Bukan Sekadar Seremonial, Ini Rahasia Klaten Jadi Tolok Ukur Perkaderan Muhammadiyah di Jawa Tengah
PWMJATENG.COM, KLATEN – Sukses catatkan capaian tertinggi hingga Maret 2026, MPKSDI PDM Klaten membongkar efektivitas strategi 3T (Terstruktur, Terarah, dan Terukur) dalam mencetak kader Muhammadiyah yang tangguh dan siap menghadapi tantangan era modern.
Implementasi strategi 3T terbukti membuahkan hasil nyata bagi MPKSDI PDM Klaten. Hingga Maret 2026, Klaten mencatatkan capaian perkaderan tertinggi di lingkungan Muhammadiyah Jawa Tengah. Pencapaian ini sekaligus memperkokoh posisi Klaten sebagai pusat pengembangan kader yang progresif dan terukur.
“Perkaderan adalah jantung persyarikatan. Jika prosesnya mandek, gerakan Muhammadiyah pun akan stagnan,” ujar Ketua MPKSDI PDM Klaten, Suyono, S.Pd.I., M.Si.
Pernyataan tersebut ia sampaikan saat memimpin kegiatan Upgrade dan Sarasehan Instruktur di SMK Muhammadiyah 3 Klaten Utara, Ahad (7/6/2026). Melalui standar 3T, MPKSDI membimbing setiap kader secara sistematis, mengarahkan tujuan pengembangan, serta memastikan evaluasi kompetensi berjalan dengan jelas.
Digitalisasi dan Regenerasi Kader
Selain menerapkan standar 3T, MPKSDI PDM Klaten kini mendorong seluruh elemen kader menggunakan aplikasi MASA. Sistem digital terintegrasi ini memperkuat administrasi, pendataan, dan layanan organisasi secara real-time. Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Klaten, H. Rusdi Santosa, M.Ag., menyambut positif inovasi tersebut demi menjaga kesinambungan organisasi.
“Sebelum patah harus tumbuh, sebelum hilang harus ada pengganti. MPKSDI harus konsisten menjaga eksistensi perkaderan,” tegas Rusdi.
Upaya ini selaras dengan kebutuhan persyarikatan akan kader yang mampu menjadi pelopor, pelangsung, dan penyempurna gerakan. Dengan sistem digital, pemetaan potensi kader dapat dilakukan lebih cepat dan akurat.
Penguatan Dakwah Era Modern
Tantangan dakwah di era modern menuntut kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Narasumber utama kegiatan, Drs. Aris Munawar, menekankan pentingnya aspek etika dan retorika dalam mendidik kader baru. Pemahaman ini krusial agar pesan dakwah mampu mencerahkan masyarakat luas.
“Retorika Muhammadiyah bukan hanya soal kemampuan berbicara, tetapi cara menyampaikan pesan dakwah yang mencerahkan dan membangun persatuan umat,” ujar Aris.
Implementasi standar 3T dan penguatan retorika diharapkan menjadi fondasi kuat bagi kader Klaten. Hal ini menyiapkan generasi baru yang tangguh dalam menghadapi dinamika dakwah masa depan, sekaligus memastikan keberlanjutan misi Muhammadiyah yang inklusif dan berkemajuan.
Kontributor: M. Farhan Al Yuflih
Editor: Alafasy



