Bencana Dalam Perspektif Alquran

Bencana Dalam Perspektif Alquran
Bencana Dalam Perspektif Alquran

PWMJATENG.COM – Dalam bahasa filsafat, bencana yang wujudnya antara lain: gempabumi, tanah longsor, putting beliung, banjir bandang, tsunami, likuifaksi, kekeringan, kebakaran hutan atau apa saja yang menyebabkan seseorang, masyarakat, bangsa, atau bahkan seluruh manusia di bumi ini menderita, secara teknis disebut evil. Kata evil dipadankan dengan kata jahat atau bencana.

Mencari jawban mengapa harus terjadi bencana, sementara kata Trublood, dengan mengutip kepercayaan agama apapun bahwa Tuhan itu maha baik, maka yang terjadi di alam ini harus hanya kebaikan. Kenyataannya tidak demikian. Evil terjadi di mana-mana. Selanjutnya ia mengatakan itulah sisi kelemahan agama. Trublood mengelaborasi jawaban dari agama pula bahwa kejahatan itu karena dosa atau kejahatan manusia. Bukan perbuatan Tuhan. Manusialah yang merusak alam. Contoh terakhir kerusakan yang dibuat oleh manusia adalah wabah pandemi covid 19.

Banyak komentar meneyebutkan bahwa corona itu bukan sepenuhnya alami, melainkan buatan manusia ‘jahad’, meskipun mungkin memiliki berbagai alasan rasional bahwa yang diperbuat adalah kebaikan, namun kenyataannya terjadi penderitaan global yang berarti keadaan jahad. Intinya, kejahatan manusia adalah refleksi dari perbuatan Tuhan juga.

Menakar jalan pikiran ahli filsafat ini jelas hanya sepenuhnya rasional. Dimensi instrument kemanuisaan yang lainnya, yaitu intuisi diketepikan sama sekali. Karena itu pikiran Trublood masuk dalam kategori ateisme. Ia ingkar bahwa realitas itu bukan hanya fisikal semata, melainkan justru yang jauh lebih kompleks adalah dunia metafisika. Sebagai bukti tentang kompleksitas metafisika dicontohkan bahwa setiap yang bernyawa pasti mati. Ini memang peristiwa alamiah. Tetapi siapa yang bisa memilih cara kematian yang serba nyaman dari semua segi atau menentang kematian sama sekali sehingga hidup abadi! Kenyataannya tidak ada yang bisa mempertahankan hidup secara abadi. Ini membuktikan ada kekuatan yang jauh lebih besar yang tidak kasat mata dari kekuatan manusia dan tidak dapat dijangkau dengan rasio.

Kesatuan rasio dan intuisi

Sejenius apapun manusia tidak sepenuhnya rasional. Ia mesti pernah merasa gembira, galau, stres, penuh harap, harap-harap cemas, bahkan memiliki keyakinan tertentu. Banyak orang rela mati demi mempertahankan keyakinan yang ia pedomani sebagai kebenaran. Semua ini bukan merupakan refleksi rasio, melainkan ada kekuatan batin di dalam diri manusia, sebagian instinc atau naluri, sebagian timbul dari kepercayaan atau keyakinan yang bersumber dari hati.

Orang yakin bahwa Tuhan, malaikat, iblis, surga, neraka, ‘arsy, itu ada adalah perbuatan hati yang disebut iman. Objek iman sepenuhnya tidak rasional. Rasio hanya melakukan rasionalisasi yang tidak musti berakhir rasional. Peristiwa Isra’ mi’roj, informasi bahwa Nabi Muhammad menerima wahyu yang kumpulan kodifikasinya disebut Alquran, qadla’ qadar, hari akhir, hari pembalasan, mizan, adalah kawasan yang tidak bisa dijangkau oleh rasio.

Seandainya rasio hendak menolak sama sekali terhadap realitas ghaib, justru kemanusiaanya menjadi tidak utuh seperti mayat hidup. Kaum filosof dari madzhab Eksistensialisme kiri telah membuktikan bahwa kesimpulan akhir apa yang disebut mausia adalah sampah yang tidak bisa bereksistensi. Lebih jauh, semua anak kandung filsafat barat yang mewujud dalam bentuk berbagai sains menegasikan kemanusiaan manusia. Manusia disebut binatang yang butuh teman (soo on politicon); manusia adalah binatang yang berpikir (animal rasional); manusia adalah homo fabier, atau homohomini lopus (serigala satu bagi lainnya) adalah bukti nyata tidak memanusiakan manusia. Devinisi-devinisi tentnag manusia yang bertolak dari cara berpikir rasional, ternyata berakhir dengan irrasionalisme.  Maka Islam datang dengan menggunakan sarana berpikir terpadu antara instinc, rasio, dan intuisi mendevinisikan manusia sebagai khalifatullah fil ardl. Pernyataan semacam ini mengangkat dereajat kemanusiaan yang sangat tinggi dan terhormat. Dari paradigma inilah penulis hendak menjelaskan bencana dari perspektif Qurani.

BACA JUGA  Bagaimana Perawatan Jenazah Covid 19 Menurut Fatwa Tarjih Muhammadiyah, Begini Caranya!

Ayat-ayat bencana   

Kosa kata yang dapat dipadankan dari istilah bencana, hancur, dan binasa dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Alquran adalah halaka dan berbagai derivasinya seperti: yuhliku, ahlaka, hâlikun, muhlik, tuhlak, dan hâlikín. Alquran menyebut kata yang seakar dari kata halaka tersebut sebanyak 67 kali (Ahmad Fuad, Mufahras al-Qur’an: 96-97). Kata halaka menunjuk dalam beberapa hal, antara lain:

  1. Seseorang meninggal, memiliki harta warisan, tetapi tidak punya anak (QS.an-Nisa/4:179). Orang ini disebut halak atau kalalah, secara praktis binasa keturunannya. Maka harta warisannya jatuh kepada orang lain seperti saudaranya. Dalam hal ini kata halak tidak bisa diartikan sebagai hukuman Allah.
  2. Halak menunjuk kebinasaan seseorang maupun umat atau generasi. Generasi dibinasakan karena berbuat dosa, membuat kerusakan, sombong sebagaimana diperagakan oleh Karun (QS. al-Qashash/27:78). Pembinasaan oleh Allah terhadap suatu kaum itu bersifat menyeluruh, artinya tidak dibiarkan ada yang hidup, seperti terhadap kaum ‘Ad, kaum Tsamud, dan umat Nabi Nuh (QS.an-Najm/53:50-52).
  3. Halak menunjuk hancurnya makhluk. Hanya Khaliq saja yang tidak hancur (QS.al-Qashash/28:88). Halak dalam arti ini bukan hukuman Allah, melainkan kehendak atau hukum-Nya semata-mata.
  4. Halak menunjuk perilaku konsumtif, yaitu menghabiskan kekayaan, Pelaku pembinasaan adalah manusia sendiri (QS. al-Balad/90:6), tentu untuk berfoya-foya atau tujuan-tujuan distruktif lainnya, umpama membeli hargadiri seseorang yang memiliki pengaruh, menyuap pejabat penegak hukum, apparat keamanan, orang-orang pintar (dukun), atau siapa saja yang dipandang membantu memenuhi ambisinya. Sudah barang tentu kegiatan ini membutuhkan modal besar, bisa-bisa dana itu habis karena sifatnya adalah gambling.
  5. Halak menunjuk hunian manusia yang secara praktis menunjuk kata qaryah (kampung, kota, negri), di dalamnya terdapat fasilitas hidup seperti rumah, Gedung, listana, dan sumur. Penyebab mereka dihancurkan karena perbuatan dhalim penduduknya. (QS al-Hajj/22: 45; al-An’am/6:131; al-Kahfi/18:59), atau karena mendustakan ayat-ayat Allah (QS. al-Anfal/8:54).

Dalam menghancurkan genenerasi menggunakan gejala alam, seperti hujan lebat yang menimbulkan banjir bandang dan genangan air, atau secara lebih ekstrim air bah, atau air muncul dari dasar bumi yang demikian dahsyat (QS. al-An’am/6:6), dentuman hebat, angin ribut berhari-hari (QS al-Haqqah/69:5-7), ditenggelamkan ke dalam laut seperti kaum Fir’aun (QS.al-Anfal/8:54), kebodohan/ceroboh (QS.al-A’raf/7:155), sesuatu yang tidak biasa terjadi umpama: serangan belalang, katak, kutu, dan fenomena aneh umpama darah (QS. al-A’raf/7: 133), dan hujan batu (QS.Hud/11:82) yang menimpa kaum Nabi Luth yang gemar dengan kehidupan homoseksual.

Terkait makna bencana sebagaimana nomor e di atas selalu disebabkan oleh sifat, sikap, dan perilaku manusia yang tidak baik, seperti: dusta, bodoh, amoral, dan yang paling banyak adalah dhalim. Oleh karena itu, melalui cara berpikir akademik-eksperimentatif, manakala terjadi keajegan gejala, maka bisa dijadikan dasar untuk menyusun suatu teori. Teori itu bisa dirumuskan demikian: Jika umat manusia berbuat dhalim, maka Allah akan membinasakan. Teori ini ditarik dari premis pernyataan Allah lebih dari 60 kali. Maka pengandainnya (teori hipotetis) menjadi: Jika (sekarang ini, yaitu era sudah tidak turun wahyu dan tidak ada Rasul) umat manusia berbuat dhalim, maka Allah akan membinasakannya.  Pertanyaannya, terbukti atau tidak teori normatif ini?

BACA JUGA  Anak Kandung Al Quran Yang Lahir Di Indonesia

Jika kita melihat apa yang terjadi di negeri ini, NKRI banyak musibah terjadi, sebut saja: gempa bumi di Mamuju dan tempat-tempat lainnya, banjir bandang hampir di seluruh kawasan negri, tanah longsor, gunung meletus berikut erupsinya, likuifaksi di Petobo, putting beliung yang memporakporandakan perkampungan, jika musim kemarau terjadi kebakaran hutan beribu-ribu hektar, kekeringan, dan berakibat paceklik, tidak bukan dan tidak lain adalah akibat perbuatan jahad manusia. Dapat dicontohkan mengenai perbuatan jahat itu antara lain: perusakan ekosistem, pembalakan dan pengundulan hutan, penghurukan tanah lembah untuk sarana kehidupan baru yang moderen dengan kurang memperhatikan arus air manakala musim penghujan tiba sehingga menggenangi hunian manusia lain dan umumnya rakyat kecil, penambangan dalam skala besar secara liar dan tidak memperhatikan pemulihan alam lingkungannya, perilaku amoral, seperti LGBT, mafia narkoba, perjudian, perilaku politik Nicolomachiavelisme, demokrasi salah arah, aji mumpung berkuasa, dan pelecehan hal-hal yang disakrakalkan oleh kaum agamawan, khususnya Islam. Dalam kondisi demikian, Allah pasti akan menurunkan bencana (halak) yang membinasakan.

Keberuntungan Umat Muhammad

Yang dimaksud umat Muhammad adalah umat manusia yang lahir sezaman kerisalahan Nabi Muhammad sampai generasi kiyamat kelak. Mengapa? Nabi Muhammad adalah Utusan Allah terakhir untuk semua umat manusia. Sehingga, siapapun manusia di era Rasul terakhir adalah umat Rasul itu, meskipun orang tidak mempercayainya.

Teori hipotetis atas dasar telaah lebih dari 60 ayat Alquran yang menggambarkan gejala yang ajeg, yaitu “Jika manusia berbuat dhalim, maka Allah pasti membinasakannya” tidak berlaku bagi umat Muhammad. Mengapa? Jawabannya dapat dipetik dari doa maqbul Rasulullah sebagai berikut:

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى قَالَا حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِي الْأَرْضَ أَوْ قَالَ إِنَّ رَبِّي زَوَى لِي الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ مُلْكَ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا وَأُعْطِيتُ الْكَنْزَيْنِ الْأَحْمَرَ وَالْأَبْيَضَ وَإِنِّي سَأَلْتُ رَبِّي لِأُمَّتِي أَنْ لَا يُهْلِكَهَا بِسَنَةٍ بِعَامَّةٍ وَلَا يُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ فَيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ وَإِنَّ رَبِّي قَالَ لِي يَا مُحَمَّدُ إِنِّي إِذَا قَضَيْتُ قَضَاءً فَإِنَّهُ لَا يُرَدُّ وَلَا أُهْلِكُهُمْ بِسَنَةٍ بِعَامَّةٍ وَلَا أُسَلِّطُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ فَيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ وَلَوْ اجْتَمَعَ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِ أَقْطَارِهَا أَوْ قَالَ بِأَقْطَارِهَا حَتَّى يَكُونَ بَعْضُهُمْ يُهْلِكُ بَعْضًا وَحَتَّى يَكُونَ بَعْضُهُمْ يَسْبِي بَعْضًا وَإِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ وَإِذَا وُضِعَ السَّيْفُ فِي أُمَّتِي لَمْ يُرْفَعْ عَنْهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى تَعْبُدَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي الْأَوْثَانَ وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي كَذَّابُونَ ثَلَاثُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَلَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ قَالَ ابْنُ عِيسَى ظَاهِرِينَ ثُمَّ اتَّفَقَا لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ

Artinya:

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb dan Muhammad bin Isa keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Ayyub dari Abu Qilabah dari Abu Asma dari Tsauban ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah telah mendekatkan bumi ini untukku, atau beliau mengatakan: “Rabbku telah mendekatkan bumi ini untukku, sehingga aku dapat melihat antara timur dan baratnya. Sungguh, kekuasaan umatku akan sampai pada jarak yang diperlihatkan kepadaku tersebut. Aku telah diberi dua harta simpanan; harta berwarna merah (emas) dan harta berwarna putih (perak). Aku meminta kepada Allah untuk umatku, agar Allah tidak membinasakan mereka dengan paceklik secara global, serta tidak dikuasakan kepada mereka musuh dari selain mereka hingga merampas suluruh harta dan rumah-rumah mereka. Rabbku telah berfirman kepadaku: ‘Wahai Muhammad, jika Aku telah memberi satu ketetapan maka tidak akan dapat ditolak. Aku tidak akan membinasakan mereka dengan paceklik secara global, serta tidak menguasakan kepada mereka musuh dari selain mereka hingga merampas seluruh harta dan rumah-rumah mereka. Meskipun musuh berkumpul dari berbagai penjuru, atau beliau menyebutkan: “segala penjuru, hingga sebagian mereka (musuh) membunuh sebagian yang lain (umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam), serta menawan sebagian yang lain’. Yang aku kawatirkan atas umatku hanyalah orang-orang yang sesat, jika sebuah pedang diletakkan di hadapan umatku, maka pedang tersebut tidak terangkat (digunakan untuk jihad) hingga kiamat datang. Tidak akan datang kiamat hingga sebagian dari umatku menjadi musyrik dan menyembah berhala, sesungguhnya akan ada para pendusta dalam umatku, jumlah mereka tiga puluh orang, semuanya mengaku bahwa dirinya adalah Nabi. (padahal) aku adalah penutup para Nabi, tidak ada Nabi setelahku. Dan akan senantiasa ada dari umatku yang berada di atas kebenaran, Ibnu Isa menyebutkan, “mereka eksis, lalu keduanya sepakat menyebutkan, “tidak akan membahayakan mereka orang-orang yang menyelisihinya hingga datang perkara Allah (kiamat- HR. Abu Dawud: 3710, Ahmad:  16492, 21361).

BACA JUGA  Fatwa Tarjih: Hukum Shalat Tarawih dalam Kondisi Wabah Covid 19

Atas dasar doa Rasulullah di atas, umat Islam ini hancur bukan karena siapa-siapa, bukan karena penguasa dhalim dan Islamopobia, bukan karena kebencian komunisme dan kapitalisme, melainkan karena pertentangan diantara umat Islam itu sendiri. Sementara itu dua doa Rasulullah diperkenankan oleh-Nya, yaitu selamat dari binasa tenggelam dan kekeringan-paceklik. Praksisme dari dua doa ini berimplementasi bahwa kedhaliman yang terjadi pada umat sekarang ini tidak akan terjadi bencana yang membinasakan suatu negri tumpas habis. Sehebat apapun gempa bumi terjadi, masih banyak yang hidup daripada yang mati, demikian juga karena tsunami, tanah longsor, erupsi gunung berapi, angin topan, likuifaksi, penggundulan hutan, kekeringan berkepanjangan, banjir bandang, kebakaran hutan, dan peperangan dengan berbagai senjata pemusnah masal. Kepunahan manusia bersama dengan kehancuran alam semesta yang secara teknis disebut kiyamat kubra. Inilah yang dimaksud kullu syaiin haliku illa wajhah (segala sesuatu pasti hancur kecuali diri-Nya, Allah – QS.al-Qashash/28:88).

Penutup 

Umat Islam memiliki harapan karena tidak bisa dikalahkan oleh umat lain yang manapun. Sekarang ini terjadi anomali di luar nalar manusia. Islamopobia diperjuangkan oleh kaum kuffar sejak abad 13 hingga sekarang melalui metode dan ranah apapun yang bisa mereka lakukan. Akan tetapi justru muallaf terjadi di semua belahan dunia. Karena itu pelajaran yang baik ini harus diambil, yaitu jangan saling bertikai. Kemunculan aliran, madzhab, sekte, hizb, hanyalah memperlemah umat Islam itu sendiri. Kalaupun tetap beragama dengan model madzhabisme, masing-masingnya harus mengembangkan toleransi yang sebenarnya. Karena itu, kaum muslimin kurang bijak kalau hanya selalu menuding kepada islamophobia. rezim otoriter, rezim ologarkhi, buzzer penyebar fitnah terhadap islam wal muslimin, dan aneka kambing hitam lainnya. Benahilah diri kita sendiri dengan persatuan dan kesatuan, insya Allah kita akan menemukan kejayaan kembali.

Semarang, akhir Februari 2021.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts