Upaya Meningkatkan Kepercayaan Customer Care, RSDI Kaliwungu Gelar RTD

0
187
SERIUS. Peserta Round Table Discission (PTR) RSDI Muhammadiyah Kendal di hotel Sae Inn Kendal serius mengikuti diskusi (foto dok gofur)

PWMJATENG.COM, KENDAL – Kepercayaan merupakan elemen penting yang berpengaruh kepada kualitas suatu hubungan. Kepercayaan konsumen terhadap penyedia jasa akan meningkatkan nilai hubungan yang terjalin dengan penyedia jasa. Tingginya kepercayaan akan dapat berpengaruh terhadap menurunnya kemungkinan untuk melakukan perpindahan terhadap penyedia jasa lain.

Hal itulah yang dilakukan oleh salah satu AUM Kesehatan di Kendal, yaitu RSU Muhammadiyah Darul Istiqomah Kaliwungu. Ikhtiarnya menyelenggarakan Round Table Discussion (RTD) pada Sabtu (12/10) di Hotel Sae Inn Kendal. RTD sendiri adalah sebuah diskusi akademik dengan topik peningkatan pelayanan prima menuju kepuasan pasien sehat dan bermanfaat. Selama RTD berlangsung setiap peserta mempunyai hak yang sama untuk mengajukan pendapat dan argumen, untuk membahas suatu kasus yang terjadi di RSU Muhammadiyah Darul Istiqomah Kaliwungu juga saran yang bersifat membangun untuk ke depan yang lebih baik.

RTD menghadirkan peserta utusan dari Puskesmas dan Klinik Pratama yang tersebar di 6 Kecamatan, yaitu Brangsong, Kaliwungu, Kaliwungu Selatan, Boja, Limbangan dan Singorojo. Puskesmas dan Klinik Pratama tersebut telah memberi kepercayaan kepada RSDI Muhammadiyah Kaliwungu sebagai salah satu rujukan pasiennya.

RTD dipandu langsung oleh Bidang Kehumasan RSDI Kaliwungu, Kusnadi dan Anik Kasiyani. Dalam pengantarnya dikatakan, perjalanan rumah sakit milik Muhammadiyah tersebut telah melakukan pembenahan dan peningkatan pelayanan sesuai setandar yang ditetapkan.

“Namun demikian, kami menyadari bahwa pelayanan yang kami berikan belum menuju titik kesempurnaan” kata Kusnadi.

“Kami perlu sumbang saran bersifat membangun untuk kepentingan bersama yaitu terciptanya masyarakat sehat setelah berobat di RSDI Muhammadiyah Kaliwungu” sambung Anik.

Dari situlah muncul beberapa pertanyaan dan keluhan yang disampaikan oleh pihak peserta. “Kami beberapa waktu lalu menghubungi RSDI Kaliwungu via telefon menanyakan tentang kamar pasien. Lama kami menunggu, dan tidak ada jawaban. Mestinya bagian informasi punya data tentang kamar-kamar pasien yang terpakai dan tidak” kata utusan Puskesmas dari Limbangan.

“Kami pernah mengubungi RSDI lewat telefon ketika akan mengirim pasien dan kami disuruh menunggu untuk dicarikan kamar” kata salah satu utusan dari Puskesmas Boja. “Kami cukup lama menunggu jawaban” sambungnya “tetapi kami kecewa, ditolak, karena ternyata kamar sudah penuh”.

“Mestinya pihak rumah sakit memberi informasi yang cepat dan akurat, kita ngurusi pasien yang harus segera ditangani” sarannya.

Yang mengejutkan adalah keluhan dari utusan Puskesmas Brangsong. Kejadiannya sudah beberapa tahun lalu.

“Ini masalah kebidanan, dimana pasien kami, tanda-tanda melahirkan sudah sangat dekat, yaitu pelebaran atau ‘bukaan’ terjadi. Kami segera menghubungi RSDI Kaliwungu yang kami anggap dekat dengan Puskesmas kami, tetapi ditolak dengan alasan kamarnya penuh” katanya. “Mestinya tidak boleh ditolak, karena ini urusan nyawa. Melahirkan di lorong bagi kami tidak masalah, yang penting tertolong” ungkanya.
Berbeda lagi dengan Setyorini, peserta dari Puskesmas Kaliwungu Selatan. Diakuinya pernah mengirim pasien ke Balkesmas (sebelum menjadi RSDI) menjelang maghrib, baru bisa ditangani jam 21.00, kemudian Hbnya rendah dan dirujuk ke RSUD Kendal akhirnya pasien meninggal.

“Itu artinya kami bisa mengambil benang merah, bahwa penanganannya kurang cepat” katanya. Beliau meminta kepada pihak RSDI untuk kasus-kasus gawat darurat penanganannya bisa diprioritaskan dan harus cepat.

Sementara itu Wakil Sekretaris PDM Kendal, H.Moh. Antono mengatakan, jalinan kerjasama AUM Kesehatan Muhammadiyah dengan lembaga-lembaga kesehatan lain, seperti Puskesmas dan Klinik Pratama patut dilakukan. Beliau berharap percepatan penanganan pasien harus segera dilakukan sebagai wujud komitmen lembaga kesehatan yang di dalamnya terdapat jajaran tenaga medis yang profesional.
“Penanganan pasien dengan cepat adalah simbol profesionalisme dokter, bidan, dan perawat” katanya.

Sedangkan direktur RSDI Muhammadiyah Kaliwungu, dr.Arditunggal Hakim menyampaikan perjalanan perkembangan rumah sakit yang dipimpinnya.
“Awalnya bernama Balai Kesehatan Masyarakat, Balkesmas, berubah menjadi Balai Kesehatan Ibu dan Anak” ungkap Fanny.

Beliau melanjutkan dari BKIA menjadi rumah sakit dengan tipe D. “Terhitung sejak tahun 2015-2019 RSDI adalah rumah sakit tipe D” ucapnya. “Dan alhamdulillah 2020 RSDI Kaliwungu hasil akreditasi SNARS bintang paripurna 5 berpredikat C” sambungnya.
“Sampai saat ini RSDI memiliki 75 temat tidur pasien,” tutupnya. (Fur/MPI Kendal)