BeritaMunas Tarjih

KH Nadhim Nu’aim, Panitia Munas Tarjih 1972 Raih Life Achievement Tarjih Award

PWMJATENG.COM, Pekalongan – Bersama KH. Moch. Joepri, Suprijadi Thojib, dan Ahmad Fahrozi, KH. Nadhim Nu’aim dianugerahi penghargaan life achievement dalam Tarjih Award sebagai tokoh tarjih yang sangat kontributif dan berdedikasi. Penghargaan itu diberikan dalam rangkaian acara Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih ke-32 di Pekalongan pada Jumat (23/02).

Pada tahun 1972, Munas Tarjih masih bernama Mu’tamar Tardjih Muhammadijah. KH. Joepri dan KH. Nadhim Nu’aim merupakan panitia pelaksana Munas Tarjih di Pencongan, Wiradesa, Pekalongan pada tahun 1972. Pada tahun itu, Munas Tarjih membahas isu-isu penting mulai dari Salat Tathawu’ dan Sujud Syukur, hingga aspek-aspek krusial lainnya seperti Zakat, Bacaan Salam dalam Salat, Qunut, Mudhaharah ‘Aisyiyah, Asuransi dan Pertanggungan, Hisab/Astronomi, hingga Perbankan.

Dalam kenangannya, KH. Nadhim mengungkapkan bahwa Munas Tarjih tahun 1972 di Pencongan, Wiradesa, Pekalongan, diwarnai oleh suasana kekeluargaan dan kegembiraan. Menariknya, Munas Tarjih pada masa itu dilaksanakan secara manual, dengan sekitar 150 ulama Tarjih sebagai peserta yang membawa kitab-kitab tebal sebagai referensi dalam menentukan hukum.

Baca juga, Munas Tarjih 1 Abad Resmi Dibuka, KH. Tafsir: Ini Panggung Muhammadiyah untuk Berkontribusi bagi Peradaban Dunia

KH. Nadhim, yang berperan sebagai panitia di bidang akomodasi, menceritakan bagaimana mereka menyediakan tempat istirahat bagi peserta Munas Tarjih di rumah-rumah warga. Hal ini menciptakan momen kekeluargaan dan keharmonisan antara para peserta Munas dan warga sekitar. Suasana Munas Tarjih tahun 1972 memang menjadi kenangan indah baik bagi warga Pekalongan maupun seluruh peserta Munas Tarjih.

52 tahun setelahnya, Pekalongan kembali menjadi tuan rumah Munas Tarjih, menciptakan sejarah baru bagi perhelatan ini. Perbandingan dengan Munas Tarjih tahun 1972 terlihat mencolok, sebab pada masa ini suasana Munas jauh lebih modern dengan adopsi teknologi mutakhir. Para peserta, tidak seperti zaman dulu, membawa laptop, smartphone, dan perangkat teknologi lainnya sebagai alat bantu dalam mendukung proses pengambilan keputusan.

Meski demikian, yang tetap melekat adalah semangat kekeluargaan, kebersamaan, dan kebahagiaan yang mengelilingi acara tersebut. Walaupun teknologi telah mempermudah akses informasi dan memudahkan proses komunikasi antar peserta, esensi kebersamaan seperti yang terasa pada Munas Tarjih tahun 1972 masih senantiasa dijaga.

Pengalaman berharga dari Munas Tarjih tahun 1972, di mana peserta tidur di rumah-rumah warga, menjadi titik awal bagi perjalanan panjang Munas Tarjih hingga saat ini. Sebuah perpaduan antara tradisi dan inovasi teknologi menciptakan suasana yang unik dan membanggakan. Dengan prestasi Panitia Munas Tarjih tahun 1972 yang dirayakan melalui Penghargaan Tarjih Award, kini Pekalongan kembali menjadi saksi sejarah dalam perjalanan tarjih lokal yang terus berkembang.

Editor : M Taufiq Ulinuha

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tidak bisa menyalin halaman ini karena dilindungi copyright redaksi. Selengkapnya hubungi redaksi melalui email.

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE