2040 : Kota Pekalongan Temggelam ?

Islah Milono - Ketum PW.IRM Kalimantan Tengah 1997-1999 dan Penggiat Sosial filanthropi bekerja di LAZNAS BSMU Jakarta
Islah Milono – Ketum PW.IRM Kalimantan Tengah 1997-1999 dan Penggiat Sosial filanthropi bekerja di LAZNAS BSMU Jakarta

PWMJATENG.COM – Persoalan degradasi tanah dan naiknya airmuka laut serta curah hujan ekstrim 12-20 Februari 2021 ini yang melanda Sebagian besar wilayah pulau Jawa berakibat tenggelamnya 35% wilayah Pekalongan. Cakupan genangan air untuk Kota Pekalongan semakin meluas, untuk Kabupaten Pekalongan dominan di 3 kecamatan, yakni Kecamatan Tirto, Wonokerto dan Wiradesa, cakupan daerah yang terendam semakin luas saja sejak 2015.

Dua tahun lalu penulis sudah menyampaikan Ketika banjir melanda Kota Pekalongan dan Sebagian kecil Kabupaten, bahwa salah satu sebab penyebab musibah ini adalah turunnya permukaan tanah yang pemicunya adalah pengambilan air tanah secara ekstra dengan berdirinya lebih dari 5 hotel bintang 3 dan 4 di Kota Pekalongan. Tahun 2040 Kota Pekalongan akan tenggelam? Bisa jadi jika merunut data penelitian ITB bahwa tingkat penurunan tanah di Kota Pekalongan terparah se-Indonesia yakni 6cm per tahun. Kalikan saja selama 10 tahun kedepan maka akan diperoleh penurunan signifikan 60 cm tanah di kota Pekalongan. Daerah yang paling cepat mengalami penurunan adalah daerah yang berdekatan dengan pantai. Artinya apa? Daerah ini akan menjadi langganan “parker” air rob dari laut serta kiriman air hujan jika musim hujan ekstrim seperti saat ini.

BACA JUGA  Qurban Bersama untuk Sesama

Ini persoalan serius, persoalan tenggelamnya sebuah kota, tenggelam berarti musnah, hilang, mati dan tiada. Momen hilangnya sebuah peradaban mencakup budaya, ekonomi, sosial dan hilangnya identitas jatidiri sebuah masyarakat termasuk. Tenggelam maka akan terjadi migrasi penduduk ke daerah lain. Saat ini kondisi sosial budaya warga di beberapa daerah yang tenggelam sungguh memprihatinkan. Ambil contoh warga di desa Tegaldowo dan Mulyorejo Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan, serta Kelurahan Pasirsari Kota Pekalongan yang pennulis sambangi pada 11-12 Februari 2021, sebuah dilema rumah tinggal mengungsi khawatir, didiami juga tidak banyak yang bisa dikerjakan. Tidak ada aktifitas ekonomi produktif maupun Pendidikan dan aktifitas sosial budaya lainnya. Sebenarnya jika membaca sejarah peradaban manusia di muka bumi ini, adanya episode tenggelamnya sebuah kota diikuti ditinggalkannya kota itu sudah banyak terjadi didaerah lain.

BACA JUGA  Membentuk Manusia Haji, Membangun Keluarga Utama

Lantas, apa usaha dan upaya pemegang kebijakan Kota Pekalongan atas proses drama menuju tenggelamnya Kota Pekalonhgan ini? Mohon maaf sepertinya belum nampak figur Walikota Pekalongan yang punya leaderships, visi misi nan cerdas dan serius Untuk melakukan langkah Radikal dan concern mengantisipasi, tragedi tenggelamnya Kota kreatif UNESCO Pekalongan ini.

Walikota baru terpilih pun yang akan dilantik hanya bertugas efektif 3.5 tahun nampaknya tidak punya waktu cukup untuk fokus dalam problem ini. Masalah penurunan tanah diiringi tenggelamnya dan menjurus (hilangnya) kota tidak selesai jika tidak dilakukan pengerahan segenap daya upaya dan all sources kemampuannya secara total.

Sekadar informasi bahwa sebelum ramai pemberitaan Banjir Pekalongan pada 12 Februari 2021, ada beberapa daerah yang sejatinya sudah tergenang permanen antara 40cm-1 meter sejak Desember 2020. Bukan hal mustahi pada 20 tahun lagi –bahkan bisa jadi lebih cepat—kita dan anak cucu kita berdiri di pinggiran daerah Banyurip Ageng Buaran sambil memandang ke Utara melihat genangan air permanen disela2 sisa kota yang masih nampak sambil bercerita kepada anak cucu kita, “Dulu bapak dan kakekmu pernah bekerja didaerah sana dan sana. Dulu ada jalur kreta api di sana dan dulu sekolahan bapak disana dan sana.

BACA JUGA  KHUTBAH IDUL FITRI: RAMADHAN MEWUJUDKAN UMAT BERKEMAJUAN

Bisa saja masih banyak orang Pekalongan terutama para pejabat yang berpikiran ini hanya siklus tahunan, tidak perlu ditanggapi serius, biasa-biasa saja. Menurut hemat kami Sekali lagi Ini adalah persoalan sungguh serius, sangat serius bukan untuk disikapi dengan remeh remeh apalagi sambil mendengarkan lagu penyanyi Idola warga Pekalongan Rhoma Irama yang berjudul Santai.

Legokkalong Karanganyar Pekalongan, 20-02_2021
Islah Milono.* (Pernah Ketum PW.IRM Kalimantan Tengah 1997-1999)
Penggiat Sosial filanthropi bekerja di LAZNAS BSMU Jakarta.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts