Editorial

Wajah Humanisme Islam Berwawasan Profetik Antroposentris

Beberapa dekade terakhir, dunia telah memasuki era yang serba cepat. Meminjam pendapat seorang psikolog asal Amerika, Dr. Stephanie Brown, masyarakat modern telah menetapkan “kecepatan” sebagai kunci “kesuksesan”. Era yang serba cepat ini ditandai dengan munculnya makanan siap saji, internet, perkembangan teknologi yang signifikan, dsb. Islam sebagai salah satu agama samawi, berada di tengah hingar bingar dunia yang serba cepat ini. Lantas, dengan melihat landscape kehidupan hari ini, bagaimana Islam mampu bertransformasi menjadi adaptif dan dapat memberikan solusi bagi manusia universal?

Islam dan Realita Sosial

Hasan Hanafi dalam Kiri Islam mengemukakan bahwa umat Islam hari ini dihadapkan dengan puncak problematika zaman. Dari luar, umat muslim dihadapkan dengan ancaman imperialisme, zionisme dan kapitalisme. Sedangkan dari dalam, terdapat ancaman akan kemiskinan, ketertindasan dan keterbelakangan. Dua hal yang menurut Hasan Hanafi menjadikan Islam pada posisi sekarang ini. Pertama, pengaruh Asy’ariyah yang melatarbelakangi keyakinan umat untuk menunggu pemberian dan ilham dari langit. Dan kedua, pengaruh tasawuf yang menyebabkan dekadensi umat muslim, di mana Islam seakan-akan berubah dari suatu gerakan horizontal menjadi gerakan vertikal yang notabenenya keluar dari kehidupan dunia.

Di Indonesia sendiri, Islam dihadapkan dengan berbagai realita sosial yang terjadi secara global maupun turunannya. Dalam dimensi kehidupan berbangsa, umat muslim disibukkan dengan politik identitas yang tidak ketemu ujung pangkalnya. Kemudian dalam dimensi ekonomi sendiri, umat Islam di Indonesia belum mampu mencapai kemandirian ekonomi secara kaffah. Ekonomi berbasis keumatan yang sudah dirintis sejak lama, belum mampu mengentaskan sebagian umat muslim dari jurang kemiskinan. Dalam dimensi politik, umat muslim juga masih sangat kecil persentase keterwakilannya baik di ranah legislatif maupun eksekutif; baik pada level daerah maupun nasional.

Problematika sosial yang sudah menumpuk, diperburuk dengan praktik beragama yang tidak mencerminkan spirit rahmatan lil ‘alamiin. Terbukti dengan adanya tragedi pengerusakan masjid kelompok Ahmadiyah beberapa waktu yang lalu. Sumbu pendek beberapa oknum umat mencederai image umat muslim secara keseluruhan, seperti kata pepatah tinta setitik rusak susu sebelanga.

Irisan Islam Puritan dan Islam Progresif

Dalam kehidupan beragama, umat Islam telah mengalami berbagai fase perkembangan. Di dalam Buku Dirasatul Firaq sendiri, umat Islam sejak zaman dahulu telah terbagi dalam beberapa kelompok (firqoh), termasuk di dalamnya Ahlussunnah wal Jama’ah. Di Indonesia sendiri, terdapat berbagai macam paham agama Islam, baik yang menginduk dari beberapa negara di Jazirah Arab, maupun yang muncul karena terjadi akulturasi Islam dan local wisdom masyarakat Indonesia.

Menurut hasil pembacaan penulis, di Indonesia secara garis besar terdapat tiga kelompok besar paham Islam yang masing-masing memiliki ciri khas dalam gerakan keagamaannya. Pertama, kelompok puritan. Kelompok ini menurut Khaled Abou El Fadl diartikan sebagai sekelompok orang Islam yang dalam hal keyakinan menganut faham absolutisme dan tak kenal kompromi. Khaled berpendapat bahwa kelompok ini cenderung tidak toleran terhadap berbagai sudut pandang yang berkompetisi dan memandang realitas pluralis sebagai satu bentuk kontaminasi atas kebenaran sejati.

Kedua, kelompok progresif. Omar Safi menjelaskan bahwa kelompok ini cenderung memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, seperti pengembangan civil society; demokrasi; keadilan; kesetaraan gender; pembelaan terhadap kaum tertindas; dan pluralisme dengan spirit perjuangan Islam. Drs. KH. Tafsir, M.Ag. berpendapat, bahwa kelompok proresif ini tidak hanya memahami agama dengan cara pandang burhani saja, melainkan memasukkan cara pandang bayani yang didalamnya terdapat ilmu pengetahuan, dan irfani.

Ketiga, kelompok moderat. Pada kelompok ketiga ini, terdapat perpotongan antara kelompok Islam puritan dan kelompok Islam progresif. Menurut Prof. Dr. KH. Yunahar Ilyas, kelompok Islam moderat memiliki ciri-ciri di antaranya: menjalankan ajaran Agama Islam sesuai yang diajarkan oleh Rasulullah; berdakwah dengan menggembirakan dan bukan menakut-nakuti; serta kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah. Lebih lanjut, menelisik buah pikir KH. Abdurrahman Wahid dan Prof. Dr. KH. Haedar Nashir, Islam moderat sendiri dapat diartikan sebagai Islam yang bersifat tengahan, yang menjalankan syariat Islam sesuai dengan realita zaman dan tidak cenderung menuju ekstrem kanan maupun kiri.

Al Ma’un sebagai Teologi Inklusif

Prof. Dr. KH. Haedar Nashir dalam Pidato Iftitah Tanwir Muhammadiyah kemarin menyampaikan, bahwa dengan prinsip-prinsip Islam moderat, Muhammadiyah senantiasa menggunakan Al Ma’un sebagai teologi inklusif. Hal ini perlu menjadi perhatian umat muslim, khususnya di Indonesia dalam memandang dan mengatasi problematika kebangsaan dan keumatan.

Al Ma’un yang juga berisi tentang prinsip-prinsip pembebasan, sudah sepatutnya kita (umat muslim di Indonesia) telaah dan implementasikan bersama. Al Ma’un yang dalam Buku Teologi Al Ashr: Etos dan Ajaran KH.A.Dahlan yang Terlupakan karya Azaki Khorudin, memberikan gambaran tentang dimensi religius (hablu minnallah) dan dimensi sosial (hablu minannas). Dalam buku tersebut disampaikan bahwa kesalehan agama tidak substansial apabila tidak diikutsertai dengan kesalehan sosial. Yang mana ketika spirit Al Ashr mampu kita amalkan bersama secara masif dan universal, maka sebagian besar problematika kebangsaan dan keumatan akan terselesaikan.

Inklusifitas yang digambarkan dalam kontekstualisasi Al Ashr memperlihatkan Islam yang humanis dan berwawasan profetik antroposentris. Mengapa demikian? Prof. Dr. KH. Haedar Nashir menyampaikan, bahwa Islam humanis dengan paradigma profetik antroposentris memiliki artian kemanusiaan berbasis nilai-nilai luhur ilahiyah yang teraktualisasi secara fungsional dalam memecahkan persoalan-persoalan kemanusiaan semesta di muka bumi. Perlu di garis bawahi, bahwa dengan Al Ma’un sebagai teologi inklusif yang terimplementasikan sebagai wajah Islam humanis berwawasan profetik antroposentris, mampu memecahkan permasalahan kemanusiaan secara umum, tidak hanya terkhusus pada umat Islam.

Praksis Gerakan Kemanusiaan Universal

Paradigma profetik antroposentris sendiri bersandar pada ilmu sosial profetik (ISP) Kuntowijoyo yang diimplementasikan dalam praktik-praktik gerakan kemanusiaan universal. Ilmu sosial profetik sendiri memiliki tiga pilar utama, yakni: humanisasi, liberasi dan transendensi. Humanisasi dalam ISP yang diinterpretasikan dari ta’muruuna bil ma’ruf, mewajibkan manusia untuk menganjurkan dan menegakkan kebajikan, yang mana akan mengantarkan manusia menuju fitrahnya (melakukan hal-hal baik). Kemudian liberasi sendiri merupakan interpretasi dari tanhauna ‘anil munkar, yang menurut Kuntowijoyo pilar ini mengusung diskursus sosial yang mensyaratkan manusia untuk pro-aktif dalam menolak dan menentang kebatilan, kemungkaran dan ketidak adilan. Dan terakhir, transendensi merupakan inti dari dua pilar sebelumnya. Transendensi sendiri merupakan konsep yang diinterpretasikan dari tu’minuuna billah, di mana prinsip ini dimaksudkan untuk menjadikan nilai-nilai transenden (keimanan) sebagai bagian penting dari proses pembangunan peradaban.

Praktik-praktik gerakan kemanusiaan universal sebagai buah dari implementasi spirit profetik antroposentris sebagaimana penulis sampaikan di atas memiliki beberapa aspek fundamental, diantaranya: membebaskan, memberdayakan, memajukan, dan mencerahkan kehidupan.

Dengan pengamalan dari humanisme Islam yang berwawasan profetik antroposentris, umat manusia, yang di dalamnya terdapat masyarakat muslim, akan mampu menyelesaikan problem-problem keagamaan; kebangsaan; kenegaraan; dan kemanusiaan universal. Dengan kata lain, Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamiin sejatinya mengajarkan spirit kemanusiaan yang ramah; memanusiakan manusia; berkeadilan; berkeadaban; santun; berkemajuan; dan menggembirakan. Mengutip pernyataan Drs. KH. Tafsir, M.Ag., “Dakwah itu menyapa semua orang, siapapun kita sapa, siapapun dia. Itu prinsip dakwah. Kemudian yang kedua, dakwah itu merangkul bukan memukul, sehingga siapapun harus kita rangkul, baik orang yang suka maupun yang tidak suka kepada kita, harus kita rangkul bukan kita marahi.” Wallahua’lam bi Showwab.

*) Muhammad Taufiq Ulinuha

Muhammad Taufiq Ulinuha

Pemimpin Redaksi PWMJateng.com, Redaktur Rahma.ID.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE