Revitalisasi Pengkaderan di Muhammadiyah, Sudah Matikah?

0
726

WONOSOBO – Jum’at (7/ 10 2016), bertempat di gedung Suara Meredeka Wonosobo, Sudagaran, tepat di depan kantor LazisMu Wonosobo berlangsung #BBM ( Bicara, Buka, Mata ) acara yang diprakarsai oleh Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Wonosobo.

Acara ini disambut antusias oleh segenap pimpinan Muhammadiyah baik ditingkat daerah maupun segenap ortomnya, terlihat hadir dalam diskusi itu PDM Wonosobo yang diwakili Imran Rosyadi ( bendahara ), Khanif Rosyadi( PDM Bidang MPK dan MPI), dan Sulistyo ( MPK ) dan Setya Rahmawanto selaku sekretaris PDM Wonosobo, PCA, PCNA, PDPM, KOKAM, dan beberapa ortom baik ditingkat daerah maupun cabang, tidak ketinggalan PDIPM juga beserta jajaran pengurusnya ” Ini acara pertama kalinya diadakan di persyarikatan terutama di Wonosobo.

Berkat kerja sama kawan-kawan dan juga keikhlasan para tamu undangan untuk bisa meluangkan waktunya mendiskusikan permasalahan-permasalahan seputar organisasi” Eko Sunarno menjelaskan. Membicarakan yang tabu untuk bisa menjadi layak diperbincangkan selama dalam koridor dan aturan kritik dan saran yang membangun seolah meniru acara salah satu stasiun televisi.

Dalam forum #BBM semua bebas berekspresi mencurahkan keluah kesah dan pengalaman menarik selama berorganisasi di Muhammadiyah, dalam tema yang diangkat malam itu Sebuah organisasi dikatakan hampir mati mana kala sudah tidak ada kader yang mau melanjutkan roda pergerakan organisasi, kader adalah tulang punggung dan penggerak organisasi sehingga dalam rencana anggaran belanja organisasi hendaknya bidang kader menempati ranking tertinggi dengan alasan tersebut diatas.

” Kader Muhammadiyah yang berangkat dari TPQ militansinya lebih dibanding lewat program-program pengkaderan yang lain, ini menunjukkan bahwa sejatinya Muhammadiyah itu hendaknya belajar membaca, memahami dan mengamalkan alqur’an sebagai pegangan dan pijakan dalam setiap pengambilan keputusan selain sunnah dan ijma’ ” Khanif Rosyadi menuturkan. senada dengan pendapat diatas, Setya selaku sekretaris PDM menjelaskan bahwa. Warga Muhammadiyah bisa dikatakan sebagai kader manakala ia sudah bisa menjadikan Alqur’an sebagai pegangan harian dalam setiap aktifitas, dengan membaca rutin, sholat wajib tepat waktu meski dalam suasana rapat penting sekalipun, sunnah-sunnah dilakukan sebagai bentuk kecintaan terhadap Nabi Muhammad SAW. Usia Muhammadiyah yang sudah satu abad dalam perkembangannya mengalami dinamika pergerakan yang luar biasa.

Lima tahunan mengalami periodesasi dari tingkat pusat sampai ranting pasti dalam perkembangannya seluruh warga untuk selalu memperbaharui niat, dalam masalah pengkaderan seperti dalam tema diskusi # BBM malam itu dikatakan bahwa berapa banyak Pimpinan persyarikatan yang tidak bisa mengkader generasinya, baik anaknya sendiri maupun anak didiknya, ini patut dipertanyakan? apakah metodenya yang salah atau memang tidak adanya sesuatu yang menarik didalam persyarikatan untuk bisa diikuti?

Ikhlas beramal, berjuang dan jangan minta jasa serta semangat untuk menghidupi Muhammadiyah adalah slogan-slogan yang sering kita dengar dalam setiap acara Persyarikatan, seorang kader sejati pasti paham akan situasi tersebut, akan tetapi terkadang kita menemukan duri yang terselip dalam persyarikatan yang di jatuhkan oleh nonkader sehingga seorang kader hendaknya selalu siap menyingkirkan duri itu dengan harapan tidak menjadi penyakit akut dimasa yang akan datang. Nah..

permasalahan muncul manakala AU tidak mengambil karyawan dari para kader dengan alasan klasik, kurang KTA, kurang sertifikat dan lain sebagainya, akan tetapi terkadang para pimpinan AU mengambil calon karyawan hanya berdasarkan beberapa berkas yang bisa didapatkan gratis dengan bermodal claim warga persyarikatan sesaat. dalam perkembangannya, pembinaan dan pengkaderan setelah mereka bekerja stagnan dan apa adanya bahkan cenderung mati, ini yang menjadi pangkal persoalan, dimana kader ingin membangun SDM dari AU akan tetapi diisi oleh nonkader yang merasa sudah senior dan nyaman dengan posisinya sehingga pergerakan seakan mati suri bahkan cenderung mati.

Yohani selaku MPI menambahkan. Acara yang tergolong istimewa ini berlangsung selama dua jam, meski disertai diskusi dan debat ringan para diskusan tetapi menghasilkan point-point yang akan dijadikan rekomendasi bagi para pengambil kebijakan di tingkat daerah, diantara salah satunya adalah pola pengkaderan satu atap dari tingkat PDM sampai Ranting dan juga Ortomnya. (*)