Sholat Dhuha Menurut Tarjih Muhammadiyah: Waktu, Tata Cara, Doa, dan Keutamaannya
Sholat Dhuha merupakan salat sunnah yang dikerjakan pada pagi hari, setelah matahari terbit dan naik hingga sebelum masuk waktu Zuhur. Meskipun tata caranya sederhana, terdapat sejumlah persoalan yang kerap disalahpahami, mulai dari pelafalan niat, jumlah rakaat, surah yang dibaca, hingga doa khusus setelahnya. Panduan ini membahas sholat Dhuha berdasarkan hadis yang dapat ditelusuri dan kajian Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah.
Ringkasan Sholat Dhuha
Berikut ketentuan pokok yang perlu diketahui sebelum memasuki penjelasan lebih terperinci.
| Aspek | Ketentuan ringkas |
|---|---|
| Hukum | Sunnah dan dianjurkan. |
| Waktu | Setelah matahari terbit dan naik hingga sebelum masuk waktu Zuhur. |
| Waktu utama | Ketika matahari telah meninggi dan panas mulai terasa. |
| Jumlah rakaat | Sedikitnya dua rakaat; terdapat dasar pelaksanaan empat dan delapan rakaat. |
| Tata cara | Dikerjakan dua rakaat demi dua rakaat seperti salat sunnah pada umumnya. |
| Niat | Dihadirkan dalam hati dan tidak harus dilafalkan. |
| Doa setelahnya | Tidak ditemukan doa khusus dari Nabi; doa umum yang baik boleh dibaca. |
Apa Itu Salat Dhuha dan Bagaimana Hukumnya?
Salat Dhuha adalah salat sunnah yang dikerjakan pada waktu Dhuha. Hukumnya sunnah: orang yang mengerjakannya memperoleh keutamaan, sedangkan yang meninggalkannya tidak berdosa.
Anjurannya antara lain terdapat dalam hadis Abu Hurairah. Ia menerangkan bahwa Rasulullah saw. berwasiat kepadanya agar berpuasa tiga hari setiap bulan, mengerjakan dua rakaat Dhuha, dan menunaikan Witir sebelum tidur. [9] [12]
Kapan Waktu Sholat Dhuha Dimulai dan Berakhir?
Waktu sholat Dhuha dimulai setelah matahari terbit dan naik dari ufuk. Batas akhirnya adalah sebelum matahari tergelincir atau sebelum masuk waktu Zuhur. Waktu utamanya ialah ketika matahari telah meninggi dan panas mulai terasa. [2] [13]
| Tahapan | Ketentuan |
|---|---|
| Matahari sedang terbit | Belum memasuki waktu Dhuha. |
| Matahari telah terbit dan naik | Waktu Dhuha dimulai. |
| Matahari meninggi dan panas terasa | Waktu yang utama. |
| Menjelang matahari tergelincir | Batas akhir; selesaikan sebelum Zuhur. |
Kajian Tarjih menyebut bahwa dalam jadwal waktu salat, awal Dhuha berada sekitar setengah jam setelah syuruq. Angka ini merupakan panduan praktis, bukan jam universal. Karena syuruq dan Zuhur berubah menurut lokasi serta tanggal, gunakan jadwal salat resmi untuk daerah masing-masing. [2]
Berapa Jumlah Rakaat Sholat Dhuha?
Umat Islam dapat mengerjakan sholat Dhuha sedikitnya dua rakaat. Terdapat pula dasar pelaksanaan empat dan delapan rakaat. Riwayat Aisyah menyebut Nabi saw. mengerjakan empat rakaat dan menambahnya sesuai kehendak Allah, sedangkan riwayat Ummu Hani menyebut delapan rakaat pada hari penaklukan Makkah. [10] [14]
Majelis Tarjih dan Tajdid menjelaskan bahwa rakaat Dhuha dapat ditambah sesuai kemampuan dan dilaksanakan dengan salam setiap dua rakaat. Karena riwayat yang membatasi jumlahnya pada 12 rakaat tidak lepas dari kelemahan, angka tersebut tidak ditetapkan sebagai batas maksimal yang mutlak. [2]
Niat dan Bacaan dalam Salat Dhuha
Apakah Niat Sholat Dhuha Harus Dilafalkan?
Niat cukup dihadirkan dalam hati sebagai kehendak untuk mengerjakan salat sunnah Dhuha karena Allah. Majelis Tarjih dan Tajdid menjelaskan bahwa tidak terdapat tuntunan dari Nabi saw. yang mensyaratkan pelafalan niat. Karena itu, lafaz niat yang populer tidak boleh dianggap sebagai bacaan wajib atau bagian khusus dari salat Dhuha. [4]
Apakah Ada Surah Khusus yang Harus Dibaca?
Setelah Al-Fatihah, bacalah surah atau ayat Al-Qur’an yang dikuasai. Tidak ditemukan hadis maqbul yang menetapkan surah tertentu sebagai bacaan khusus Dhuha. Surah Asy-Syams, Ad-Dhuha, Al-Kafirun, atau Al-Ikhlas tetap boleh dibaca sebagaimana surah lainnya, tetapi tidak perlu dinyatakan sebagai ketentuan khusus. [3]
Tata Cara Sholat Dhuha
Tata cara pokok Dhuha sama dengan salat sunnah lainnya. Untuk dua rakaat, urutannya sebagai berikut:
- Berdiri menghadap kiblat. Hadirkan niat dalam hati untuk mengerjakan salat sunnah Dhuha.
- Takbiratul ihram. Lanjutkan dengan bacaan pembuka salat.
- Membaca Al-Fatihah. Setelah itu, baca surah atau ayat Al-Qur’an yang dikuasai.
- Rukuk, iktidal, dan dua kali sujud. Kerjakan setiap gerakan dengan tuma’ninah.
- Berdiri untuk rakaat kedua. Ulangi bacaan dan gerakan seperti rakaat pertama.
- Tahiyat akhir dan salam. Jika menambah rakaat, ulangi rangkaian yang sama dengan salam setiap dua rakaat.
Bacaan rukuk, iktidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan tahiyat mengikuti tuntunan salat yang berlaku. [1] [3] [15]
Adakah Doa Khusus Setelah Sholat Dhuha?
Tidak ditemukan hadis yang mengajarkan doa khusus setelah sholat Dhuha. Seusai salat, seseorang boleh berzikir dan memanjatkan doa yang baik, tetapi tidak perlu meyakininya sebagai bacaan wajib atau Sunnah khusus Dhuha. [5]
Majelis Tarjih dan Tajdid menjelaskan bahwa lafaz populer yang diawali dengan “Allahumma innad-duha’a duha’uka” bukan doa yang berasal dari Nabi saw. Lafaz tersebut disebut oleh asy-Syarwani dalam Syarh al-Minhaj dan ad-Dimyati dalam I’anatut-Thalibin; keduanya tidak menyandarkannya kepada hadis Nabi. Karena kandungannya berupa permohonan yang baik, doa itu boleh dibaca sebagai doa umum, bukan sebagai bacaan khusus Dhuha. [5]
Istilah “3 doa setelah sholat Dhuha” juga perlu dipahami dengan kaidah yang sama. Karena tidak ditemukan satu rangkaian doa khusus dari Nabi, tiga doa dari Al-Qur’an atau hadis boleh dibaca sebagai doa umum, tetapi tidak tepat disebut sebagai paket Sunnah khusus sesudah Dhuha.
Hadis Keutamaan Salat Dhuha
Salah satu keutamaan Dhuha yang memiliki dasar kuat ialah sebagai bentuk syukur atas nikmat anggota tubuh dan persendian. Dari Abu Dzar r.a., Nabi saw. bersabda:
يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ، فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ، وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى.
“Pada setiap pagi, setiap persendian salah seorang di antara kalian memiliki kewajiban sedekah. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, dan setiap takbir adalah sedekah. Mengajak kepada kebaikan adalah sedekah dan mencegah kemungkaran adalah sedekah. Semua itu dapat dicukupi dengan dua rakaat yang dikerjakannya pada waktu Dhuha.” [11]
Hadis ini memperlihatkan luasnya makna sedekah: zikir, perbuatan baik, dan salat termasuk ungkapan syukur kepada Allah. Dua rakaat Dhuha yang disebut dalam hadis tidak menggantikan kewajiban zakat atau sedekah harta.
Kesalahpahaman Populer tentang Sholat Dhuha
Benarkah Dhuha Salat Khusus untuk Meminta Rezeki?
Tidak ada salat yang secara khusus ditetapkan untuk meminta rezeki, termasuk Dhuha. Tujuan salat adalah mendekatkan diri kepada Allah. Seseorang tetap boleh memohon rezeki yang halal setelah salat, tetapi Dhuha tidak tepat diposisikan sebagai ritual yang menjamin kekayaan atau keberhasilan material. [6]
Bolehkah Salat Dhuha Dikerjakan Setiap Hari?
Boleh. Kajian Tarjih mengharmoniskan riwayat-riwayat yang tampak berbeda tentang kebiasaan Nabi mengerjakan Dhuha. Kesimpulannya, umat Islam disunnahkan melakukannya semampu mereka tanpa melalaikan kewajiban. Riwayat bahwa Aisyah tidak melihat Nabi mengerjakannya secara rutin tidak dengan sendirinya menunjukkan larangan melaksanakan Dhuha setiap hari. [7]
Bolehkah Sholat Dhuha Dilakukan Berjamaah?
Umat Islam boleh mengerjakan salat Dhuha secara berjamaah. Kajian Tarjih merujuk riwayat tentang Nabi saw. salat pada waktu Dhuha dan para sahabat berdiri mengikuti beliau. Kebolehan tersebut tidak berarti Dhuha hanya sah atau selalu lebih utama jika dilakukan bersama-sama. Dalam lingkungan pendidikan, pelaksanaannya juga perlu disertai penjelasan tentang hukum dan tuntunan ibadahnya. Baca pula pembahasan hukum sholat Dhuha berjamaah di sekolah. [2] [8]
Penutup
Salat Dhuha dapat dijaga sebagai ibadah sunnah yang sederhana dan mudah dilaksanakan. Pemahaman terhadap waktu, rakaat, niat, tata cara, serta kedudukan doa sesudahnya membantu umat beribadah berdasarkan tuntunan yang jelas. Dengan demikian, Dhuha tidak dipenuhi ketentuan tambahan yang tidak berdasar atau dipersempit menjadi ritual untuk memperoleh keuntungan material.
Referensi:
- Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Majelis Tarjih dan Tajdid. Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah, Jilid I, 2009, hlm. 341-355.
- Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. “Tata Cara Shalat Tahajjud dan Shalat Dhuha.” Ensiklopedia Tarjih, 3 Desember 2019.
- Muhammadiyah. “Tatacara Shalat Dhuha.” 12 Agustus 2020.
- Muhammadiyah. “Niat dalam Salat, Diucapkan atau Tidak?” 1 Januari 2022.
- Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. “Doa Sesudah Shalat Dhuha.” Ensiklopedia Tarjih, 17 Februari 2020.
- Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. “Benarkah Shalat Dhuha untuk Minta Rezeki Secara Khusus?” Ensiklopedia Tarjih, 23 Juni 2020.
- Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. “Shalat Dhuha Tiap Hari.” Ensiklopedia Tarjih, 6 Oktober 2020.
- PWM Jawa Tengah. “Bolehkah Sholat Dhuha Berjamaah di Sekolah?”
- Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, hadis no. 1981, riwayat Abu Hurairah tentang tiga wasiat Nabi.
- Muslim, Sahih Muslim, hadis no. 719a, riwayat Aisyah tentang empat rakaat Dhuha dan tambahan rakaat.
- Muslim, Sahih Muslim, hadis no. 720, riwayat Abu Dzar tentang sedekah bagi persendian dan dua rakaat Dhuha.
- Muslim, Sahih Muslim, hadis no. 721a, riwayat Abu Hurairah tentang dua rakaat Dhuha.
- Muslim, Sahih Muslim, hadis no. 748b, riwayat Zaid bin Arqam tentang waktu salat al-awwabin.
- Muslim, Sahih Muslim, hadis no. 336f, riwayat Ummu Hani tentang delapan rakaat pada waktu Dhuha.
- Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, hadis no. 1295, riwayat Ibnu Umar tentang salat malam dan siang dua rakaat-dua rakaat.
Editor: Al-Afasy



