Berita

MPM dan PDM Jawa Tengah, Pacu Inovasi Pemberdayaan Masyarakat

PWMJATENG.COM, Brebes– Meskipun baru dikukuhkan, Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) sejumlah Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Jawa Tengah, berpacu melakukan inovasi diberbagai bidang pemberdayaan masyarakat. Salah satunya bidang pertanian terpadu, yang termasuk di dalamnya sub sektor peternakan maupun perikanan.

MPM PDM Brebes, Banjarnegara, Grobogan, Kudus, Blora, Kendal, Demak, Wonogiri, Sragen, Boyolali, Wonosobo, hingga Cilacap, langsung tancap gas. Tak hanya merancang, sejumlah kegiatan pemberdayaan masyarakat sudah berjalan. Hal itu terungkap saat zoom meeting MPM PWM dengan MPM PDM seluruh Jawa Tengah.

MPM PDM Brebes, selain menggarap bidang pertanian, MPM menggandeng Baznas dan Lazismu memberikan pelatihan warga membuat bandeng presto. Brebes memiliki potensi pertanian di wilayah selatan dan potensi perikanan di wilayah utara, Khusni Mubarok MPM PDM Brebes menjelaskan, peserta pelatihan juga dibekali panci presto.

“Sambutannya sangat bagus. Produksi awal langsung habis diborong ibu-ibu pengajian,” ungkap Khusni Mubarok.

Hal serupa juga dilakukan MPM PDM Banjarnegara, berkolaborasi dengan Lazismu dan Ponpes Muhammadiyah Boarding School (MBS) Wanayasa .
MPM melakukan pendampingan peternakan kambing perah. Kotoran kambing yang dihasilkan, diolah menjadi biogas untuk keperluan memasak di pondok pesantren tersebut.

“Ini akan terus kami kembangkan ke depan, inovasi ini bisa menghemat pemakaian gas elpiji,” ujar pengurus MPM PDM Banjarnegara, Tristiyanto.

Baca juga: Perdana, Arrahmah PWM Jawa Tengah Berangkatkan 103 Jamaah Umroh

Menurut dia, selain pemanfaatan kotoran kambing untuk biogas, MPM PDM Banjarnegara memang fokus pada produksi pupuk organik. Sebab di wilayah ini potensi kotoran ternak, terutama kambing, memang cukup banyak.

“Potensi peternak kambing yang sudah terkumpul mencapai 600 orang,” ungkap pria yang akrab dipanggil Yayan ini. Dia menjelaskan, pupuk organik tersebut sudah diujicobakan pata tanaman kubis di wilayah Kecamatan Wanayasa.

“Hasilnya sangat bagus, bahkan bisa menghemat waktu tanam hingga 10 hari,” paparnya. Dia menambahkan produksi pupuk organik dari kotoran kambing akan terus ditingkatkan. Diharapkan bisa mengganti pupuk berbahan kotoran ayam yang selama ini digunakan mayoritas petani wi wilayah Banjarnegara.

“Karena kandungan kimia pupuk kotoran ayam masih cukup tinggi,” imbuhnya.

Begitupun dengan MPM wilayah Grobogan, menjadikan sektor pertanian terpadu sebagai salah satu prioritas program, seperti dungkapkan oleh Darmaji dari MPM PDM Grobogan. Hal yang sama juga dilakukan MPM PDM Blora.

“Fokus kami saat ini integrated farming. Kami memadukan peternakan dengan pertanian tanaman pangan, khususnya padi. Ke dapan kami akan mengarah ke pertanian organik,”kata Sudarwanto dari MPM PDM Blora.

Sekretaris MPM PDM Kudus, Bagus Purnomo Aji mengungkapkan, MPM PDM Kudus menjadikan penggemukan kambing sebagai program unggulan, di samping program lain seperti pemberdayaan dhuafa dan penyandang disabilitas, kolaborasi dengan Balai Latihan Kerja (BLK).

Di Wonogiri, MPM setempat menggandeng Pondok Pesantren Muhammadiyah Green School sebagai pesantren berketahanan pangan. “Kebetulan komposisi personalia MPM Wonogiri cukup lengkap. Ada ahli pertanian, peternakan, perikanan maupun pemerintahan,” ujar Sidiq Purwanto dari MPM PDM Wonogiri.

Program yang dilaksanakan MPM Wonogiri, akan menggunakan pendekatan BSM (Biaya Sangat Murah) dengan prinsip Mudah, Lokal dan Murah (MLM)
MPM Sragen yang selama ini dikenal dengan inovasi pertaniannya, juga mulai mengoptimalkan penggemukan kambing maupun budidaya kambing perah. Juga pengembangan budidaya markisa, melon hidroponik serta pisang.

“Hasil panen pisang teman-teman di JATAM (Jamaah Tani Muhammadiyah, juga sudah dijual ke berbagai daerah” jelasnya.

MPM Kudus, juga merintis usaha penggemukan kambing. Sedangkan di Kendal, MPM selain fokus pengembangan domba, juga melakukan inovasi produksi pakan ternak dari limbah pertanian.

“Kalau selama ini di Kendal programnya penggemukan domba, sekarang kita fokuskan ke breeding. Sebab populasi domba di pasar semakin sedikit. Karena dulu pernah diekspor ke Arab Saudi dan Malaysia,” jelas Faroq dari MPM PDM Kendal.

Salah satu tokoh MPM PDM Cilacap, H Mauludin, malah sudah cukup lama mempelopori produksi pupuk cair organik. Bahkan Mauludin sering diminta memberikan pelatihan, termasuk untuk para napi Lapas Nusakambangan yang akan bebas.

“Pupuk cair yang kami produksi, sudah diaplikasikan. Banyak tanaman buah yang tidak berbuah atau buahnya kurang maksimal, kami aplikasikan pupuk organik cair. Hasilnya cukup memuaskan,”ujarnya.

Di Wonosobo, MPM menggagas sejumlah program dengan pendekatan mudah dan murah, serta menggandeng investor. Sedangkan di Boyolali, Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) menjadi rencana garapan program pemberdayaan.

“Kami usdah mulai melakukan pendekatan,” kata Afif dari MPM PDM Boyolali.

Editor : M Taufiq Ulinuha

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE