Bukan Pakai Plastik, Uniknya Cara Panitia Qurban di Blimbing Ini Bikin Warganet Takjub
PWMJATENG.COM, SUKOHARJO – Melupakan kantong plastik sekali pakai, panitia qurban di PCM Blimbing justru mengusung konsep qurban ramah lingkungan dengan memadukan aroma daun jati dan besek bambu, mengubah tradisi distribusi daging menjadi aksi nyata menjaga bumi yang kini viral dan penuh inspirasi.
Pemandangan unik tersaji di lokasi penyembelihan yang dikelola Majelis Lingkungan Hidup (MLH) PCM Blimbing tahun ini. Panitia kini tidak lagi menggunakan kantong plastik sekali pakai saat membagikan daging kepada masyarakat. Mereka memilih besek bambu dan lembaran daun jati sebagai media pembungkus yang lebih ramah lingkungan.
Inovasi ini mencerminkan semangat qurban ramah lingkungan yang diusung dalam perayaan Idul Adha 1447 H. Penggunaan bahan alami tersebut memberikan aroma khas sekaligus menekan timbulan sampah plastik secara drastis. Selain itu, panitia bersama siswa dan santri menata besek-besek tersebut dengan rapi sebelum mendistribusikannya ke warga.
Ibadah Berbasis Kesadaran Lingkungan
Sekretaris MLH PCM Blimbing, ust. Saptoro, S.Pd., menegaskan pentingnya menyelaraskan ibadah dengan pelestarian alam. Menurutnya, umat Islam seharusnya menjaga kesucian ibadah qurban agar tidak meninggalkan beban lingkungan berupa sampah bagi masyarakat.
“Ibadah qurban mengajarkan keikhlasan dan kepedulian. Maka, kami menghadirkan semangat berbagi itu sekaligus dengan kepedulian terhadap lingkungan. Jangan sampai ibadah yang mulia justru meninggalkan persoalan sampah plastik,” ujar ust. Saptoro.
Selanjutnya, gerakan ini menyasar distribusi 38 ekor kambing dan 1 ekor sapi yang dihimpun dari para mudhahhy. Panitia menyalurkan daging hewan qurban tersebut ke berbagai titik di Sukoharjo, Karanganyar, hingga ke kawasan Gunung Wangunan di Giriwoyo, Wonogiri.
Pendidikan Karakter untuk Generasi Muda
Kolaborasi lintas lembaga ini melibatkan banyak pelajar dari MTs, SMP, dan PAUD-SD Muhammadiyah Imam Syuhodo. Mereka tidak hanya mempelajari tata cara penyembelihan, tetapi juga mengasah empati melalui cara membungkus daging qurban tanpa plastik.
Kepala SMP Muhammadiyah Imam Syuhodo, ust. Hajri, M.Pd., menganggap kegiatan ini sebagai sarana pendidikan karakter yang efektif. Sebab, pelajar mendapatkan pengalaman berharga yang tidak tersedia di dalam kelas.
“Anak-anak tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga mempraktikkan langsung empati, kepedulian, dan makna berbagi. Ini menjadi pengalaman pendidikan yang hidup dan membekas,” ungkap ust. Hajri.
Menanamkan Nilai Khalifah Sejak Dini
Pendekatan edukatif ini turut mendapat apresiasi dari perwakilan PPTQ Shirathun Najah, ustadzah Istiq, S.Pd. Ia menekankan bahwa pengurangan penggunaan plastik merupakan bagian dari amanah manusia sebagai khalifah di bumi.
“Islam mengajarkan bahwa manusia adalah khalifah di bumi. Maka, kita mengurangi sampah plastik dalam kegiatan qurban sebagai bagian kecil dari amanah besar menjaga ciptaan Allah,” tutur ustadzah Istiq.
Akhirnya, langkah kecil ini diharapkan menjadi inspirasi bagi masyarakat luas untuk menerapkan gaya hidup minim sampah. Dengan mengadopsi manfaat besek bambu untuk qurban, perayaan hari besar keagamaan di masa depan akan lebih terjaga keasriannya.
Semangat kebersamaan yang terjalin antara lembaga pendidikan dan alumni membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari inisiatif sederhana. Dengan demikian, program ini menegaskan bahwa Idul Adha menjadi momentum tepat untuk mempraktikkan tips Idul Adha zero waste secara nyata bagi semesta.
Kontributor: Reee
Editor: Alafasy



