Mengubah Narasi Menjadi Aksi: Refleksi Kader IMM Pasca-DAMNAS 2026
Oleh: Ivan Septian (Kader IMM Pekalongan, Peserta DAMNAS PC IMM Kota Tangerang 2026)
PWMJATENG.COM, Pasca-Darul Arqam Madya Nasional (DAMNAS) 2026, sebuah refleksi keras muncul dari internal Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Organisasi ini berpotensi menghadapi krisis “inflasi wacana”. Saat literasi kader meningkat, tantangan sesungguhnya justru hadir pada kemampuan mewujudkan gagasan tersebut menjadi gerakan perubahan sosial yang berdampak luas. Kader kini wajib menghadirkan aksi konkret, bukan sekadar memproduksi narasi.
“Gagasan sering kali mandek sebagai bahan tulisan, sementara publikasi dan kritik hanya berakhir menjadi retorika belaka,” ujar Ivan Septian, penulis refleksi tersebut. Peringatan ini menjadi alarm bagi aktivisme mahasiswa agar segera keluar dari lingkaran diskusi tanpa eksekusi.
Antara Wacana dan Dampak Nyata
Kondisi serupa terjadi pada berbagai tingkatan organisasi, termasuk IMM Pekalongan. Kader saat ini sangat aktif menulis isu keislaman, kebangsaan, hingga sosial melalui berbagai platform media. Namun, antusiasme intelektual tersebut kerap kehilangan arah ketika berhadapan langsung dengan realitas lapangan.
Persoalan utama sama sekali bukan berasal dari minimnya ruang diskusi. Tantangan paling mendesak adalah bagaimana menyambungkan gagasan agar mewujud menjadi gerakan perubahan sosial yang progresif. Sayangnya, banyak agenda pencerahan berakhir tanpa tindak lanjut yang terukur.
“Sebuah forum sering selesai tanpa tindak lanjut yang jelas. Penulis menerbitkan karyanya tanpa mengupayakan gagasan tersebut menjadi gerakan kolektif,” tegas Ivan. Akibatnya, energi intelektual kader hanya berputar mengelilingi ruang gema internal organisasi.
Menjadikan Aksi sebagai Tujuan Akhir
IMM lahir sebagai wadah kader intelektual untuk membawa solusi nyata bagi persoalan umat dan kemanusiaan. Tradisi intelektual yang kuat harus berfungsi sebagai fondasi utama demi melahirkan aktivisme mahasiswa yang pro-rakyat. Diskusi dan literasi memang penting, namun keduanya bukanlah garis akhir perjuangan.
Kader harus mampu mentransformasi polemik narasi vs aksi menjadi pemecah akar persoalan masyarakat. Sejarah tidak akan mencatat seberapa banyak seminar yang organisasi gelar. Rekam jejak publik justru menilai sejauh mana gagasan mampu memberikan manfaat kehidupan.
“Mungkin sudah saatnya kita mulai mempertanyakan pencapaian aksi, bukan hanya sebatas hal yang kita diskusikan,” tutup Ivan. Kini, para intelektual muda wajib membuktikan diri sebagai agen penggerak perubahan yang konsisten di lapangan, bukan sekadar produsen kata-kata.
Editor: Alafasy



