Kolom

Relasi Pers dan Literasi bagi Muhammadiyah

Oleh: Rumini Zulfikar (Anggota Majelis Pustaka & Informasi PCM Pedan)

“Setiap torehan pena akan menjadi sebuah warisan dari peradaban umat manusia.”

Suara Muhammadiyah telah menempuh perjalanan yang begitu panjang. Media milik Persyarikatan Muhammadiyah ini terbit pertama kali pada 13 Agustus 1915. Pada 2026, usianya genap 111 tahun. Sebuah usia yang telah melampaui satu abad.

Iqra dan Tradisi Literasi Muhammadiyah

Jika kita menelaah dan menelisik lebih dalam perjalanan Islam, semuanya tidak lepas dari sebuah perintah Tuhan: Iqra. Manusia mendapat perintah untuk membaca dengan menyebut nama Tuhannya.

Melalui membaca, manusia berusaha mengetahui dan memahami tugas pokoknya dalam kehidupan di dunia.

Bagi Persyarikatan Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid atau pembaruan, ilmu menempati posisi yang sangat penting. KH Ahmad Dahlan juga memandang ilmu sebagai salah satu jalan untuk mengangkat derajat umat Islam.

Umat Islam harus berilmu agar mampu keluar dari kejumudan dan keterbelakangan. Sebab, ketika umat tertinggal dalam ilmu pengetahuan, pihak lain yang lebih berilmu akan mudah memperdayakannya.

Karena itu, KH Ahmad Dahlan mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah pada 1912 untuk menjawab berbagai persoalan sosial dan keagamaan saat itu. Gerakan tersebut, antara lain, menjadi pengejawantahan semangat dakwah dalam QS Ali Imran ayat 104.

Suara Muhammadiyah sebagai Media Dakwah

Selang tiga tahun kemudian, pada 1915, Suara Muhammadiyah lahir. KH Ahmad Dahlan ikut mewarnai perjalanan awal media tersebut. Haji Fachrodin tercatat sebagai pemimpin redaksi pertamanya.

Suara Muhammadiyah kemudian menjadi media untuk menyebarkan ajaran Islam dan pandangan keagamaan Muhammadiyah. Media ini menjadi sarana dakwah untuk mencerahkan umat.

Pada saat yang sama, Suara Muhammadiyah menggugah pentingnya budaya literasi di kalangan umat Islam. Lebih-lebih bagi warga Muhammadiyah.

Relasi Suara Muhammadiyah, Hari Pers, dan Literasi

Jika menelisik akar lahirnya Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah, kita tidak dapat melepaskan diri dari kajian dan diskusi pada 23 Agustus 2023 di SM Tower, Yogyakarta.

Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah bersama Suara Muhammadiyah menginisiasi kegiatan tersebut. Forum itu menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan pers Muhammadiyah.

Dalam forum tersebut, muncul usulan untuk menjadikan 13 Agustus sebagai Hari Pers Muhammadiyah. Tanggal itu merujuk pada kelahiran Suara Muhammadiyah pada 1915.

Dalam perkembangannya, PP Muhammadiyah menetapkan 13 Agustus sebagai Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah.

Momentum ini mempunyai arti penting. Suara Muhammadiyah telah menjalani perjalanan lebih dari satu abad dan menjadi salah satu media pers tertua di Indonesia yang masih bertahan hingga sekarang.

Suara Muhammadiyah tumbuh jauh sebelum banyak media Islam lain hadir dalam perjalanan bangsa.

Pers sebagai Kontrol dan Penggerak Literasi

Peran strategis Suara Muhammadiyah tidak hanya terletak pada pencerahan keagamaan. Pers juga menjalankan fungsi kontrol terhadap kekuasaan.

Selain itu, pers menjadi media untuk mendorong budaya literasi bagi warga Persyarikatan Muhammadiyah dan umat Islam secara lebih luas.

Pers merupakan salah satu pilar penting dalam kehidupan demokrasi. Ia hadir bersama kekuatan eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Di sinilah pers mengambil peran sebagai kekuatan check and balance atau penyeimbang. Karena itu, pers harus berpijak pada integritas, moral, independensi, dan profesionalisme.

Perjalanan panjang Suara Muhammadiyah juga memperoleh berbagai penghargaan dan pengakuan. Namun, Suara Muhammadiyah tidak berhenti sebagai kekuatan jurnalistik semata.

Dari Jurnalistik Menuju Kekuatan Ekonomi

Dalam beberapa tahun terakhir, Suara Muhammadiyah melebarkan jangkauannya melalui berbagai lini usaha. Di antaranya SM Corner, BulogMu, Logmart, SM Tower, biro perjalanan, serta beberapa usaha lainnya.

Perkembangan tersebut menunjukkan sebuah ikhtiar. Suara Muhammadiyah ingin agar kekuatan jurnalistik juga mampu bermetamorfosis menjadi kekuatan ekonomi bagi Persyarikatan.

Namun, perkembangan itu tidak membuatnya meninggalkan jati diri. Suara Muhammadiyah tetap menjadi salah satu kekuatan arus utama dalam dunia literasi Muhammadiyah.

Termasuk dalam perkembangannya adalah produk kuliner Bakpia 1915.

Semangat untuk terus bertumbuh itu sejalan dengan tema Milad ke-111 Suara Muhammadiyah pada 2026, yakni “Melangkah Lebih Jauh, Tumbuh Lebih Tangguh.”

Pada momentum Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., juga memperoleh Kartu Wartawan Utama Khusus dari Dewan Pers.

Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas perjalanan dan konsistensinya dalam dunia jurnalistik.

Dalam momentum yang sama, Haedar Nashir menyampaikan orasi kebangsaan bertajuk “Pers Berkemajuan: Relasi Media, Agama, dan Semangat Kebangsaan.”

Tema tersebut kembali mengingatkan kita bahwa dunia pers tidak hanya berbicara tentang informasi. Pers juga berbicara tentang nilai, agama, dan tanggung jawab kebangsaan.

Jurnalistik, Literasi, dan Pijakan Agama

Jadi, dunia jurnalistik dan literasi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat kita pisahkan.

Pada dasarnya, jurnalistik maupun literasi merupakan bagian dari budaya dan seni. Keduanya menjadi indah ketika menggabungkan kekuatan membaca dan menulis.

Dari sana, manusia merangkai huruf demi huruf hingga melahirkan gagasan yang mempunyai makna.

Akan tetapi, semua itu akan benar-benar bermakna jika agama menjadi salah satu pijakan utama dalam menyuarakan gagasan melalui tulisan. Tanpa pijakan nilai dan moral, kekuatan kata dapat kehilangan arah.

Ada sebuah pesan dari Prof. H.A. Mukti Ali, Menteri Agama pada masa pemerintahan Presiden Soeharto dan tokoh Muhammadiyah, yang relevan untuk kita renungkan:

“Dengan ilmu hidup menjadi mudah, dengan seni hidup menjadi indah, dengan agama hidup menjadi terarah dan bermakna.”

Pada akhirnya, pers, literasi, ilmu, seni, dan agama tidak semestinya berjalan sendiri-sendiri.

Semuanya dapat menjadi kekuatan untuk mencerahkan umat, membangun budaya ilmu, sekaligus menjaga arah kehidupan.

Selamat Milad ke-111 Suara Muhammadiyah. Selamat Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah.

Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/https://merdekakreasi.co.id/buku/bandarqq/https://merdekakreasi.co.id/buku/dominoqq/https://merdekakreasi.co.id/tentang-kami/