Kolom

Hari TNI ke-81: Prajurit Teritorial di Era Digital

Oleh: Ir. Joko Triyanto, M.Kom., M.Pd.I. (Wakil Ketua PWPM Jawa Tengah)

Hari ini, Tentara Nasional Indonesia (TNI) memperingati hari jadinya yang ke-81. Seiring perkembangan zaman, pertahanan Indonesia senantiasa bertransformasi ke arah yang lebih baik. Saat ini, pertahanan telah bergeser ke ruang siber dan tidak hanya terpaku pada ketangguhan fisik maupun ruang geografis seperti darat, laut, dan udara.

Kondisi saat ini menunjukkan munculnya perang asimetris berbasis data, serangan siber, dan disinformasi. Hal tersebut menjadi bagian dari pergeseran paradigma pertahanan yang berdampak besar. Ancaman terhadap kedaulatan pada masa depan tidak lagi sebatas agresi militer konvensional.

Medan Perang Tanpa Batas

Digitalisasi dan perkembangan teknologi informasi menghadirkan paradoks dalam sistem pertahanan Republik Indonesia. Cyber warfare atau perang siber semakin menguat di tengah kerentanan nasional. Di sisi lain, penggunaan teknologi informasi seperti drone, artificial intelligence (AI), dan big data mampu meningkatkan efisiensi serta pemantauan teritorial secara lebih presisi.

Dalam situasi terkini, TNI yang lahir dari rakyat telah dihadapkan pada ancaman yang sangat nyata, seperti peretasan infrastruktur kritis, propaganda digital melalui media sosial, hingga disinformasi berbasis deepfake.

Konsep tempur yang berfokus pada manipulasi data dan informasi serta perang persepsi publik untuk melemahkan legitimasi sebuah negara dari dalam sering dikaitkan dengan Fifth-Generation Warfare (5GW).

Berdasarkan penelitian dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) pada 2023, cyber security atau ketahanan dunia digital suatu negara saat ini tidak hanya mengandalkan hardware, tetapi juga kesiapan infrastruktur software serta brainware. Potensi terjadinya destabilisasi politik dan sosial-ekonomi di Indonesia sangat besar dan terbuka apabila tidak ada penguatan literasi digital secara massal serta pertahanan siber yang solid.

Sinergi Akademisi, Pemuda, dan TNI

TNI tidak akan bisa berjuang sendirian menghadapi era kedaulatan data ini. Doktrin dasar bangsa harus direaktualisasikan ke dalam dimensi digital, yaitu konsep pertahanan dan keamanan rakyat semesta.

Perjuangan membela tanah air atau jihad wataniyah merupakan bentuk perjuangan mempertahankan kedaulatan nasional dalam perspektif keagamaan. Seluruh generasi muda penerus bangsa mempunyai tanggung jawab moral dan sosial untuk menjaga integritas ruang publik siber dari ancaman narasi provokatif, hoaks, serta kejahatan siber lainnya yang merusak persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Talenta digital yang bernapaskan nilai kebangsaan perlu dikembangkan oleh institusi pendidikan seperti kampus dan sekolah. Integrasi etika Islam, teknologi, dan sains merupakan benteng intelektual agar generasi muda tidak sekadar menjadi konsumen digital, tetapi juga menjadi produsen inovasi keamanan siber yang beretika.

Penelitian, pengkajian, serta penemuan berbagai terobosan baru menjadi tugas akademisi. Selanjutnya, generasi muda dapat menjadi garda depan dalam menyebarluaskan nilai-nilai kebangsaan secara terstruktur dan adaptif di media sosial.

Memperkuat Kedaulatan Siber Menuju Indonesia Emas 2045

Untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045, penguatan kedaulatan siber memerlukan strategi yang holistik.

Pertama, kolaborasi lintas sektor antara TNI, pemuda, organisasi masyarakat, perguruan tinggi, serta industri teknologi perlu diwadahi dalam sebuah sistem keamanan yang inklusif.

Kedua, militer harus terus mengakselerasi pengembangan dan pembentukan pasukan siber (Cyber Force) yang profesional, tangguh, serta adaptif terhadap perkembangan teknologi global.

Generasi penerus bangsa tidak boleh pasif dalam memandang isu pertahanan. Pemahaman dan kesadaran terhadap pertahanan negara saat ini tidak selalu diwujudkan hanya dengan memegang senjata. Bela negara juga dapat diwujudkan melalui komitmen moral dalam dunia siber, menjaga akhlak dalam bermedia sosial, melakukan klarifikasi terhadap informasi, serta memberikan kontribusi nyata melalui teknologi dan riset.

Dirgahayu TNI ke-81. Bersama rakyat, akademisi, dan generasi muda yang literat secara digital, TNI akan tetap menjadi perisai terkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta, baik di udara, darat, laut, maupun dunia maya.

Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *