Berita

Jumat, 27 Mei 2011. Pukul 19.15 WIB, Gempa Kembali Terjadi

Banjarnegara – Jumat 27 Mei 2011 pukul 19.15 WIB gempa kembali terjadi dengan kekuatan masih di bawah 4 SR. Warga dusun Simbar dan Serang yang lokasinya terdekat dengan kawah timbang terlihat berhamburan keluar rumah berkumpul di tepi-tepi jalan, depan gang atau sekedar di depan rumah. Beberapa warga yang kami temui mengatakan bahwa mereka sudah mengalami kejadian gempa sebanyak 4 kali sejak maghrib dan kali ini yang dirasa cukup besar.
Tidak terlihat aktivitas yang menonjol sesaat setelah gempa. Di beberapa sudut jalan masih terlihat gelap hanya disinari lampu beberapa watt. Tidak terlihat warga yang memarkir kendaraan roda 2 atau roda 4 dalam posisi siap dan mengarah ke jalur evakuasi. Belum terlihat warga yang meronda atau sekedar menampakkan diri sebagai petugas ronda.
Demikian halnya di kantor Polsek dan Koramil Batur. Hanya nampak beberapa orang petugas yang berjaga di kantor. Situasinya masih terlihat normal, belum tampak adanya aktivitas menghadapi ancaman kawah timbang. Tidak tampak ada catatan, tulisan atau sejenisnya yang terpampang di dinding kantor yang memberi kesan terhadap kesiapan antisipasi. Menurut penuturan salah satu petugas jaga di Koramil menyebutkan bahwa komandan malam ini sedang mengadakan koordinasi di Posko yaitu di Kantor Kecamatan bersama Muspika dan Pemda Banjarnegara.
Menurut keterangan Asrof sekdes desa Batur membenarkan bahwa pada malam ini, Muspika (camat, danramil, kapolsek) dengan kepala desa Batur dan Sumberejo serta perangkat lain sedang mengadakan rapat membahas persiapan antisipasi bencana kawah timbang (gempa dan gas beracun).
Menurut keterangan Idrus ESDM Banjarnegara, kondisi kawah timbang tanggal 27 Mei 2011 pukul 00.00 -24.00 terjadi kegempaan 4 kali dengan skala 1 – 2 MMI terjadi kenaikan kadar gas beracun CO2. Dia juga membenarkan bahwa saat ini pemerintah telah mendirikan posko di Kecamatan Batur dan telah dilakukan koordinasi dengan pemerintahan setempat. Penuturan tersebut juga diiyakan oleh Aris Sudaryanto Kesbanglinmas. Bahkan Aris menyampaikan bahwa pada malam beberapa armada evakuasi dari TNI/Polri sudah bergerak dari Banjarnegara menuju Batur.
BPBD Provinsi melalui Kepala Bidang Tanggap Darurat, juga telah meminta pemerintah Banjarnegara segera mengambil langkah-langkah konkrit kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan terburuk dari kawah timbang.
Pada tanggal 28 Mei 2011, menurut keterangan Tunut petugas pengamat gunung dieng menyebutkan bahwa kondisi kawah timbang pukul 00.00-06.00 gempa tercatat 14 kali gempa vulkanik dalam, 2 kali gempa vulkanik dangkal, gas CO2 naik dari 0,07 menjadi 0,1.
Siang hari sekitar pukul 12.13 WIB terjadi gempa yang dirasakan hingga desa Batur (2 km dari kawah timbang). Gempa dirasakan kembali hingga Batur sekitar pukul. 16.29 WIB sebanyak 2 kali berturut turut dan dirasakan warga lebih besar ketimbang gempa siang sebelumnya.
Akibat gempa yang terus terjadi tersebut mengakibatkan warga dusun Simbar dan Serang panik. Sore ini warga di kedua dusun tersebut telah mempersiapkan diri untuk evakuasi mandiri ke tempat saudara mereka yang lebih aman. Pada pk. 18.21 WIB terjadi lagi gempa cukup besar mengakibatkan listrik padam. Malam ini pula beberapa warga terutama ibu-ibu, anak dan manula mulai dievakuasi menuju ke Batur. Di dusun sumber terlihat tiang listrik ambruk dan melintang di jalan jalur evakuasi. Beberapa warga mulai memindahkan tiang listrik tersebut. Malam ini praktis seluruh desa sumberejo listrik padam.
Menurut keterangan Gembong, BPBD Provinsi, malam ini tim BPBD provinsi diberangkatkan menuju Banjarnegara dan diperkirakan baru besok pagi mereka akan menuju Batur untuk membantu posko di Kecamatan. BPBD menyiapkan dukungan truck, ambulance dan motor trail untuk kepentingan evakuasi dan penangangan kedaruratan.
Sekitar pukul 19.37 WIB listrik di Sumberejo sudah kembali nyala. Berangsur-angsur kondisi mulai kembali normal walaupun beberapa warga (ibu-ibu, anak, manula) sudah mengungsi di Balai Desa Batur dan SD Negeri Batur. Nampak di beberapa sudut desa terlihat pemuda dan bapak-bapak berjaga untuk mengantisipasi hal-hal buruk lain terjadi.

Respon Muhammadiyah Jawa Tengah
Sebagaimana disebutkan dalam sitrep#1 pada hari Jumat 27 Mei 2011, LPB PWM Jateng bertemu dengan warga Muhammadiyah di Sumberejol. Hadir dalam pertemuan tersebut pengurus PCM Sumberejo, PCM Batur, PCA dan Kokam sejumlah 42 orang. Pertemuan juga dihadiri oleh aparat TNI dari Koramil, tim assessment dompet dhu’afa dan LPB PDM Banyumas. Pertemuan semakin menarik ketika pak Tunut Pujiarjo petugas pengamat gunung Dieng turut hadir. Kehadiran beliau dimanfaatkan oleh warga untuk bertanya banyak hal tentang perkembangan kawah timbang dan gas beracun.
Secara umum dapat diketahui bahwa warga relative cukup memahami kondisi alam kawah timbang dan gas beracun. Hal tersebut terungkap dari beberapa pernyataan warga terutama pengetahuan mereka tentang upaya deteksi dini gas beracun, arah angin dan waktu kemunculan gas. Yang menjadi menarik adalah statement pak Tunut yang menyebut bahwa potensi gas beracun kali ini dicurigai akan keluar dengan volume yang relative besar dan bisa saja menyebar tergantung besar kecilnya angin dan arah yang berubah.
Terkait dengan hal tersebut, maka LPB PWM meminta kepada warga dan pemuda (KOKAM) untuk memulai melakukan koordinasi deteksi dini sebagaimana pengalaman mereka selama ini. Penggunaan hewan-hewan seperti belalang dll bisa dipergunakan untuk mendeteksi adanya gas, demikian pula penggunaan peralatan sederhana  seperti kain/bendera yang dipasang melintang di batas dusun sebagai penanda arah angin juga bisa dilakukan.
Dalam pertemuan tersebut kami menyampaikan untuk menyusun sebuah sistem informasi dini yang bisa diambil langsung dari sumber ancaman sebagaimana pengalaman warga. Kita tidak menghendaki warga mengalami ketergantungan dengan alat yang dipasang oleh PGA maupun informasi dari pihak lain. Kita berharap warga dapat mendeteksi dini secara mandiri sekaligus membangun sistem informasi yang relative efektif seperti pengalaman mereka selama ini. Termasuk adanya larangan untuk ke sawah atau ladang sebelum jam 07.00 WIB untuk menghindari gas beracun. Sebagaimana keterangan mereka sendiri bahwa berdasarkan pengalaman, gas beracun keluar pada malam hingga subuh. Setelah matahari terbit, gas beracun ini akan hilang seiring dengan munculnya panas matahari. Warga juga cukup paham dengan aliran gas beracun yang dikenal dengan zona merah yang membentang dari utara ke selatan sepanjang kurang lebih 1 km . Mereka juga paham bahwa jalur utama Dieng-Batur sepanjang 500 meter termasuk dalam zona merah tersebut. Kami juga meminta agar pengetahuan yang berbasis pada kearifan lokal ini tidak hanya dipahami oleh bapak-bapak dan pemuda saja, tetapi juga dipahami oleh kaum perempuan, kelompok rentan dan anak-anak.
Kami juga menghimbau untuk mulai melakukan persiapan mobilisasi dan evakuasi dengan mempersiapkan emergency pack, jalur evakuasi dari rumah-kampung menuju jalur utama evakuasi mengingat lokasi perkampungan cukup padat dengan banyaknya gang-gang kecil.
Sdr Amin Budi Santosa menyampaikan bahwa tim SAR Kokam untuk mensiagakan diri. Di Sumberejo tidak kurang 40 orang anggota KOKAM terlatih dipersiapkan untuk melakukan pemantauan dan berkoordinasi dengan posko di Kecamatan dan PGA.
Saat ini telah disiapkan tim medis dari PKU Banjarnegara, Temanggung dan Wonosobo yang akan berangkat ke lokasi melalui jalur yang berbeda menuju Batur. Jalur yang aman dilalui dan menjauh dari zona merah adalah Jalur banjarnegara – karangkobar 27 km. Karangkobar – Batur 15 km. Ada jalan dari Wonosobo- Singomerto – Pagentan – Batur 38 km. 
Info terakhir pk. 21.23 WIB, warga dari desa dusun Ratamba desa Pejawaran mendadak turun gunung karena terjadi ledakan gas berapi (warga menggunakan gas bumi untuk keperluan sehari-hari). Info sementara dari lokasi menyebutkan bahwa Ratamba berada sekitar 3 – 4 km dari kawah timbang, ditengarai ada lubang gas beracun pada jalur zona merah kawah timbang. Diperkirakan warga turun menuju desa Nusupan. Hingga sitrep ini ditulis kami masih menunggu info lebih lengkap.

Contact for Information

Kontak Person :
Koordinator lapangan : Amin Budi Santosa 081 328 757153
Koordinator medis : Imam 081 327 220 686

Pimpinan Muhammadiyah :
Firdaus Sekretaris  PCM Sumberejo 081327347396
Faizin PCM Batur 081328277795

AMM :
Furhan PCPM Batur 081327267981
Asrof Kades Batur 085293238011 (pengurus PCM Batur)
PKU Muh Banjarnegara : Drg. Bambang Heri 081 2278 5047
PKU Muh Temanggung : dr. Akhiruddin Timora 081 568 116 80
PKU Muh Wonosobo : 081 328 757153

(Kontributor: Naibul Umam)

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE