SAR Medis Muhammadiyah Jateng Terapkan Ajaran Kyai Ahmad Dahlan

0
449

PWMJATENG.COM, BOYOLALI – Lembaga Penanggulangan Bencana (LPB) Muhammadiyah / Muhammadiyah disaster Management Center (MDMC) Jawa Tengah mengukuhkan tim SAR Medis yang disaksikan langsung Kyai Tafsir, Ketua PWM Jawa Tengah. Acara yang berlangsung di Aula H. Djalal Sayuti RS PKU Aisyiyah Boyolali berlangsung hikmat. Tim SAR Medis Muhammadiyah terdiri dari 33 orang perawat dan dokter dari 16 RSMA se-Jawa Tengah yang telah menyelesaikan Diklat beberapa waktu yang lalu. Dalam tausyiyahnya, Ketua PWM Jawa Tengah menegaskan kembali ajaran Kyai Ahmad Dahlan.

“Prinsip kerja dan filosofi gerakan PKO pada dasarnya memberikan pertolongan kepada manusia dimanapun dia berada, kapanpun kondisinya dan kepada siapapun yang memerlukan. Ajaran Ahmad Dahlan ini sangat kosmopolit ketika masih banyak orang  yang belum memikirkannya. Ahmad Dahlan juga mengajarkan bagaimana sebagai orang Muhammadiyah harus bisa bekerjasama dengan kelompok apapun bahkan yang berbeda agama dan kepercayaan”, imbuh Kyai Tafsir yang sehari-hari bekerja sebagai Dosen di UIN Walisongo Semarang.

Acara pengukuhan ditandai dengan pembacaan ikrar Tim SAR Medis angkatan 1  yang dipimpin oleh Kapuk, perawat dari RS PKU Muhammadiyah Surakarta. Ikrar diawali dengan mengucapkan syahadat dan dilanjutkan dengan menegaskan empat pernyataan ikrar.

Sementara itu acara pengukuhan juga dihadiri Ketua MPKU Jawa Tengah. Dalam sambutannya dr. Ibnu Yaseer menegaskan bahwa “Rumah Sakit Muhammadiyah dan Aisyiyah Jawa Tengah selain memberikan pelayanan kepada masyarakat juga harus memiliki nilai lebih sebagai rumah sakit siaga bencana. RSMA harus bisa menerapkan kedaruratan bencana dalam perilaku keseharian dan siap sedia ketika dibutuhkan.  Maka kami berharap setelah ini segera terbentuk Disaster Medical Committee (DMC) di setiap RSMA se Jawa Tengah”.


Ibnu juga menambahkan bahwa “Saat ini kita sudah mempunyai 37 RSMA. Kami akan memastikan di akhir tahun 2019 Muhammadiyah Jawa Tengah mempunyai 47 RSMA. Dan kita dorong setiap RSMA mempunyai dokumen Hospital Disaster Plan (Hosdip) atau dokumen rencana penanggulangan bencana rumah sakit”, tegasnya.

Di singgung soal statement tersebut, Naibul Umam, Ketua MDMC Jateng menegaskan, “Kami sudah berkomitmen sejak awal akan membantu MPKU meningkatkan kapasitas RSMA se-Jawa Tengah. Gerakan bersama ini kami teguhkan dengan kegiatan-kegiatan yang nyata. Kita mulai dari pengukuhan SAR Medis yang akan berlanjut dengan pembentukan DMC dan penyusunan Hosdip sebagaimana disebutkan Pak Ibnu tadi”, imbuhnya.

Terbentuknya Tim SAR Medis Muhammadiyah ini diilhami oleh sejarah pendirian PKO. Muhammadiyah bergerak atas dasar kemanusiaan, kerelawanan dan profesionalisme. Dalam hal bekerja menolong manusia maka tidaklah cukup hanya sekedar niat menolong tetapi juga harus dibekali dengan ilmu dan ketrampilan yang cukup serta mental yang memadai.

Dalam konsep gawat darurat dan kebencanaan, tenaga kesehatan dituntut untuk juga bekerja di luar rumah sakit. Tenaga medis Muhammadiyah wajib mempunyai kemampuan untuk bekerja di lapangan atau di lokasi bencana dalam kondisi yang serba terbatas dan kerap tidak menentu. Diharapkan Tim ini dapat bertugas di garis depan saat operasi SAR dan juga bertindak sebagai tim aju bencana. (Naibul Umam)