Takut Digantikan AI? Begini Cara Perpustakaan Kampus Menjaga ‘Sentuhan Manusia’
PWMJATENG.COM, SEMARANG – Kecerdasan buatan (AI) kini mampu menyelesaikan pekerjaan administratif perpustakaan dalam hitungan detik, memicu kekhawatiran akan hilangnya sisi humanis dalam layanan akademik. Menanggapi fenomena tersebut, Silasma FPPTMA 2026 di Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) merumuskan konsep Human Smart Library sebagai solusi agar perpustakaan tetap relevan dan memiliki empati di era digital.
Silaturahmi Nasional (Silasma) dan Seminar Nasional FPPTMA 2026 yang digelar di Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) menjadi panggung penting perdebatan ini. Kegiatan yang berlangsung pada 4-5 Juni 2026 ini mempertemukan para pegiat literasi untuk merumuskan masa depan Human Smart Library. Mereka sepakat bahwa teknologi hanyalah alat, sementara nilai kemanusiaan tetap menjadi ruh utama layanan.
“Tantangan ke depan bukan hanya menciptakan smart library, tetapi juga human smart library. Perpustakaan harus mampu memadukan kecanggihan teknologi dengan pendekatan yang humanis,” ujar Wakil Rektor I UNIMUS, Prof. Dr. Budi Santosa, M.Si.Med.
Pernyataan ini mencerminkan keresahan sekaligus harapan di tengah masifnya adopsi kecerdasan buatan. Perpustakaan kini tidak lagi sekadar gudang buku, melainkan mitra strategis dalam pengembangan riset, publikasi ilmiah, serta penguatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.
Transformasi Peran Pustakawan
Kehadiran AI memang memangkas waktu kerja secara signifikan. Berbagai tugas administratif yang sebelumnya memakan waktu berhari-hari, kini selesai dalam hitungan detik. Meski demikian, efisiensi ini tidak lantas menihilkan peran manusia di dalamnya.
Ketua FPPTMA, Irkhamiyati, S.IP., M.IP., menekankan bahwa pustakawan masa kini harus bertransformasi menjadi mitra empati bagi sivitas akademika. “Pustakawan saat ini tidak hanya berperan sebagai pengelola informasi, tetapi juga menjadi mitra strategis dalam pengembangan riset dan pembelajaran,” tegas Irkhamiyati.
Adaptasi ini menjadi mutlak agar layanan perpustakaan digital tetap relevan. Peningkatan kompetensi literasi dan penguasaan ilmu pengetahuan menjadi senjata utama bagi para pustakawan untuk tetap eksis di tengah arus informasi yang tak terbendung.
Sinergi untuk Masa Depan Akademik
Kesuksesan sebuah institusi pendidikan sangat bergantung pada kualitas ekosistem literasi yang dibangun. Perpustakaan yang tangguh akan mempercepat proses akreditasi dan menumbuhkan karakter mahasiswa yang kritis.
Prof. Budi menambahkan bahwa kolaborasi antarperpustakaan di bawah naungan PTMA adalah kunci utama dalam membangun kekuatan ini. “Keberhasilan perguruan tinggi dalam membangun ekosistem akademik yang unggul sangat ditentukan oleh kualitas perpustakaannya,” pungkasnya.
Melalui sinergi dalam Silasma 2026, para pengelola perpustakaan berkomitmen menghadirkan layanan yang inovatif namun tetap hangat. Mereka memastikan bahwa teknologi perpustakaan tidak akan pernah menggantikan esensi dari pendidikan yang memanusiakan manusia.
Kontributor: Humas UNIMUGO
Editor: Alafasy



