BeritaKolom

Puritanisme Lawan dari Budaya (Kultur), Benarkah?

Puritanisme Lawan dari Budaya (Kultur), Benarkah? (Respon atas Tulisan Nurbani Yusuf)

Oleh : Prof. Dr. Ahwan Fanani, M.Ag.*

PWMJATENG.COM, Surakarta – Membaca tulisan Nurbani Yusuf, terasa aura negatif dalam melihat persoalan kultur di Muhammadiyah. Biang keroknya adalah puritanisme. Akibatnya, Muhammadiyah dianggap anti budaya dan anti tradisi.

Sebagian dari pernyataan itu saya setuju. Sebagian lain terlalu berlebihan. Sebagai autokritik boleh, tapi terlalu negatif melihat diri sendiri itu alamat tidak punya keyakinan diri.

Pertama, puritanisme memang bagian dari sejarah Muhammadiyah. Puritanisme itulah yang membawa kultur kemerdekaan individu, otoritas legal rasional atau otoritas organisasi, efisiensi dan efektivisme, fairness dan kejujuran. Etos puritanisme itulah yang disebut Weber sebagai pendorong kapitalisme dan undustralisme. Weber juga memperkenalkan tindakan rasionalitas instrumental dan nilai sebagai varian baru tindakan manusia,selain rasionalitas tradisional.

Kedua, dalam bidang agama, puritanisme mengajak kepada akses langsung terhadap sumber agama, keterbukaan berijtihad, ijtihad kolektif, dan pembatasan terhadap mitos dalam merespons alam dengan lebih mengutamakan logos atau ilmu.

Baca juga, Nuzulul Qur’an: Al-Qur’an sebagai Kalam Tuhan dan Petunjuk Insan

Dua kecenderungan puritanisme itu tidak bisa disebut sebagai unsur negatif, bahkan sebaliknya unsur positif dilihat dalam konteks masyarakat Indonesia yang stagnan. Nilai-nilai puritanisme itu turut membentuk masyarakat modern dan kultur modern.

Adalah hal yang aneh ketika kultur hanya diasosiasikan dengan masa lalu, hal-hal eksotis, ritus antik, atau tarian tradisional. Dalam pengertian antropologis mana pun pemahaman kultur demikian adalah reduksi dari keluasan makna kultur itu sendiri.

Reduksi ini seolah ingin mengatakan bahwa produk modern dan kemajuan itu bukan kultur. Kultur harus berasal dari masa lalu dan berupa kebiasaan masyarakat yang turun temurun. Tetapi, pendapat ini pun, meski sudah reduksionis, sulit juga untuk konsisten. Contoh! Jika ada seniman menciptakan tarian, lalu dibuat pertunjukan selama setahun, apakah tarian itu kultur? Hampir dipastikan jawabannya: “Ya, itu kultur!” Nyatanya, praktik tarian itu ciptaan segelintir orang dan baru dipraktikkan setahun sekali atau beberapa puluh kali.

Sebaliknya, jika ditanya: “Apakah salat Jumat itu kultur? Apakah anak-anak masuk sekolah formal sejak usia 7 tahun termasuk kultur?” Mungkin jawabannya akan berputar seperti kitiran dan bisa saja akhirnya mengatakan: “Itu bukan kultur!” Padahal, salat Jumat sudah dipraktikkan dan menjadi kebiasaan jutaan rakyat Indonesia selama lebih dari 500 tahun. Demikian pula, sekolah formal yang diperkenalkan oleh Belanda usianya lebih dari 100 tahun dan dilakukan dari masa ke masa oleh rakyat Indonesia, bahkan lebih banyak jumlahnya dari penonton wayang.

Baca juga, Apa Itu Qadha dan Fidyah? Bagaimana Cara Menunaikannya?

Inilah jebakan Betmen pemahaman kultur yang berkembang di masyarakat. Kultur seolah hanya mengacu kepada hal yang unik dari masyarakat tradisional atau masyarakat “primitif” demikian pemahaman kultur ala antropolog klasik, macam E.B Taylor. Tidak heran jika E.B. Taylor memberi judul bukunya Primitive Culture. Pemahaman kultur demikian adalah produk Barat yang menjadikan orient sebagai obyek karena keunikan dan sifat eksotisnya, sebagai anti tesis Barat. Edward Said, Homi K. Bhabha dan Gayatri Spivak sudah cukup mewakili kita untuk mengkritik bias dari narasi orientalisme.

Singkat kata, puritanisme adalah satu bentuk kultur, yaitu kultur dengan ciri-ciri sebagaimana dikemukakan di muka. Ada berbagai sisi positif dari kultur puritanisme, baik dalam bidang agama maupun kehidupan sosial. Di sisi lain, puritanisme juga punya kelemahan untuk konteks masyarakat sekarang. Hal yang sama berlaku dengan kultur tradisional. Andai kultur tradisional itu unggul tentu tidak akan ditinggalkan pula oleh mayoritas masyarakat.

Ambil contoh, perdukunan dan pengobatan spiritual sebagai produk kultur tradisional pengobatan. Sampai sekarang masih hidup dan berkembang, berdampingan dengan dunia kedokteran sebagai produk kultur modern. Pertanyaannya, jika ada kecelakaan lalu lintas, ke mana anggota keluarga akan membawa korban kecelakaan jika di wilayah tersebut sama-sama tersedia dukun tradisional dan dokter dan rumah sakit modern? Pilihan dan preferensi mereka itu juga kultur, bahkan andai kata mereka memilih dokter dan rumah sakit modern karena itulah pilihan sikap spontan yang menunjukkan nilai yang hidup di alam pikiran masyarakat.

*Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PWM Jawa Tengah. Cendekiawan muslim.

Editor : M Taufiq Ulinuha

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tidak bisa menyalin halaman ini karena dilindungi copyright redaksi. Selengkapnya hubungi redaksi melalui email.

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE