Kolom

Pak Oles

Pak Oles
(Bagian Keempat)

Oleh : Khafid Sirotudin*

PWMJATENG.COM – Pak Oles adalah sebutan akrab penemu racikan minyak oles multi kasiat berbasis effective microorganism (EM) yang dipadukan dengan usadha, pengobatan tradisional ala Bali. Pak Oles adalah sebutan viral untuk Gede Ngurah Wididana, alumni S2 dari Faculty of Agriculture University of the Ryukyus, Okinawa, Jepang.

Belajar langsung dengan penemu EM, Bapak Mikro Bakteriologi Dunia Prof. DR. Teruo Higa di Jepang. Wididana awalnya mendirikan PT Songgolangit Persada yang memasarkan sejumlah ‘pupuk organik yang diolah dari sampah rumah tangga’. Produknya antara lain EM-4, Sarula, Saferto, Ecocity dan Bokashi Kotaku. Dia juga mendirikan Institut Pengembangan Sumberdaya Alam, walau tanpa dukungan dari pemerintah. Yaitu sebuah yayasan/lembaga untuk mengembangkan pertanian organik, dengan menanam tidak kurang 135 jenis tanaman obat yang sepenuhnya dijalankan dengan teknologi EM-4, diatas lahan seluas 7 hektar.

Setelah sukses dengan produk pupuk organik, Wididana membuat minyak oles yang dikemas dalam botol plastik 12,5 ml dan 35 ml. Melalui bendera PT Karya Pak Oles Tokcer, 40-an jenis produk obat-obatan alternatif berhasil diciptakan dengan memanfaatkan teknologi EM-4. Produknya antara lain minyak tetes, minyak rajas, parem, masker, salep, balsem, air herbal hingga minyak relaksasi untuk spa.

Untuk menjaga kesinambungan usaha, beliau menggandeng 50-an lebih petani plasma yang dibina sebagai pemasok kebutuhan bahan bakunya. Seiring dengan keluarnya izin ekspor, mulai 2017 Pak Oles melebarkan pasarnya ke beberapa negara.

Tanaman Obat Indonesia

Indonesia merupakan negara dengan biodiversitas terbesar di dunia. Tidak kurang dari 30.000 spesies tanaman ada di hutan hujan tropis, lahan pertanian dan perkebunan nusantara. Dari jumlah itu, sekitar 9.600 spesies yang diketahui memiliki khasiat obat. Termasuk batang kayu bajakah yang baru2 ini diteliti siswa SMA di Palangkaraya Kalimantan Tengah, dan diyakini bisa menyembuhkan kanker. Akar bajakah adalah bentuk kearifan lokal masyarakat Dayak Kalimantan Tengah, yang telah digunakan secara turun temurun.

Dari 9.600-an jenis tanaman yang berkhasiat obat, baru sekitar 200-an yang digunakan sebagai bahan baku industri obat tradisional. Diantaranya adalah:

Pertama, Curcuma xanthorrhiza (temulawak), curcuma domestica, (rimpang kunyit), guazuma ulmifolia lamk (jati belanda) sebagai anti hiperlipidemia.

Kedua, Psidium Guajava L. (daun jambu biji) sebagai obat demam berdarah.

Ketiga, Syzigium polyanthi (daun salam), morinda citrifolia (buah mengkudu) sebagai anti diabet.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi setiap tahun di Kalimantan dan Sumatera, tidak saja menimbulkan asap yang sangat membahayakan kesehatan dan mengganggu lalu lintas penerbangan. Namun juga menimbulkan ‘kerugian besar’ bagi bangsa ini, akibat adanya “pembantaian massal” atas ‘ratusan bahkan ribuan plasma nutfah’ tanaman khas Indonesia yang memiliki khasiat obat.

Baca juga, Pangan Organik

Belum lagi bangsa ini rugi yang tiada ternilai dengan materi, akibat matinya jutaan probiotic/bactery cycle khas nusantara yang hidup nyaman di setiap jenis tanaman dan hewan di hutan Indonesia. Bukankah Prof Higa ‘keraya-raya’ (Jawa: berjibaku) mencari bakteri spesifik dan akhirnya menemukan ‘EM’ di Bali, hanya untuk menghidupkan kembali 2 kota mati Hiroshima dan Nagasaki.

Berangkat dari estimasi hitung- hitungan “kerugian SDA” yang sangat besar manfaatnya bagi peradaban, ekologi, kesehatan, sosial budaya, ekonomi, pangan dan pertahanan, untuk masa kini dan masa depan bangsa, maka sudah seharusnya pemerintah berani memberikan sanksi yang tegas dan sangat berat bagi para pembakar hutan. Khususnya kepada para cukong dan perusahaan besar yang terbukti terlibat dan menjadi sponsor karhutla, serta abai menjaga kelestarian hutan tropis Indonesia.

Kekayaan sumberdaya alam Indonesia bukan warisan nenek moyang di masa lampau, tapi titipan anak cucu dan generasi bangsa penerus cita-cita kemerdekaan di masa depan.

OBA, Jamu, dan Herbal

Hingga sekarang masyarakat masih menggunakan istilah Obat Tradisional atau Obat Herbal untuk menyebut obat-obatan yang berasal dari bahan-bahan alami. Namun sebenarnya sudah tidak relevan untuk saat ini.

Berdasarkan Permenkes No.7 th 2012:
“Obat Tradisional berarti bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun menurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai norma yang berlaku di masyarakat”.

Namun seiring perkembangan teknologi dan kemajuan ilmu pengetahuan, banyak penemuan baru terkait kasiat suatu tanaman. Baik itu berupa tanaman baru, penemuan zat aktif baru atau manfaat baru dari suatu tanaman yang sudah dikenal sebelumnya. Karena perolehannya tidak secara turun-temurun, istilah obat tradisional menjadi tidak tepat.

Istilah obat herbal juga kurang relevan. Mengacu pada KBBI, kata “herbal” berasal dari kata ‘herba’ yang berarti ‘tanaman terna’. Sedangkan obat tradisional tidak hanya berasal dari tanaman, juga bisa berasal dari hewan maupun mineral.

Barangkali lebih pas dengan istilah Obat Bahan Alam (OBA). Sumber OBA sama seperti definisi obat tradisional, namun kasiatnya bukan hanya berdasarkan informasi empiris saja, namun diperoleh pula melalui penelitian di masa kini (mutakhir). Wallahualam.

Editor : M Taufiq Ulinuha

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close

Tidak bisa menyalin halaman ini karena dilindungi copyright redaksi. Selengkapnya hubungi redaksi.

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE