Khazanah IslamKolom

Doa Setelah Sholat Dhuha: Bacaan, Arti, dan Pandangan Tarjih

Berdasarkan penelusuran Majelis Tarjih, tidak ditemukan lafal doa tertentu yang ditetapkan Nabi khusus setelah salat Dhuha. Setelah salam, seorang Muslim boleh berzikir dan membaca doa yang baik, tetapi tidak perlu menganggap satu redaksi sebagai bacaan wajib atau sunah khusus Dhuha. [1] [2]

Artikel ini membahas bacaan yang populer di masyarakat, kedudukan sumbernya, serta pilihan dzikir dan doa setelah sholat Dhuha yang dapat diamalkan secara tepat.

Adakah Doa Khusus Setelah Salat Dhuha?

Fatwa Majelis Tarjih menyatakan bahwa, sepanjang penelusuran terhadap kitab fikih dan kitab hadis yang dilakukan dalam fatwa tersebut, tidak ditemukan doa tertentu yang diajarkan Nabi Muhammad saw. khusus setelah salat Dhuha. Kesimpulan ini tidak melarang seseorang berdoa setelah salam. Yang perlu dihindari ialah menetapkan suatu lafal sebagai kewajiban atau sunah khusus Dhuha tanpa dalil yang dapat dipertanggungjawabkan. [1]

KategoriKedudukan
Tuntunan khusus NabiFatwa Tarjih tidak menemukan hadis yang mengajarkan lafal tertentu khusus setelah salat Dhuha.
Doa umumBoleh dibaca apabila isi permohonannya baik.
Kebiasaan masyarakatDapat diamalkan, tetapi tidak dinisbatkan sebagai sunah khusus Nabi.
Sikap yang tepatTidak membakukan satu doa atau jumlah bacaan tertentu sebagai syarat setelah Dhuha.

Al-Qur’an memerintahkan orang beriman untuk mengingat Allah setelah salat, memperbanyak zikir, dan berdoa kepada-Nya. Ayat-ayat tersebut merupakan dasar umum untuk berzikir dan berdoa, bukan dalil bagi satu redaksi khusus setelah Dhuha. [3] [4] [5]

Karena doa tambahan dilakukan setelah salam, tidak membacanya tidak memengaruhi keabsahan salat Dhuha. Fatwa Tarjih tentang Dhuha dan rezeki juga membedakan doa setelah salam dari rangkaian bacaan di dalam salat. [10]

Baca Juga: Sholat Dhuha Menurut Tarjih Muhammadiyah: Waktu, Tata Cara, Doa, dan Keutamaannya

Bacaan Doa Setelah Sholat Dhuha yang Populer

Bacaan berikut banyak digunakan oleh Muslim Indonesia. Isinya memuat pujian kepada Allah dan permohonan agar rezeki yang halal dimudahkan. Bacaan lengkapnya dimuat oleh Majelis Ulama Indonesia. [6]

Tulisan Arab, Transliterasi, dan Artinya

اللَّهُمَّ إِنَّ الضُّحَاءَ ضُحَاؤُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاؤُكَ، وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ. اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ رِزْقِي فِي السَّمَاءِ فَأَنْزِلْهُ، وَإِنْ كَانَ فِي الْأَرْضِ فَأَخْرِجْهُ، وَإِنْ كَانَ مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ بَعِيدًا فَقَرِّبْهُ، بِحَقِّ ضُحَائِكَ وَبَهَائِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ، آتِنِي مَا آتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ.

Allāhumma innad-ḍuḥā’a ḍuḥā’uka, wal-bahā’a bahā’uka, wal-jamāla jamāluka, wal-quwwata quwwatuka, wal-qudrata qudratuka, wal-‘iṣmata ‘iṣmatuka. Allāhumma in kāna rizqī fis-samā’i fa anzilhu, wa in kāna fil-arḍi fa akhrijhu, wa in kāna mu‘assaran fa yassirhu, wa in kāna ḥarāman fa ṭahhirhu, wa in kāna ba‘īdan fa qarribhu. Bi ḥaqqi ḍuḥā’ika wa bahā’ika wa jamālika wa quwwatika wa qudratika, ātinī mā ātaita ‘ibādakaṣ-ṣāliḥīn.

Artinya:

“Ya Allah, sesungguhnya waktu Dhuha adalah Dhuha-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, kekuasaan adalah kekuasaan-Mu, dan penjagaan adalah penjagaan-Mu. Ya Allah, jika rezekiku berada di langit, turunkanlah; jika berada di bumi, keluarkanlah; jika sulit, mudahkanlah; jika haram, sucikanlah; dan jika jauh, dekatkanlah. Dengan hak Dhuha-Mu, keagungan-Mu, keindahan-Mu, kekuatan-Mu, dan kekuasaan-Mu, berikanlah kepadaku apa yang Engkau berikan kepada hamba-hamba-Mu yang saleh.” [6]

Kedudukan dan Sumber Doa Populer

Majelis Tarjih menjelaskan bahwa lafal awal doa tersebut bukan berasal dari Nabi Muhammad saw. Bacaan itu disebut dalam karya ahli fikih, antara lain asy-Syarwani dalam Syarh Minhaj dan ad-Dimyati dalam I‘ānatut-Ṭālibīn. Keduanya juga tidak menyandarkannya kepada hadis Nabi. [1] [2]

Jika digunakan sebagai doa selesai sholat dhuha, kedudukannya adalah doa umum yang isinya baik, bukan sunah khusus Dhuha. Bacaan ini tidak wajib, tidak terikat jumlah tertentu, dan tidak dapat dijadikan janji bahwa rezeki seseorang pasti lancar.

Dzikir dan Doa Setelah Sholat Dhuha yang Dapat Dibaca

Sesudah salam, seorang Muslim dapat mengingat Allah dan menyampaikan permohonan yang baik. Agar tidak tercampur, tiga jenis bacaan berikut perlu dibedakan:

IstilahPengertian dan posisi
Bacaan dalam salatLafal yang dibaca sejak takbir hingga salam sesuai tuntunan salat.
ZikirUcapan untuk mengingat dan memuji Allah; dapat dibaca setelah salat dalam konteks yang memiliki dasar.
DoaPermohonan seorang hamba kepada Allah, termasuk yang disampaikan setelah salam.

Apakah Zikir Setelah Salat Wajib Berlaku Khusus untuk Dhuha?

Istigfar tiga kali, Allāhumma antas-salām, tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil dijelaskan pada laman resmi Muhammadiyah dalam konteks zikir setelah salat wajib. Membaca kalimat-kalimat tersebut untuk mengingat Allah setelah Dhuha tidak menjadikannya paket sunah khusus Dhuha. Pengkhususan bacaan dan bilangannya memerlukan dalil tersendiri. [7]

Contoh Doa yang Direkomendasikan dalam Fatwa Tarjih

Majelis Tarjih memberikan contoh doa perlindungan yang diajarkan Rasulullah saw. pada akhir salat:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

Allāhumma innī a‘ūżu bika minal-bukhli, wa a‘ūżu bika minal-jubni, wa a‘ūżu bika an uradda ilā arżalil-‘umuri, wa a‘ūżu bika min fitnatid-dunyā, wa a‘ūżu bika min ‘ażābil-qabr.

Artinya:

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir dan pengecut. Aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikan kepada usia yang paling lemah, dari fitnah dunia, dan dari azab kubur.” [8] [9]

Lafal perlindungan tersebut terdapat dalam Sahih al-Bukhari. Riwayat an-Nasa’i secara eksplisit menyebut konteks dubur aṣ-ṣalāh atau akhir setiap salat. Fatwa Tarjih menempatkannya sebagai salah satu doa yang dapat digunakan, bukan doa khusus Dhuha. [1] [8] [9]

Bolehkah Berdoa dengan Bahasa yang Dipahami?

Setelah salam, seseorang tidak terikat pada satu lafal khusus. Ia dapat menyampaikan permohonan dengan redaksi yang dipahami, termasuk bahasa Indonesia, agar maknanya benar-benar dihayati. Ketentuan ini berlaku untuk doa setelah salat, bukan untuk mengganti bacaan yang menjadi bagian dari salat. Fatwa Tarjih membedakan doa di dalam salat dari doa sebelum atau sesudah salat sunah maupun fardu. [1] [12]

Panduan Berdoa Setelah Salat Dhuha Tanpa Membakukan Bacaan

Berdoa setelah salat Dhuha tidak memerlukan urutan, lafal, atau jumlah pengulangan tertentu. Setelah salam, seseorang boleh langsung menyampaikan permohonannya kepada Allah. Jika membutuhkan panduan agar lebih tertib, langkah berikut dapat digunakan sebagai pilihan:

  1. Mengingat Allah dan memuji-Nya dengan kalimat yang dipahami.
  2. Memohon ampun atas kesalahan diri.
  3. Menyampaikan kebutuhan, seperti keteguhan iman, kesehatan, ilmu yang bermanfaat, kebaikan keluarga, serta rezeki yang halal dan berkah.
  4. Menutup doa dengan pengharapan dan sikap berserah diri kepada Allah.

Urutan tersebut bukan tata cara khusus dari Nabi untuk doa setelah Dhuha. Setiap langkah boleh disederhanakan atau diganti dengan redaksi lain yang baik. Allah menegaskan bahwa Dia dekat dan mengabulkan permohonan hamba yang berdoa kepada-Nya; ayat itu merupakan dasar umum berdoa, bukan penetapan bacaan tertentu setelah salat Dhuha. [5]

Panduan ini tidak boleh diubah menjadi rumus wajib, dikaitkan dengan bilangan tanpa dasar, atau disertai janji bahwa permohonan rezeki pasti menghasilkan kekayaan.

Kesalahpahaman tentang Doa dan Rezeki Setelah Dhuha

Salat Dhuha bukan ritual yang secara khusus ditetapkan untuk meminta rezeki, apalagi cara yang menjamin seseorang menjadi kaya. Majelis Tarjih menegaskan bahwa tidak ada salat yang dikhususkan untuk permohonan rezeki, termasuk Dhuha. Kedudukan Dhuha tetap sebagai ibadah sunah untuk mendekatkan diri kepada Allah. [10]

AnggapanPenjelasan
Dhuha pasti mendatangkan kekayaanTidak ada dalil yang menjanjikan hasil materi tertentu kepada setiap orang yang mengerjakannya.
Doa populer wajib dibaca agar rezeki lancarDoa tersebut bukan berasal dari Nabi. Isinya boleh dibaca sebagai permohonan umum tanpa dianggap wajib.
Tidak membaca doa membuat salat kurang sahDoa setelah salam bukan rukun atau syarat sah salat Dhuha.
Empat rakaat pada awal hari berarti jaminan kayaRiwayat tentang Allah mencukupi hamba pada akhir harinya tidak menyebut kekayaan; maknanya tidak tepat dipersempit menjadi keuntungan finansial.
Bilangan tertentu membuka pintu rezekiPenetapan jumlah dan khasiat membutuhkan dalil khusus. Jangan menisbatkannya sebagai tuntunan Nabi tanpa sumber yang terverifikasi.
Zikir bakda salat wajib otomatis menjadi paket DhuhaZikir tersebut memiliki dasar pada konteks salat wajib; membacanya setelah Dhuha tidak menjadikannya sunah khusus Dhuha.

Memohon rezeki yang halal setelah salat tetap dibolehkan. Kekeliruannya terletak pada pembakuan bacaan yang tidak berdalil, penetapan bilangan tanpa sumber, atau janji hasil yang melampaui keterangan agama. Hadis tentang empat rakaat pada awal hari menyebut kecukupan pada akhir hari, bukan jaminan kekayaan materi. [10] [11]

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah doa setelah salat Dhuha wajib dibaca?

Tidak. Fatwa Tarjih tidak menetapkan lafal doa tertentu sebagai kewajiban atau sunah khusus setelah Dhuha. Salat telah selesai dengan salam dan tetap sah tanpa doa tambahan. [1] [10]

Bolehkah membaca “Allāhumma innad-ḍuḥā’a ḍuḥā’uka”?

Boleh sebagai doa umum yang berisi pujian dan permohonan kepada Allah. Jangan menjadikannya syarat salat, menganggapnya berasal dari Nabi, atau meyakini bahwa bacaan tersebut pasti melancarkan rezeki. [1]

Apa yang dapat dibaca setelah salat Dhuha?

Seseorang boleh berzikir dan membaca doa yang baik, termasuk memohon ampunan, kesehatan, keteguhan iman, kebaikan keluarga, dan rezeki halal. Bacaan itu tidak perlu dijadikan paket khusus Dhuha. [1] [4]

Apakah salat Dhuha dikhususkan untuk meminta rezeki?

Tidak. Memohon rezeki setelah salat dibolehkan, tetapi Dhuha tidak ditetapkan sebagai salat khusus untuk rezeki dan tidak menjamin kekayaan. Ibadah ini tetap dikerjakan untuk mendekatkan diri kepada Allah. [10]

Penutup

Setelah salat Dhuha, seorang Muslim dapat berzikir dan menyampaikan doa yang baik tanpa terikat pada satu lafal. Bacaan populer boleh digunakan sebagai doa umum, tetapi tidak perlu dianggap sebagai kewajiban, sunah khusus, atau rumus yang menjamin kelancaran rezeki.

Ketelitian dalam membedakan tuntunan Nabi, doa umum, dan kebiasaan masyarakat membantu seseorang beribadah dengan tenang sekaligus menjaga kejujuran dalam menyandarkan amalan.

Referensi:

[1] Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, “Doa Sesudah Salat Duha”, disidangkan 22 Juli 2011 dan dipublikasikan 9 Oktober 2016.

[2] Redaksi Muhammadiyah, “Doa Sesudah Shalat Dhuha”, 2 Februari 2021.

[3] Al-Qur’an dan Terjemahannya, QS. An-Nisa’ (4): 103, Kementerian Agama RI.

[4] Al-Qur’an dan Terjemahannya, QS. Al-Ahzab (33): 41–42, Kementerian Agama RI.

[5] Al-Qur’an dan Terjemahannya, QS. Al-Baqarah (2): 186, Kementerian Agama RI.

[6] Majelis Ulama Indonesia, “Niat Shalat Dhuha dan Bacaan Doanya Lengkap Arab, Latin, dan Terjemah”, 5 Juni 2023. Tautan sumber

[7] Muhammadiyah, “Setelah Salat Jangan Bengong, Baca Zikir! Berikut Bacaan Zikir yang dapat Diamalkan”, 9 Oktober 2022.

[8] Sahih al-Bukhari, Kitab ad-Da‘awat, hadis nomor 6370; penomoran dapat berbeda antar-edisi.

[9] Sunan an-Nasa’i, Kitab al-Isti‘adzah, hadis nomor 5447; penomoran dapat berbeda antar-edisi.

[10] Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, “Benarkah Shalat Dhuha untuk Minta Rezeki Secara Khusus?”, disidangkan 25 Oktober 2013 dan dipublikasikan 4 Oktober 2016.

[11] Jami‘ at-Tirmidzi, Bab tentang Salat Dhuha, hadis nomor 475; penomoran dapat berbeda antar-edisi.

[12] Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, “Berdoa dengan Doa Buatan Sendiri dalam Shalat”, disidangkan 5 Mei 2006 dan dipublikasikan 27 Juli 2016.

Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/https://merdekakreasi.co.id/buku/bandarqq/https://merdekakreasi.co.id/buku/dominoqq/https://merdekakreasi.co.id/tentang-kami/