Tiga Mahasiswa PTM Juara Lomba Puisi Piala Kemendikbud

Penyerahan Hadiah Juara Lomba Puisi Kemendikbud 2020

Semarang – Hari ini, Kamis (31/12) para peserta terbaik diundang dalam penganugerahan hasil Lomba Cipta Puisi Mahasiswa 2020 yang diadakan oleh Kemendikbud dan Galeri Gallery di Kafe Warga Lokal Semarang. Sedangkan peserta lainnya mengikuti secara daring. Lomba penulisan puisi piala Mendikbud ini mengambil tema “Budaya Toleransi di Tengah Pandemi Covid 19”.

Pada acara ini, diumumkan juara 1-3 dan harapan tiga orang. Para juara ini ditentukan oleh tiga dewan juri, yakni Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Dr. Hilmar Farid, seniman Rieke Dyah Pitaloka, dan Wakil Ketua Komisi X DPR RI yang bermitra dengan Kemendikbud.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Agustina Wilujeng Pramestuti, SS, MM, mewakili juri mengumumkan juara lomba secara daring dan luring. Tiga juara diantara nya berasal dari perguruan tinggi Muhammadiyah.

Berikut urutan para pemenang lomba, mahasiswa Universitas Diponegoro Ranu Dipo Alam (juara 1) dengan puisi “Ambivalensi Pandemi”, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta Adiba Nikmatul Ulya S (juara 2) dengan puisi ”Litani dan Toleransi”, dan mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta Achmad Sudiyono Efendi (juara 3) dengan puisi Fragmen-Fragmen Kepulangan. Masing-masing mendapatkan hadiah Rp10 juta (juara 1), Rp7 juta (juara 2), dan Rp3 juta (juara 3).

BACA JUGA  Pelantikan Wadir Akper Muhammadiyah Kendal, Chairil Anwar: Banyak PTM yang Berubah Nama

Kemudian juara harapan yakni mahasiswa Politeknik Negeri Jayapura D E Bettay dengan puisi “Toleransi Sosial”, mahasiswa Universitas Mataram Raja Ali Haji (Kepri) Derlina Siregar dengan judul puisi “Penyambung Toleransi”, dan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Buton (Sulteng) Fardani S dengan judul puisi “Nilai Toleransi dalam Pandemi”. Ketiganya masing-masing mendapat hadiah Rp1,5 juta.

Saat penjurian, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Dr. Hilman Farid menyatakan karya-karya yang masuk secara estetis sudah menunjukkan kualitas untuk berlaga di kancah nasional.
“Kami harus membaca detail tiap puisi untuk mendapatkan juara, karena kualitas puisi yang nyaris merata” ujar Hilmar.

Ketua Panitia Teguh Hadi Prayitno menyebut lomba ini ditutup pada 18 Desember 2020, dengan total 712 pesera yang masuk, yang masing-masing peserta ada yang mengirim 3 karya puisi. Selanjutnya dilakukan seleksi ada 97 peserta yang tidak memenuhi syarat karena tidak melampirkan kartu mahasiwa atau surat keterangan sebagai mahasiwa. Peserta paling banyak berasal dari Universitas Diponegoro (222 orang). Kemudian diikuti Universitas Dian Nuswantoro Semarang (55), Universitas Muhammadiyah Semarang (35), Universitas Aisyiyah Yogyakarta (28), Politeknik Kudus (16), Universitas Negeri Semarang (14), dan Politeknik Negeri Semarang (9).

BACA JUGA  Jiwa dan Ruh Seorang Guru Penentu Pendidikan

Selebihnya menyebar dari universitas luar Jawa diantaranya dari Sumatera (Universitas Aisyiah Sumbar, Universitas Maritim Raja Ali Haji Riau, Universitas Bangka Belitung, Universitas Negeri Padang, Universitas Pring Sewu Lampung), Kalimatan (Sekolah Tinggi Teknologi Kesehatan dan Sain Wiyata Husada Samarinda, Unmuh Palangka Raya), Universitas Muhammadiyah Button Sulawesi Tenggara, Politeknik Kesehatan Jayapura, Universitas Muhammadiyah Mataram.

Sedangkan yang dari Jawa di luar Jawa Tengah antara lain Universitas Indonesia, UNJ, STAN, UPN Veteran, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Sekolah Tinggi Farmasi Tangerang, Universitas Negeri Surabaya, Unisma Malang, Universitas Negeri Malang, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Trunojoyo Madura, UGM, ISI Yogyakarta, Universitas PGRI Yogyakarta, Universitas Negeri Yogyakarta, UAD Yogyakarta, STIKES Aisyah Yogyakarta.

Peserta yang dari perguruan tinggi di Jawa Tengah di antaranya Universitas Diponegoro, Universitas Dian Nuswantoro, Universitas Muhammadiyah Semarang, Politeknik Kudus, Universitas Negeri Semarang, Akademi Statistika Muhammadiyah Semarang, dan Universitas Tidar Magelang.

BACA JUGA  Kerja Sebelum Lulus, Hal Biasa Bagi AIS Muhammadiyah

Kemudian Universitas Stikubank, Universitas Jenderal Soedirman, Universitas PGRI Semarang, UIN Walisongo, Universitas Sultan Agung Semarang, UNS Solo, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Unwahas Semarang, Poltekes Negeri Semarang, Unisnu Jepara, Universitas Muhammah Kudus dan beberapa perguruan tinggi lainnya.

“Ini menunjukkan bawa mahasiswa memiliki perhatian pada dunia sastra, khususnya puisi. Padahal tidak semua perguruan tinggi itu memiliki fakultas ilmu budaya atau fakultas sastra,” kata Teguh.

Teguh yang juga Ketua Galeri Gallery menambahkan, dengan lomba ini, diharapkan ada gambaran yang lebih utuh bagaimana mahasiswa merespon kasus Covid-19, dan mengembangkan toleransi di masa pandemi ini.

“Melalui puisi, diharapan didapatkan gambaran bagaimana mahasiswa merespon wabah Covid-19 ini, terutama berkaitan dengan budaya toleransi dan kegotongroyongan. Sikap mahasiswa yang diwujudkan dalam bentuk puisi itu, bagaimana pun adalah cermin dari kenyataan yang sebenarnya. Sehingga dapat juga menjadi ukuran bagaimana di tengah pandemi, generasi muda kita, kaum milenial, merespon hal itu,” katanya. (*)

Total
0
Shares
1 comment
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts