STIKES Muhammadiyah Gombong Kebumen Go International

0
440

Kebumen – Deputi Penempatan BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia), Agusdin Subiantoro, menyatakan bangga terhadap lulusan STIKES (Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan) Muhammadiyah Gombong, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah, sudah Go International. Lulusannya tidak hanya mendedikasikan dan mengabdikan diri di tanah air sendiri, tetapi juga banyak yang sukses bekerja di luar negeri sebegai TKI. Pernyataan apresiasi tersebut disampaikan Agusdin Subiantoro di depan 400-an mahasiswa dan civitas akademika STIKES Muhammadiyah Gombong, Kebumen, dalam kegiatan “Sosialisasi BNP2TKI dan Pelepasan Tenaga Kesehatan Alumni STIKES Muhammadiyah Gombong ke Negara Taiwan” pada Selasa siang (6/5/2014).
Selain Sosialisasi BNP2TKI, juga dilakukan penandatanganan kerjasama STIKES Muhammadiyah Gombong dan PT Pademangan Semesta Lestari selaku Pelaksana Penempatan TKI Swasta (PPTKIS) yang melayani keberangkatan TKI ke Taiwan. Penandatanganan dilakukan Ketua STIKES Muhammadiyah Gombong, Giatmo, dan Direktur PT Pademangan Semesta Lestari, IE Hong, dengan disaksikan Deputi Penempatan BNP2TKI Agusdin Subiantoro, dan Putut Supriyadi mewakili Kepala Disnakertranssos Kabupaten Kebumen.
Agusdin mengatakan sebagaimana disampaikan Ketua STIKES Muhammadiyah Gombong, Giatmo, SKep, NS, MKep, bahwa sudah banyak lulusan STIKES Muhammadiyah Gombong yang bekerja di rumah sakit – rumah sakit pemerintah dan swasta di berbagai daerah di Indonesia. Di luar itu banyak juga yang sukses menjadi perawat profesional bekerja di beberapa negara seperti di Jepang, Taiwan, beberapa negara di kawasan Timur Tengah lainnya. “Selamat buat STIKES Muhammadiyah Gombong yang sudah moncer hingga mendunia atau go international,” ucap Agusdin. Dikatakannya, Gombong ini merupakan sebuah daerah yang letaknya tidak lebih seperti kecamatan lain umumnya di Indonesia. Tetapi sudah banyak warga Gombong yang sukses mendunia. “Bukan karena saya sendiri kebetulan lahir di Jatijajar, Gombong, Kebumen, kemudian saya mengatakan STIKES Muhammadiyah Gombong go international. Tetapi faktanya memang membuktikan begitu adanya,” kata Agusdin.
Agusdin kemudian mengutip pernyataan Giatmo lagi, yang mengatakan sudah cukup banyak alumni STIKES Muhammadiyah Gombong yang sukses bekerja ke luar negeri. Di Jepang ada Agung Mardiana yang sukses menjadi TKI perawat. Dia merupakan alumni STIKES Muhammadiyah Gombong terbaik dan lulus ujian nasional Bahasa Jepang. Kemudian ada beberapa alumni lainnya yang sukses menjadi TKI perawat di Taiwan dan negara-negara lain yang berangkat dengan cara mandiri.
Agusdin mengatakan, peluang kerja bidang perawat di luar negeri cukup terbuka luas, baik perawat yang bekerja di rumah sakit (nurse) maupun perawat mengasuh orangtua lanjut usia (lansia) di panti jompo (caregiver atau careworker). Di antaranya di Taiwan, Jepang, Yordania, Kuwait, Australia, Jerman, dan Amerika Serikat. “Peluang kerja di luar negeri ini hendaknya dapat diisi TKI perawat utamanya dari STIKES Muhammadiyah Gombong,” katanya memberi semangat. Bahkan, lanjut Agusdin, ada beberapa negara yang mensyaratkan tenaga perawat yang cukup lulusan setara Diploma 1. “Nah, kalau memang negara tujuan kerja membutuhkan lulusan yang diminta cukup D-1, sayang sekali kalau peluang ini tidak kita manfaatkan dengan baik. Kalau bisa ada program cepat kerja kenapa kita harus lama membuka program pendidikannya,” tuturnya.
Agusdin menambahkan memang ada beberapa negara yang mensyartkan tenaga perawat serendah-rendahnya lulusan S-1 dan D-3 plus memiliki pengalaman kerja 2 tahun, dan memiliki kemampuan Bahasa Inggris, seperti Jepang, Kanada, Jerman, dan Amerika Serikat. Tetapi ada pula negara seperti Yordania, yang tidak mensyaratkan pengalaman atau zero pengalaman dan lulusan terbaru. “Peluang kerja di luar negeri seperti di Yordania ini sangat memungkinkan ditangkap. Berikut setelah berhasil 2 tahun kerja bisa ditingkatkan lagi ke negara lain yang gajinya lebih tinggi seperti Kuwait, kemudian Austtralia, Kanada, dan Amerika Serikat,” katanya.
Namun, Agusdin mengingatkan, bekerja di luar negeri itu merupakan alternatif pilihan, jika di dalam negeri belum ada kesempatan bekerja. Tetapi kalau di dalam negeri ada kesempatan kerja itu, bahwa mendedikasikan dan mengabdikan diri di tanah air sendiri jauh lebih baik. “Karena siapa lagi yang akan memakmurkan negeri sendiri kalau bukan warganya sendiri. Jangan sampai nantinya kita menjadi tamu di negeri sendiri lantaran terlalu bernafsu memburu kerja di luar negeri. Bekerja di negeri sendiri itu jauh lebih baik, kendati gajinya lebih rendah,” kata Agusdin kembali mengingatkan.
Agusdin menegaskan bahwa Pemerintah tidak dalam posisi mendorong-dorong warganya agar menjadi TKI bekerja di luar negeri. Karena bekerja itu merupakan hak asasi setiap warga negara. Pemerintah dan Negara tidak berhak melarangnya, karena bekerja merupakan hak setiap orang dan dilindungi Undang Undang. Namun demikian, Pemerintah wajib hadir memfasilitasi setiap warganya yang hendak bekerja ke luar negeri, memastikan adanya perlindungan hukum warganya selama bekerja di luar negeri. Keberangkatan TKI ke luar negeri tidak boleh dibiarkan liar, tanpa mengikuti prosedur ketenagakerjaan. Dikarenakan jika bermasalah di kemudian hari, akan merugikan TKI dan keluarga TKI di tanah air, serta menyulitkan Pemerintah untuk memberikan bantuan terkait hak-hak TKI.
Agusdin kemudian mengingatkan, pada Desember 2015 mendatang kita akan memasuki komunitas masyarakat Asean. Tenaga kerja kita tentu harus disiapkan untuk mampu bersaing dengan tenaga kerja asing. Utamanya kemampuan Bahasa Inggris dari TKI kita harus disiapkan sedari sekarang, karena yang menjadi kendala TKI kita saat ini adalah kemampuan dalam berbahasa Inggris. “Kalau kemampuan Bahasa Inggris ini tidak disiapkan sedari sekarang, maka tidak menutup kemungkinan posisi strategis pekerjaan di negeri ini akan diisi tenaga kerja asing nantinya, sehingga kita akan menjadi tamu di negeri sendiri,” kata Agusdin. Intinya, kata Agusdin, TKI kita saat ini sudah harus siap bersaing dalam menghadapi komunitas masyarakat Asean pada Desember 2015 mendatang. (IB/Fakhrudin/www.edisinews.com)