BeritaKolom

Al-Ma’un (2)

Al-Ma’un (2)

Oleh : Ikwanushoffa*

PWMJATENG.COM –  Pada waktu H. Fakhruddin sudah diangkat menjadi salah satu pimpinan Hoofd Bestuur (Pimpinan Pusat) Muhammadiyah (Bahagian Tabligh), beberapa lama H. Fakhruddin tidak muncul. Oleh KHA Dahlan ia dipanggil dan ditanya oleh KHA Dahlan, “Fakhruddin, ada kesibukan apa. Selama ini kamu tidak kelihatan?”

Jawab H. Fakhruddin, “Betul, Kyai. Saya sedang mengurus rumah tangga saya. Saya sedang berusaha untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga saya.”

Kata KHA Dahlan, ”Apa kalau kamu aktif di Muhammadiyah, kamu kekurangan biaya hidup? Kalau begitu, kamu dan keluargamu semua supaya datang ke rumah saya, tinggal di rumah saya, makan bersama saya.”

H. Fakhruddin tidak banyak komentar. Tapi setelah itu H. Fakhruddin aktif kembali di Muhammadiyah dan ternyata rumah tangganya tetap tegak.

Demikianlah sepenggal kisah yang ditulis Sukriyanto AR di buku Kisah Inspiratif Para Pemimpin Muhammadiyah. Ada beberapa kisah lain yang turut ditulis di buku tersebut. Yakni, kisah Mas Mansur yang menolak dipilih menjadi ketua Mahkamah Tinggi Islam (Hofvoor Islami-tiche Zaken) dengan gaji 1.000 gulden, dengan tetap sebagai Kepala Madrasah Muallimin dengan gaji sekitar 125 gulden.

Juga, kisah Hasan Din, mertua Soekarno dari Fatmawati, yang memilih keluar sebagai klerk di perusahaan besar Borsumij milik Belanda dengan gaji tinggi dan bisa hidup mewah, demi berkhidmat dan menjadi guru Muhammadiyah dengan gaji kecil, sampai-sampai tidak bisa membiayai pendidikan putri semata wayang yang bernama asli Fatimah az-Zahra.

Baca juga, Kapan Muhammadiyah Bisa Membuat Kitab Matan?

Kemudian, HAR Muhammad Said yang ditawari jabatan di lembaga pendidikan Belanda dengan gaji 300 gulden namun syaratnya tidak rangkap di swasta termasuk Muhammadiyah. Beliau lebih memilih jadi guru Muhammadiyah dengan gaji tidak sampai 50 gulden.

Ada juga kisah Tom Olil. Pewaris tahta kerajaan Limboto Gorontalo. Memilih Muhammadiyah dan tidak menjadi raja. Ada pula Ir. Juanda. Menolak menjadi asisten Prof Schoemaker dengan gaji f. 275, lebih memilih menjadi guru MULO Muhammadiyah Jakarta dengan gaji kecil.

Merekalah sosok-sosok penghayat al-Ma’un. Al-Ma’un artinya barang-barang yang berguna, tentu maknanya adalah barang yang kita sendiri masih butuh. Jelas, al-M’aun artinya bukan barang sisa. Mereka tidak mau memberi kepada Muhammadiyah dengan sisa-sisa. Sisa waktu, sisa pikiran, sisa tenaga, sisa perasaan, sisa harta. Tidak. Mereka memberikan yang terbaik.

Kita yang sudah dilantik sebagai pengurus, berarti dipercaya sebagai pimpinan. Bukan lagi sebagai warga apalagi sekedar simpatisan. Al-Ma’un adalah sandangan Muhammadiyah sejak masih menjadi embrio. Ketika kita mengamalkannya akan dapat menghayati pesan tokoh Muhammadiyah Kasman Singodimedjo kepada Hadji Agus Salim, “Een leidersweg is een lijdensweg, Leiden is lijden.” Jalan pemimpin bukan jalan yang mudah, memimpin adalah menderita. Wallaahu a’lam.

*Manajer Area Lazismu Jawa Tengah

Editor : M Taufiq Ulinuha

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tidak bisa menyalin halaman ini karena dilindungi copyright redaksi. Selengkapnya hubungi redaksi melalui email.

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE