Budaya

Belajar Hidup Sederhana

Oleh : Khafid Sirotuddin*

PWMJATENG.COM – Pada kesempatan makan siang hari kedua Musywil ke-12 Muhammadiyah Jawa Tengah di Kota Tegal, kami berbincang ringan dengan DR. dr. Sofa Hasani, Sp.PD. Wakil Ketua PWM Jateng 2015-2022 yang juga dosen FK Undip. Seingat saya beliau telah menjabat di PDM Kota Semarang dan PWM Jateng sebanyak 5 periode (27 tahun). Untuk Musywil kali ini beliau masuk 39 besar, tapi tidak masuk 13 anggota PWM terpiih.

Ada kalimat beliau yang masih saya ingat : “Menjadi pimpinan itu harus rela berkorban dik. Selama menjadi PWM, saya kosongkan sehari tidak praktek untuk mengikuti rapat rutin.” Dan saya menyaksikan sendiri beliau rajin dan hampir tidak pernah absen mengikuti Rapat Rutin setiap Rabu siang di kantor PWM. Sebuah pengorbanan waktu, tenaga, pikiran dan mengalienasikan “penghasilan” jutaan rupiah seandainya beliau praktek sehari.

Ada juga Prof. Dr. Daelamy, Guru Besar IAIN Purwokerto, yang rajin rapat sepekan sekali di PWM. Beliau berangkat pagi naik travel dari Purwokerto dan kembali tiba rumah malam hari. Kadangkala beliau membawa mobil pribadi diantar sopir. Estimasi kami Rp 750 ribu hingga 1 juta per pekan dikeluarkan untuk mengikuti rapat PWM di Semarang.

Ada pula sahabat saya di PWPM Jateng, Suwargi M. Bisron, Sekretaris PWM Jateng 2015-2020, yang wafat tatkala pandemi Covid-19 melanda. Dari rumahnya di pelosok desa Kabupaten Temanggung, dia kendarai sendiri mobilnya pulang pergi Semarang. Hanya untuk mengikuti Rapat Rutin 2-3 jam sepekan. Sedangkan perjalanan pulang pergi ke Semarang membutuhkan waktu 6-8 jam. Saya belum pernah melihat saudara Bisron memakai “mobil dinas” PWM untuk keperluan mengisi kuliah D-1 Kemuhammadiyahan atau mendatangi pengajian di Kendal.

Saudara Wahyudi, Sekretaris PWM pengganti Bisron juga sama. Lebih sering membawa mobil pribadi saat bertandang ke daerah, kecuali berangkat rombongan dengan staf atau “nunut” bareng Ketua dari PWM. Meskipun satu “mobil operasional PWM” disediakan untuk menunjang aktivitas sekretaris dan pimpinan lainnya.

Pada satu kesempatan menjalankan tugas mengisi kegiatan LHKP di daerah, saya pernah sekali “nembung” pinjam mobil operasional kepada Ketua PWM, pak Tafsir. Kebetulan mobil saya masuk bengkel. “Bawa mobil saya saja”, katanya. Sejatinya saya “pekewuh” memakai “mobil dinas” Ketua PWM. Tapi karena keadaan ya sudah kami pakai serombongan dengan teman-teman LHKP.

Saya menyaksikan langsung kesahajaan dan kesederhanaan bapak-bapak PWM Jateng periode 2015-2022, setelah diamanati menjadi Ketua LHKP PWM Jateng. Begitu pula saya sering bertandang ke beberapa Ketua PDM se Jateng. Satu pesan kuat yang saya tangkap yaitu nilai kesederhanaan. Kami meyakini kesederhanaan pimpinan persyarikatan merupakan salah satu “kunci” Muhammadiyah bisa bertahan dan berkembang seabad lebih hingga sekarang.

Sederhana itu Megah

Sederhana menurut KBBI : bersahaja dan tidak berlebih- lebihan. Prasojo, kalau menurut istilah Jawa. Dengan kata lain hidup sederhana berarti membebaskan segala ikatan yang tidak diperlukan.

Makna lain sederhana adalah kebiasaan atau perilaku sehari hari yang dilakukan sesuai kebutuhan dan kemampuan, serta tidak mencerminkan sikap yang berlebihan dan mengandung unsur kemewahan. Sederhana ditekankan pada unsur kemampuan materi atau keuangan seseorang. Tidak “sumaker” (sugih macak kere; kaya berpenampilan miskin), juga tidak “kermasu” (kere macak sugi; orang miskin berpenampilan seperti orang kaya).

Cobalah sesekali datang ke Kantor Cabang Utama Bank Umum (BUMN dan Swasta) atau Kantor Pusat Bank Jateng di Semarang seusai jam kerja. Kita akan melihat deretan “mobil dinas” yang terparkir rapi di garasi atau carport kantor. Padahal kita tahu bank itu gudangnya uang. Mobil dinas milik bank hanya dipakai saat dinas, ketika jam kerja untuk keperluan bank.

Kesederhanaan itu cara hidup, sedangkan kaya atau miskin itu kondisi hidup. Sederhana lahir dari pribadi yang bijaksana, jujur, adil dan “empan papan”. Kemegahan Muhammadiyah justru ditunjukkan oleh perilaku sederhana para pemimpinnya. Orang bijak mengatakan sederhana itu kemewahan tersendiri.

Namun akhir-akhir ini saya senang sekaligus prihatin melihat aneka jenis mobil premium menjadi “mobil dinas” PDM dan pengelola AUM. Senang karena mobilnya terlihat bagus dan ada stiker Pimpinan Muhammadiyah/AUM. Tetapi prihatin jika melihat Toyota Alphard atau mobil Premium lain menjadi kendaraan dinas pimpinan persyarikatan atau AUM level provinsi, apalagi mulai menjalar tingkat Kabupaten/Kota dan kecamatan.

Baca juga, Tunaikan Janjinya, UAH Berangkatkan 10 Anggota KOKAM ke Tanah Suci

Kalau di level Pimpinan Pusat kami masih mafhum. Namun jika Gubernur Jawa Tengah saja memakai mobil dinas Toyota Kijang Diesel 2.4 type V, apakah elok dan wajar apabila mobil operasional PWM/PDM/PCM dan pejabat AUM di Jateng memakai mobil yang kelasnya sama atau diatas mobil dinas Gubernur? Bukankah biaya perawatan dan operasional mobil berbanding lurus dengan jenis, type dan kelas cc-nya?

Sederhana bermakna pula efisiensi. Mengeluarkan biaya sesuai kebutuhan, bukan biaya menuruti keinginan (syahwat) “biar tekor asal kesohor”. Sepengetahuan saya, sesuai standar akuntansi, biaya depresiasi dan perawatan mobil rata-rata 20 persen per tahun dari harga perolehan. Artinya setelah 5 tahun mobil tersebut dipakai, nilainya sudah tidak ekonomis lagi.

Sekedar info, jika electric sliding-door mobil Alphard rusak kita harus merogoh kocek Rp 15-20 juta sesuai type buat perbaikan satu pintu. Jika kedua pintu rusak, Rp 30-40 juta. Sebuah biaya perbaikan mobil seharga Yamaha N-Max baru. Kendaraan bermotor yang jarang dimiliki guru TK ABA se Jateng, yang honor dan gajinya masih dibawah UMR.

Keprihatinan kami bertambah tatkala pernah melihat “mobil dinas” suatu PDM dibawa pulang ke rumah oleh kepala kantor. Jika beralasan kantor PDM tidak memiliki garasi, bukankah para sesepuh telah mengajari untuk menyiapkan garasi terlebih dahulu sebelum membeli mobil.

Saya jadi teringat wasiat Suwargi Mas Kaji Muslim, Ketua Lazismu Jateng 2015-2017 dan Ketua PDM Kendal.

“Dadi kader Muhammadiyah ojo pikirane megah, tapi mlakune megahi (menjadi kader jangan sampai pikirannya megah, tetapi laku sosialnya kontra produktif).”

Leiden is Lijden : Memimpin adalah Menderita. Pepatah Belanda itu dikutip Mohammad Roem dalam karangannya berjudul “Haji Agus Salim, Memimpin adalah Menderita” (Prisma No. 8, Agustus 1977). Sejalan dengan sebuah riwayat yang menyatakan :“Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka”. Meski hadis tersebut lemah (dhaif) namun hasan (baik) dan tidak bertentangan dengan aqidah serta bukan sesuatu yang haram.

Semoga PWM Jawa Tengah periode 2022-2027 bisa menjadikan sikap hidup sederhana menjadi sebuah kemegahan tersendiri bagi Muhammadiyah serta mampu menjadi suri tauladan bagi warga dan simpatisannya. Wallahua’lam.

*Ketua LHKP PWM Jateng Periode 2015-2022, Ketua Bidang VI Diaspora dan Jaringan Kader MPKSDI PP MuhammadiyahKetua LP-UMKM PWM Jawa Tengah Periode 2022-2027, Tokoh Muhammadiyah Kendal

Editor : M Taufiq Ulinuha

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tidak bisa menyalin halaman ini karena dilindungi copyright redaksi. Selengkapnya hubungi redaksi.

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE