Lewat RendangMu Lazismu, Safari Qurban di Boyolali Angkat Nilai Ibadah Sosial

PWMJATENG.COM, Boyolali – Kajian zakat dan safari qurban di RS PKU Aisyiyah Boyolali, Rabu, 15 April 2026, menempatkan RendangMu Lazismu sebagai salah satu inovasi qurban yang ditawarkan kepada peserta. Di hadapan pegawai rumah sakit, Ikhwanushoffa menekankan bahwa qurban dan zakat harus dipahami sebagai ibadah sosial yang manfaatnya bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Lazismu memperkenalkan inovasi RendangMu Lazismu dalam kajian zakat dan safari qurban tersebut sebagai model qurban yang lebih praktis, tahan lama, dan mudah didistribusikan. Program itu didorong agar manfaat qurban tidak berhenti pada momentum penyembelihan, tetapi bisa menjangkau penerima manfaat lebih luas.
Dalam forum itu, Ikhwanushoffa menegaskan bahwa qurban harus menjawab kebutuhan sosial masyarakat. Karena itu, ia mengaitkan ibadah qurban dengan semangat kepedulian yang terorganisasi dan berkelanjutan.
“Di Muhammadiyah, Lazismu ada inovasi qurban RendangMu. Manfaatnya banyak, tahan lama, siap saji, dan panjenengan juga terjaga niatnya,” ujar Ikhwanushoffa.
Karena dikemas dalam bentuk siap saji, RendangMu Lazismu dinilai memberi nilai tambah dibanding distribusi daging segar biasa. Selain lebih awet, program ini juga memudahkan penyaluran ke wilayah yang membutuhkan jangkauan distribusi lebih panjang.
Qurban dan Zakat Didorong Jadi Ibadah Sosial
Dalam kajian tersebut, Ikhwanushoffa juga menekankan bahwa ibadah sosial tidak bisa dipisahkan dari kepedulian kepada masyarakat miskin dan kelompok rentan. Menurut dia, ajaran Islam tidak hanya menuntut umat menjalankan ritual, tetapi juga memastikan manfaatnya dirasakan orang lain.
“Di surat Al-Ma’un saja disebutkan orang yang sholat saja bisa celaka, apalagi ibadah-ibadah yang lain. Celakanya karna apa? Karena menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin,” ujar Ikhwanushoffa.
Karena itu, ia mengajak peserta memahami zakat dan qurban sebagai amalan yang berdampak langsung bagi publik. Pesan itu disampaikan agar pekerja, tenaga medis, hingga jajaran manajemen tidak melihat ibadah sosial sekadar sebagai kewajiban administratif.
Ia juga menyinggung pentingnya evaluasi diri dalam mengelola penghasilan dan amal. Menurut dia, semangat itu sejalan dengan peringatan dalam Al-Qur’an agar setiap Muslim memperhatikan apa yang telah dipersiapkan untuk hari esok.
“Tidak perlu menyesali gaji yang sudah dipotong 2,5 persen. Karena, 2,5 persen yang ada pada panjenengan itu ada hak untuk mereka 8 asnaf,” ujar Ikhwanushoffa.
Potong Gaji Zakat 2,5 Persen Jadi Penguat Kepedulian
Selain memperkenalkan qurban RendangMu, kajian itu juga menyoroti praktik zakat penghasilan di RS PKU Aisyiyah Boyolali. Rumah sakit tersebut menerapkan sistem potong gaji 2,5 persen untuk zakat, mulai dari petugas kebersihan hingga dokter dan jajaran direksi.
Kebijakan itu, menurut Ikhwanushoffa, membantu pegawai menjaga tanggung jawab sosialnya. Dengan begitu, zakat penghasilan tidak hanya menjadi kewajiban personal, tetapi juga budaya kelembagaan yang memperkuat kepedulian kepada sesama.
Ia lalu menjelaskan bahwa persoalan nisab tidak seharusnya menghalangi semangat berbagi. Sebab, meski belum memenuhi batas wajib zakat, seseorang tetap diperbolehkan mengeluarkan hartanya sebagai bentuk kebaikan dan pendekatan diri kepada Allah.
Karena itu, kajian zakat dan safari qurban tersebut diarahkan untuk membangun kesadaran bahwa zakat penghasilan dan RendangMu Lazismu sama-sama berada dalam satu napas ibadah sosial. Di satu sisi, zakat menyentuh kebutuhan mustahik secara rutin. Di sisi lain, qurban kemasan siap saji memberi manfaat yang lebih panjang, praktis, dan relevan dengan kebutuhan distribusi masa kini.
Pada akhirnya, forum di RS PKU Aisyiyah Boyolali itu tidak hanya menjadi ruang kajian keagamaan. Namun, forum tersebut juga menjadi sarana penguatan gerakan filantropi Islam melalui zakat penghasilan, Qurbanmu Lazismu, dan inovasi RendangMu Lazismu yang terus diperkenalkan kepada masyarakat.
Kontributor: Rizky Maradona
Editor: Al-Afasy



