Waktu Sholat Dhuha: Mulai, Batas Akhir, dan Waktu Terbaik

Jawaban berupa pukul 07.00 atau 08.00 belum tentu tepat untuk semua daerah. Waktu matahari terbit dan masuknya Zuhur berubah menurut lokasi dan tanggal. Waktu Dhuha karena itu perlu ditentukan melalui posisi matahari dan jadwal setempat, bukan satu patokan jam nasional.
Sholat Dhuha dimulai setelah matahari terbit dan sudah meninggi, bukan tepat saat syuruq. Batas akhirnya menjelang matahari mencapai kulminasi sebelum masuknya waktu Zuhur. Waktu terbaiknya ketika matahari telah meninggi dan panas mulai terasa. Jam pelaksanaannya harus disesuaikan dengan kota, tanggal, dan jadwal yang digunakan. [1] [3] [4]
Baca Juga: Sholat Dhuha Menurut Tarjih Muhammadiyah: Waktu, Tata Cara, Doa, dan Keutamaannya
Waktu Sholat Dhuha Jam Berapa? Ini Ringkasannya
Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menjelaskan bahwa salat Dhuha dilakukan ketika matahari sudah naik kira-kira sepenggal atau setinggi tonggak, bukan saat baru terbit, dan berakhir menjelang Zuhur. [1]
| Bagian waktu | Ketentuan | Tanda matahari | Catatan praktis |
|---|---|---|---|
| Awal | Setelah terbit dan meninggi | Matahari sudah naik dari ufuk | Tarjih menggunakan sekitar 30 menit setelah syuruq dalam jadwal |
| Batas akhir | Menjelang kulminasi sebelum Zuhur | Matahari mendekati titik tertinggi | Periksa jadwal Zuhur setempat |
| Waktu terbaik | Saat panas mulai terasa | Matahari telah meninggi | Tidak harus tepat pukul 08.00 atau 09.00 |
Kapan Waktu Sholat Dhuha Dimulai?
Waktu sholat Dhuha tidak dimulai tepat ketika matahari muncul. Tarjih menyatakan bahwa pelaksanaannya dimulai saat matahari sudah naik kira-kira sepenggal atau setinggi tonggak. Dalam jadwal waktu salat, sekitar setengah jam setelah syuruq digunakan sebagai panduan praktis, bukan ketentuan syar’i yang mutlak. [1]
Perbedaan Syuruq dan Awal Dhuha
Syuruq adalah penanda waktu matahari terbit yang tercantum dalam jadwal. Pada saat itu matahari masih berada dalam fase terbit, sedangkan awal Dhuha ditandai ketika matahari sudah naik. Jika jadwal hanya memuat kolom syuruq, gunakan pedoman jadwal yang dipilih secara konsisten. [1] [4]
Mengapa Tidak Sholat Saat Matahari Baru Terbit?
Hadis Uqbah bin Amir dalam Sahih Muslim nomor 831 menyebut larangan shalat ketika matahari mulai terbit hingga meninggi. Riwayat ini menjelaskan mengapa syuruq harus dibedakan dari awal Dhuha. Ungkapan matahari setinggi tonggak merupakan gambaran bahwa matahari telah naik, bukan ukuran meter yang diterapkan secara harfiah. [4]
Batas Akhir Sholat Dhuha: Sebelum Zawal atau Zuhur?
Batas akhir sholat Dhuha berkaitan dengan peralihan matahari menuju waktu Zuhur. Patokan praktisnya ialah jadwal Zuhur sesuai lokasi dan tanggal, bukan bunyi azan semata karena azan dapat dikumandangkan beberapa saat setelah waktu masuk. [1]
Urutan Istiwa, Zawal, dan Masuknya Zuhur
BMKG menggunakan istilah istiwa atau kulminasi untuk keadaan ketika matahari mencapai posisi tertinggi. Pada fase matahari berada di tengah langit terdapat waktu singkat yang dilarang untuk shalat, sebagaimana disebutkan dalam Sahih Muslim nomor 831. Setelah melewati titik tertinggi dan mulai condong ke barat, terjadilah zawal yang menandai masuknya Zuhur. Salat Dhuha karena itu diselesaikan sebelum peralihan tersebut. [4]
Bagaimana Jika Waktu Sudah Mendekati Zuhur?
Periksa jadwal Zuhur setempat. Jika Zuhur telah masuk, waktu Dhuha sudah berakhir. Selisih 5, 10, atau 15 menit sebelum Zuhur boleh dipakai sebagai kehati-hatian pribadi, tetapi tidak boleh disebut sebagai batas syar’i tanpa dasar khusus.
Kapan Waktu Terbaik Sholat Dhuha?
Waktu terbaik sholat Dhuha adalah ketika matahari telah meninggi dan panasnya mulai terasa. Hadis Zaid bin Arqam dalam Sahih Muslim nomor 748b mengaitkan salat awwabin dengan keadaan ketika anak unta mulai merasakan panas matahari. Tanda tersebut merujuk pada keadaan matahari, bukan pukul tertentu. Pukul 08.00 atau 09.00 hanya dapat menjadi gambaran lokal dan tetap harus berada sebelum peralihan menuju Zuhur. [3]
Kesalahpahaman tentang Waktu Sholat Dhuha
| Anggapan | Pelurusan |
|---|---|
| Syuruq adalah awal Dhuha | Syuruq menandai terbit; Dhuha dimulai setelah matahari meninggi. |
| Dhuha selalu dimulai pukul 07.00 | Jamnya berubah menurut lokasi, tanggal, dan metode jadwal. |
| Waktu terbaik selalu pukul 09.00 | Tanda utamanya ialah matahari meninggi dan panas mulai terasa. |
| Pukul 11.00 selalu masih boleh | Bandingkan dengan jadwal Zuhur setempat. |
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Mengapa jadwal Dhuha di dua aplikasi bisa berbeda?
Periksa koordinat, tanggal, metode perhitungan, pembulatan, serta margin pengamannya. Pilih satu jadwal yang kredibel dan jangan menggabungkan angka dari aplikasi berbeda tanpa mengetahui metodenya.
Apakah pukul 11.00 masih boleh untuk sholat Dhuha?
Belum tentu. Bandingkan pukul 11.00 dengan jadwal Zuhur untuk kota dan tanggal pelaksanaan. Jika Zuhur telah masuk, rentang Dhuha telah berakhir.
Haruskah menunggu tepat 30 menit setelah syuruq?
Tidak harus dipahami sebagai hitungan mutlak. Majelis Tarjih menggunakan frasa sekitar setengah jam dalam konteks jadwal. Ikuti jadwal yang dipilih dan pastikan matahari tidak lagi berada dalam fase terbit. [1]
Penutup
Waktu sholat Dhuha dimulai setelah matahari terbit dan meninggi, lebih utama ketika panas mulai terasa, serta berakhir sebelum peralihan menuju Zuhur. [1] [3] Gunakan kota, tanggal, waktu syuruq, dan waktu Zuhur dari satu jadwal setempat yang konsisten.
Referensi :
- Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. ‘Tata Cara Shalat Tahajud dan Shalat Dhuha.’
- Muhammadiyah.or.id. ‘Tatacara Shalat Dhuha.’ 12 Agustus 2020.
- Muslim ibn al-Hajjaj. Sahih Muslim, Kitab Salat al-Musafirin, hadis 748b, bab Salat al-Awwabin.
- Muslim ibn al-Hajjaj. Sahih Muslim, Kitab Salat al-Musafirin, hadis 831, bab waktu-waktu yang dilarang untuk shalat.
Editor: Al-Afasy



