Eid al-Fitr : Momentum Rejuvenasi Diri

Semalam hilal belum nampak, menandakan bahwa hari ini puasa Ramadan kita genapkan menjadi 30 hari dan esok kita akan memasuki bulan baru qamariyah. Lebaran kali ini pemerintah masih melarang tradisi mudik; sungkem; ujung; halal bi halal; grebeg syawal; dsb yang dilakukan secara luring. Terlepas dari seluruh hiruk pikuk gempita menyambut Idul Fitri, terdapat substansi lain yang seharusnya kita lakukan, apa itu? Yang harus kita lakukan adalah rejuvenasi diri seperti pesan Kiyai Haedar Nashir “Kita jadikan puasa Ramadan dan seluruh rangkaiannya serta Idul Fitri sebagai tanwiirul qulub wal fitrah, yakni proses pencerahan hati dan pikiran, yang membuahkan perilaku serba utama.”

Ramadan : Bulan Penempaan

Sebagaimana kita ketahui bahwasanya Allah Swt telah mensyariatkan puasa di Bulan Ramadan kepada orang-orang muslim. Puasa Ramadan sendiri menjadi salah satu dari rukun Islam yang harus dilaksanakan oleh seorang muslim. Seakan kawah candradimuka, Ramadan “mensaktikan” orang-orang pilihan yang dicelupkan kedalamnya.

Puasa adalah sarana penempaan jiwa. Pertama, puasa bisa menjadi sarana untuk belajar mengendalikan diri. Dengan melaksanakan puasa, seseorang harus menahan diri dari nikmatnya makan dan segarnya minuman. Ia harus berusaha bertarung dengan lapar dan dahaga.

Lebih dari itu, orang yang puasa juga harus menahan diri dari hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT, seperti dusta, berkata kotor, bersumpah palsu, bergunjing (ghibah), dan lainnya. Sebab, puasa sejatinya bukan hanya tidak makan dan tidak minum, tetapi juga ‘puasa’ dari menuruti hawa nafsu.

BACA JUGA  Puasa 2021 Muhammadiyah Keluarkan Panduan Ibadah di Tengah Pandemi

Kedua, melatih jujur dan menjaga amanat. Di samping sebagai sarana mengendalikan diri, puasa juga bisa dijadikan sebagai latihan untuk menempa kejujuran dan membuktikan amanah.

Ketiga, merasakan penderitaan fakir miskin. Dengan puasa seseorang akan merasakan perihnya lapar dan haus. Perasaan seperti ini akan membangkitkan sikap empati kepada kaum miskin.

Keempat, berpikir dewasa dan jernih. Ketika perut kosong, pikiran akan jernih dan tenang sehingga mampu memutuskan dan menyelasaikan masalah dengan tenang dan tepat. Dengan berpuasa, seseorang akan bersikap lebih bijak, berpikir lebih jernih, dan bertindak lebih dewasa.

Shaum dan Spirit Al Maun

اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِۗ  ١ فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَۙ  ٢ وَلَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِۗ  ٣ فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ  ٤ الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ  ٥ الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ  ٦ وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ ࣖ  ٧

Di dalam Surat Al Maun terdapat ayat yang menjadi landasar dari refleksi shaum Ramadan dengan realitas kehidupan dewasa ini. Kandungan ayat dari Al Maun mengecam orang-orang yang “mendustakan agama” dan mengidentifikasi orang yang salat namun “celaka”. Orang yang memiliki kategori “mendustakan agama” diantaranya : orang yang menghardik (baca: mengumpat) anak yatim; dan orang yang tidak mendorong (baca: menganjurkan) memberi makan orang miskin. Selain itu ketika kita membahas identifikasi Allah Swt terhadap orang yang salat namun “celaka” terdapat beberapa indikator, diantaranya : orang yang berbuat riya; dan orang yang enggan memberikan bantuan.

Shaum mengajarkan kepada kita untuk menahan berbagai hal yang dapat membatalkannya sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Kemudian Surat Al Maun dengan tegas memperingatkan kita sebagai manusia akan hal-hal yang tidak boleh dilakukan, dan hal ini sebenarnya memiliki korelasi dengan shaum.

Dengan kita melakukan puasa, kita dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang miskin tiap harinya. Ketika kita sudah merasakan apa yang orang-orang miskin rasakan di saat kita berpuasa, maka Al Maun memberikan hikmah yang luar biasa bagi pengamalnya.

BACA JUGA  Sholat Idul Fitri di Masjid Kottabarat dengan Prokes Ketat

Imam Al Ghazali : Diwajibkan Puasa Karena Allah Sayang
Allah Swt sangat mengerti manfaat dan fadhiilah puasa, maka sebagai wujud rasa sayang maka puasa diwajibkan kepada orang Islam. Allah Swt sebenarnya tidak butuh akan ibadah ritual kita, karena Allah Swt adalah dzat maha segalanya. Begitupun dengan ibadah-ibadah lainnya, semua memiliki manfaat dan fadhiilahnya masing-masing.

Namun kadangkala kita tidak sadar akan kebutuhan terhadap ibadah-ibadah tersebut, maka Allah Swt setengah memaksa manusia untuk beribadah.

Puasa sendiri sebenarnya sudah dilakukan para pendahulu-pendahulu kita, Adam As melakukan puasa ayyamul bidh yakni 3 hari di pertengahan bulan qamariyah, selain itu ia juga melakukan puasa di tanggal 10 Bulan Muharram dalam rangka meperingati pertemuan dengan Siti Hawa saat di Arofah. Nabi Nuh ketika terombang-ambing di tengah lautan, ia melakukan puasa bersama-sama dengan kaumnya. Nabi Musa juga melakukan puasa ± 40 hari dan menjadi syariat dari umatnya. Nabi Isa melakukan puasa ± 50 hari dan juga menjadi syariat bagi kaumnya. Nabi Ya’kub melakukan puasa untuk anak-anaknya, Nabi Yusuf ketika dipenjara juga berpuasa.

BACA JUGA  Pesantren Ramadan Virtual Hadirkan Dua Dai Cilik Nasional

Bahkan Plato pernah mengatakan “Obat jasmani rohani paling baik adalah puasa.” Begitupun dengan Socrates “Dalam diri kita ada unsur penyembuh, bantulah dirimu untuk menyembuhkan dirimu sendiri, salah satunya adalah dengan cara berpuasa.”

Rejuvenasi Diri
Setelah kita merefleksikan puasa yang sudah kita lakukan, baik yang penuh maupun yang ada liburnya. Mari kita manfaatkan momen lebaran kali ini sebagai sebenar-benar garis start. Mengapa kemudian penulis sampaikan “sebenar-benar garis start”? Karena tidak banyak insan muslim yang bercita-cita untuk kembali fitri, namun selang satu pekan pasca lebaran, semua kembali seperti semula tanpa ada perubahan ke arah yang lebih baik.

Padahal banyak di story WA maupun medsos lainnya yang merasa kehilangan Bulan Ramadan namun tidak diiringi dengan niat, tekad dan ikhtiar yang kuat dalam memperbaiki diri. Kita tidak tau kapan ajal akan menjemput kita, bisa jadi nanti, besok, lusa ataupun saat kita membaca tulisan ini.

Maka sekali lagi, mari bersama-sama untuk berjihad untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi, untuk meraih strata insan kaamil, untuk naik level dari manusia biasa ke level ubermensch. Dengan cara apa? Dengan cara melanjutkan amalan-amalan saleh ketika Ramadan, dan dilaksanakan secara istiqomah. Mudah-mudahan lebaran kali ini, menjadi lebaran yang sesungguhnya, yakni lebaran yang menjadikan orang yang berpuasa kembali fitri dan istiqomah untuk tetap fitri, aamiiin.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts