Semnas Bahtera 2017 Dorong Peningkatan Budaya Literasi

0
558

PWMJATENG.COM, Purworejo – Menjawab keresahan akan lemahnya budaya literasi yang menjangkiti generasi bangsa, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Purworejo menyelenggarakan seminar nasional bahasa sastra dan budaya di Auditorium Kasman Singodimedjo Universitas Muhammadiyah Purworejo, Sabtu (15/7/17).

Disampaikan Suryo Daru, M.Pd. perwakilan panitia penyelenggara menyampaikan bahwasanya penyelenggaraan seminar kali ini sebagai salah satu bentuk menjawab keprihatinan akan budaya literasi yang berdasarkan hasil penelitian FISA UNESCO Indonesia menempati posisi 65 dari 67 negara di dunia.

Seminar nasional kali ini mengangkat tema “Implementasi Gerakan Literasi menuju Masyarakat Mandiri Berkemajuan” ini diikuti oleh kurang lebih 311 peserta dengan 71 peserta pemakalah pendamping dan 240 peserta non pemakalah yang terdiri dari berbagai kalangan yakni mahasiswa sarjana-pasca sarjana, guru dan dosen berasal dari daerah jawa, sumatra, DIY, Sulawesi, Jakarta dan lainnya.

Ditambahkan oleh Prof. Sugeng Eko Wakil Rektor 1 Bidang Akademik Universitas Muhammadiyah Purowrejo mengapresiasi dengn terselenggaranya agenda ini.
“Penyelenggaraan forum semacam ini sangat penting sebagai salah satu cara membudayakan budaya literasi bagi generasi muda. Budaya literasi sangat penting. Karena mendukung kemajuan bangsa,”ungkapnya dalam sambutan sekaligus membuka agenda.

Seminar nasional ini terbagi dalam 2 sesi. Sesi pertama yang dimoderatori oleh Drs. Mohammad Fakhrudin, M.Hum. merupakan sesi utama yang diisi oleh 3 keynote speaker. Yakni pertama oleh Prof. Dr. Suminto A. Sayuti Guru Besar di Fakultas Bahasa dan Seni UNY. Kedua, Dr. Suhandono, M.A. Dosen di Fakultas Ilmu Budaya UGM Yogyakarta. Ketiga, Dr. Khabib Sholeh, M.Pd. Dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia UM Purworejo.

“Bangsa yang bermartabat adalah bangsa yang menjunjung tinggi budayanya. Kebesaran atau potensi-potensi kebesaran suatu bangsa suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh satu faktor. Para cendekiawan dan calon cendekiawan harus berdiri di depan. Tidak bisa tidak: budaya literasi harus menjadi identitas utama keberadaan lembaga kecendekiaan yang diharapkan mampu menjadi teladan bagi masyarakat dalam komitmen kepada nilai-nilai luhur seperti keadilan, kebajikan dan kasih sayang yang dalam pelaksanaannya melalui membaca, menulis dan apresiasi sastra (MMAS),”ungkap Prof. Dr. Suminto A. Sayuti yang membedah terkait Budaya Literasi, Martabat Bangsa dan Pengajaran Sastra.

Lanjut, dalam paparannya yang membedah terkait Linguistik Forensik, Kesaksian Ilmu Bahasa dalam Sidang Pengadilan, Dr. Suhandano, MA. menyampaikan pemahaman makna tuturan dalam aspek tekstual tuturan, peserta tuturan, konteks tuturan dan budaya. Sebagai salah satu contoh yang diambil pembahasan ungkapan salah satu gubernur yang sempat menjadi kontroversi bagi umat Islam.

“Masing-masing peserta didik mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Sehingga tidak dapat digeneralisir semua harus dapat menguasai pengetahuan bidang tertentu. Tetapi pendidikan harus dapat memfasilitasi kecerdasan yang majemuk tersebut,”ungkap Dr. Khabib Sholeh,M.Pd.

Sesi selanjutnya diisi dengan sidang paralel yang terbagi ke dalam 6 komisi yang ditempat di ruang Kampus timus dan ruang kampus barat yang dipandu oleh moderator yang telah ditunjuk.

“Harapannya dengan agenda ini dapat meningkatkan kesadaran dalam budaya literasi membaca menulis khususnya bagi pelajar melalui guru dan mahasiswa untuk hadapi kemajuan zaman ke depan,”pungkas Surya Daru, M.Pd. Panitia.
Seminar Nasional Bahtera (Bahasa Satra dan Budaya) kali ini merupakan yang pertama dan direncanakan akan diselenggarakan tiap tahun dengan mengambil momentum pada Bulan Bahasa. (akhmad musdani)