Abdul Mu’ti Resmikan Revitalisasi Satuan Pendidikan Salatiga, Tekankan Sekolah Aman dan Nyaman

PWMJATENG.COM, Salatiga – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Abdul Mu’ti meresmikan revitalisasi satuan pendidikan Salatiga pada Senin, 13 April 2026, di SMA Sainstek Ahmad Dahlan Salatiga, sembari menegaskan bahwa program itu menjadi tindak lanjut arahan Presiden tentang sekolah yang asri, aman, sehat, resik, dan indah.
Peresmian program itu menjadi pintu masuk penguatan sekolah sehat, aman, dan nyaman di Salatiga. Abdul Mu’ti menegaskan, pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah agar pembenahan sekolah tidak berhenti pada sarana fisik, tetapi juga menyentuh budaya hidup sehat di lingkungan pendidikan.
Menurut dia, pemerintah lebih dulu menyiapkan landasan kebijakan untuk mendukung agenda tersebut. “Menindaklanjuti arahan Bapak Presiden tentang sekolah-sekolah yang asri, aman, sehat, resik, dan indah, kami sudah memiliki beberapa langkah,” ujar Abdul Mu’ti.
Ia menjelaskan, salah satu pijakan utama program itu ialah Peraturan Mendikdasmen Nomor 6 Tahun 2025 tentang sekolah yang aman dan nyaman. Karena itu, revitalisasi satuan pendidikan Salatiga diarahkan untuk memperkuat ekosistem belajar yang bersih, tertib, dan mendukung kesehatan siswa.
“Yang pertama adalah Peraturan Mendikdasmen Nomor 6 Tahun 2025 tentang sekolah yang aman dan nyaman. Ini selaras dengan arahan Bapak Presiden,” ujar Abdul Mu’ti.
Sinkron dengan Program Sekolah Sehat
Selain memperkuat aspek kebijakan, Kementerian juga menyinkronkan program tersebut dengan agenda lintas sektor. Abdul Mu’ti mengatakan, pemerintah menghubungkan program sekolah sehat dengan program Kementerian Kesehatan, pelaksanaan UKS, dan upaya menciptakan lingkungan belajar yang bersih.
Karena itu, sekolah didorong menyediakan ruang dan fasilitas yang mendukung kebersihan. Langkah ini penting agar program sekolah sehat tidak berhenti sebagai slogan, tetapi hadir dalam kebiasaan sehari-hari di lingkungan pendidikan.
“Kemudian, kami juga sudah mengembangkan beberapa program untuk sekolah sehat,” ujar Abdul Mu’ti. “Program ini kami sinkronkan dengan beberapa program Kementerian Kesehatan, juga dengan pelaksanaan UKS di sekolah, serta menciptakan lingkungan yang bersih.”
Lebih jauh, ia menilai konsep sekolah aman dan nyaman harus dibangun dari kebiasaan sederhana. Karena itu, sekolah-sekolah juga didorong memiliki fasilitas kebersihan yang memadai dan mudah diakses warga sekolah.
Dorong Pemilahan Sampah dan Budaya 3R
Di sisi lain, Abdul Mu’ti menekankan pentingnya pendidikan lingkungan dalam kegiatan belajar. Sekolah, kata dia, perlu membiasakan pemilahan sampah organik dan nonorganik sejak dini.
Selanjutnya, pemerintah juga mendorong penerapan prinsip 3R di lingkungan sekolah. Dengan pola itu, siswa tidak hanya menjaga kebersihan, tetapi juga belajar mengelola sampah menjadi produk yang bermanfaat dalam skala kecil.
“Kemudian, kami juga mendorong adanya tempat pembuangan sampah yang dipilah antara sampah organik dan nonorganik,” ujar Abdul Mu’ti. “Kemudian, kami dorong pula kemampuan sekolah untuk melakukan efisiensi melalui prinsip 3R, yaitu reduce, reuse, recycle.”
Ia menegaskan, sasaran utama program itu ialah menanamkan kesadaran lingkungan kepada para murid. Dengan demikian, sekolah dapat membentuk kebiasaan hidup sehat, hemat energi, dan peduli pada lingkungan sekitar.
“Tapi yang ingin kita tumbuhkan adalah kesadaran pada murid-murid agar mencintai lingkungan, berhemat energi, dan membiasakan hidup sehat,” ujar Abdul Mu’ti.
Bersepeda ke Sekolah Jadi Budaya Baru
Selain itu, Abdul Mu’ti juga menyoroti pentingnya kemandirian siswa dalam perjalanan ke sekolah. Salah satu langkah yang mulai dijalankan ialah gerakan bersepeda ke sekolah di Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang.
Program tersebut, menurut dia, bukan hanya mendukung gaya hidup sehat, tetapi juga membantu menekan kemacetan dan polusi udara. Karena itu, orang tua diminta memberi ruang bagi anak-anak yang sudah cukup dewasa untuk berangkat sekolah secara mandiri.
“Karena itu, kami mencanangkan gerakan bersepeda ke sekolah yang kami lakukan di Kota Salatiga, juga di Kabupaten Semarang,” ujar Abdul Mu’ti.
Ia menambahkan, gerakan itu tetap harus ditopang sarana dan prasarana yang aman. Dengan dukungan tersebut, revitalisasi satuan pendidikan Salatiga diharapkan tidak sekadar menghadirkan pembaruan fasilitas, tetapi juga membangun budaya sekolah yang sehat, tertib, dan berkelanjutan.
“Saya kira itu bisa menjadi salah satu gerakan dan juga budaya yang kita tumbuhkan di sekolah,” ujar Abdul Mu’ti.
Editor: Al-Afasy



