsir dalam Panji Islam ataupun Pedoman Masyarakat 1938.

Haji Suja’ meriwayatkan bagaimana Ahmad Dahlan tidak menambah pelajaran karena surat tsb belum dilaksanakan oleh para muridnya, sebuah wasiat Dahlan yang disampaikan pada para muridnya : “Mengoempoelkan ilmu, nazar dan oeang itu karena hendak diambil fedahnya dan karena hendak diratakan.” (MT Arifin, Muhammadiyah potret yang berubah (Surakarta, SM, Mei 2016)

Dalam buku tersebut juga diceritakan tindakan Kiai Dahlan merupakan refleksi terhadap melaratnya pribumi akibat kolonialisme dan menipisnya kegotongroyongan masyarakat untuk mengatasi kesengsaraan tersebut.

Dalam usaha menumbuhkan kesadaran dan beramal kaum kaya, ada anekdot menarik. Dari pengalaman para murid Ahmad Dahlan, pada suatu hari Dahlan mengundang teman-temannya yang tergolong mampu diajak pesta di Kauman, selama beberapa kali sehingga mereka terheran-heran dan bertanya-tanya, akhirnya Dahlan menjelaskan bahwa tujuan pesta itu untuk menerangkan surat Al Ma’un. Karena sudah beberapa kali menyantap hidangan yang disuguhkan akhirnya mereka tidak enak hati mengeluarkan uangnya untuk dana kegiatan sosial dalam mengatasi kemalangan yang diderita orang miskin dan anak telantar. Mengaji tidak hanya berhenti di tingkat kognitif tapi diteruskan dalam pelaksanaan riil dalam bentuk aksi nyata, oleh Mas Mansyur ini satu penafsiran baru tentang Al Qur’an.

Baca juga, Penggunaan Biji Tasbih untuk Berzikir, Bid’ahkah?

Keprihatinan Dahlan terhadap menipisnya solidaritas sosial merupakan salah satu masalah yang dipertanyakan Abduh dan Ridha dalam tulisan-tulisan yang sering dimuat dalam majalah Al Manar. Keresahan itu bertitik tolak dari kenyataan bahwa ternyata ilmu fiqih yg dikembangkan dalam pendidikan hanya sedikit sekali yang membicarakan masalah harta benda, padahal Islam banyak memperhatikan hal tersebut. Al Qur’an menganjurkan agar orang membelanjakan harta di jalan Allah (fisabilillah), bahwa ketimpangan ekonomi merupakan ketidakadilan kemiskinan mengakibatkan kebodohan dan kefakiran bisa mengarah kekafiran.

Sebuah ukuran sosial yang sejak awal selalu Muhammadiyah sampaikan kepada para anggotanya: Janganlah kamu berteriak-teriak sanggup membela agama mengorbankan jiwa raga sekalipun. Jiwamu tidak usah kamu tawarkan. Kalau Tuhan menghendaki entah dengan jalan sakit atau tidak tentu akan mati, tapi beranikah kamu menawarkan harta bendamu untuk kepentingan agama? Itulah yang diperlukan waktu sekarang.

Pada tahun 1918 Haji Suja’ memelopori terbentuknya Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) untuk meringankan penderitaan korban letusan gunung Kelud, menanggulangi kebakaran di Yogyakarta, menampung 19 orang yang kehilangan rumah, membangun rumah jompo, yatim piatu, mendidik spiritual, ilmu dan moralnya, perawatan jenazah, musafir, zakat fitrah dan qurban untuk duafa bukan untuk kaum/modin, perputaran harta untuk ekonomi, mengecam orang bermewah-mewah berada di tengah masyarakat yang memerlukan derma, pada tahun 1923 mendirikan poliklinik sebagai embrio Rumah Sakit Muhammadiyah di Solo, Surabaya, Malang, dan Tegal.

Inilah Basis Nilai Sejarah PKO sebagaimana diputuskan dalam Muktamar ke 46 Yogyakarta pada Juli 2010 Visi Muhammadiyah bidang Kesehatan : “Berkembangnya fungsi pelayanan kesehatan dan kesejahteraan yang unggul dan berbasis Penoeloeng Kesengsaraan Oemoem (PKO) sehingga mampu meningkatkan kualitas dan kemajuan hidup masyarakat khususnya kaum dhuafa sebagai wujud aktualisasi dakwah Muhammadiyah.” Wallahua’lam.

*Ketua MPI PDM Wonosobo.

Editor : M Taufiq Ulinuha

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE