Danusiri : Aktifitas Hidup, Jika Diniati Ibadah Mendapat Pahala

0
555
Ketua Majelis Tabligh PWM Jateng, Drs. H.M Danusiri, M. Ag, saat memberikan pencerahan pada pengajian subuh ceria di masjid An Nuur Kedonsari, Penyangkringan. Weleri, Kendal

PWMJATNG.COM, KENDAL – Ibadah adalah bertaqarub (mendekatkan diri sedekat – dekatnya) kepada Allah, dengan jalan mentaati segala perintahNya dan menjauhi laranganNya, serta mengerjakan segala sesuatu yang syar’i (Allah dan Rasulullah) mengijinkannya. Jadi hakekat ibadah hanya semata – mata kepada Allah Swt, maka segala aktifitas hidup jika diniati dengan lurus, sunggung – sungguh dan tidak main – main beribadah mendapat pahala. Demikian dikatakan oleh Drs. H.M. Danusiri, M. Ag dalam acara subuh ceria Sabtu (1/4) di masjid An nuur Kedonsari, Penyangkringan Weleri, Kendal.

Di hadapan ratusan anggota jamaah, Danusiri yang juga ketua Majelis Tabligh PWM Jateng meminta untuk membuka wawasan keilmuan tentang ibadah dengan memahami macam – macam dan ciri – ciri ibadah mahdhoh.

“ Macam – macam ibadah, yaitu ibadah mahdhoh dan Ibadah ghoiru mahdhoh.”  Ibadah mahdhoh/ khusus/ dalam arti sempit, sedangkan ghoiru mahdhoh/’ammah/muamalah/dalam arti luas. Dijelaskan, macam – macam ibadah mahdhoh, seperti thaharah, shahadad, shalat, puasa, zakat, haji, mengurus janazah, Aqiqah, udhiyah (qurban) zikir, dan do’a. “ Shahadad tauhid dan rasul, tidak boleh ditambahi. Aqiqah tidak boleh diganti dengan sepasaran, selapanan, dan ulang tahunan. Zikir harus dengan kalimat thoyyibah, tidak boleh membuar formula sendiri. “ bentuk ibadah atau penghambaan yang murni hanya merupakan hubungan antara hamba dengan Allah secara langsung. “ katanya. Dijelaskan lagi, ibadah mahdhoh memiliki 4 prinsip, yaitu ; keberadaannya harus berdasarkan adanya dalil perintah dari Al qur’an maupun as sunah, tata caranya harus berpola kepada contoh rasulullah,  bersifat supra rasional (di luar jangkauan pikiran manusia), dan ibadah mahdhoh berazas taat.

Sedangkan ciri – ciri ibadah mahdhoh menurut Danusiri ada  tujuh, “ Ibadah mahdhoh bercirikan adanya penghayatan yang mendalam dalam melaksanakan, Allah menentukan aturan – aturannya, Rasulullah menentukan aturannya dan mencontoh pelaksanaannya, Allah dan Rasullullah member penjelasan eksplisit keutamaannya bagi yang melakukannya, Allah member penjelasan eksplisit bagi yang melanggarnya, pelaksanaan ibadah mahdhoh didasarkan pada iman dan tidak berani meninggalkannya, dan keluar dari pakem, out group tergolong kuffar, murtad, bid’ah, bukan ahlu sunnah, dan sebangsanya “

Atas dasar tujuh ciri – ciri ibadah mahdhoh tersebut, Danusiri menilai tentang berkembangnya ibadah mahdhoh di luar itu sebagai ibadah mahdhoh susulan, ibadah mahdhoh yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah, seperti istighosah, mujahadah, yasinan, tahlilan, manaqiban, nariyahan, barjanjen.

“ Ibadah mahdhoh susulan tidak sekedar tradisi dan budaya, karena ada unsur yang sama dengan ibadah mahdhoh, tetapi mereka yang konsen dengan ibadah yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah itu memiliki ciri – ciri yang sama dengan ibadah mahdhoh “ jelasnya. Beliau juga menekankan ibadah mahdhoh milik Allah, “ Ibadah mahdhoh 100% hak Allah. Keduanyalah yang mengaturnya, hak eksklusiv, selaian Allah dan Rasulullah tidak boleh mengarangnya, “ tegas Danusiri, “maka, “ lanjutnya “ Jangan pernah melakukan suatu ibadah( mahdhoh ) kalau tidak mengetahui petunjuknya secara jelas supaya tidak tersesat “  ( A. Ghofur/MPI Kendal )