Merekonstruksi sektor Pariwisata di Era New Normal

0
303
Suasana di OW Pantai Alam Indah Tegal

Oleh:
Handika Akmal Ramadani
(Alumni Prodi Usaha Perjalanan Wisata SMK Muhammadiyah Slawi)

Sejak awal tahun 2020 dunia digemparkan oleh virus yang bermula dari Kota Wuhan China, yang kemudian dinyatakan sebagai pandemic oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO/World Health Organization). Virus yang diberi nama Coronavirus ini telah hampir menyerang seluruh negara di dunia, tanpa terkecuali di Indonesia.

Dampak dari pandemic ini amatlah beragam, bukan sekedar kesehatan saja yang terancam, akan tetapi juga mengguncang ekonomi dunia. Elemen-elemen ekonomi di dunia banyak yang mengalami kebangkrutan terdampak efek domino yang ditimbulkan dengan adanya pandemi ini, karena dengan adanya pandemic masyarakat dipaksa untuk mengurangi aktivitas-aktivitas yang imbasnya menurunnya juga kegiatan ekonomi.

Di Indonesia sendiri, terhitung sejak akhir Maret 2020, Presiden Joko Widodo mengumumkan bahwa mengeluarkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagai upaya untuk memutus mata rantai penyebaran coronavirus. Namun, dengan adanya kebijakan PSBB kegiatan perekonomian di Indonesia seakan lumpuh, yang mengkibatkan turunnya perekonomian negara.

Salah satu sektor yang terdampak besar adalah dari sektor pariwisata, padahal sektor pariwisata merupakan salah satu penyumbang terbesar untuk devisa negara. Semenjak adanya kebijakan PSBB, sektor pariwisata mulai merosot drastis, banyak Industri-industri pariwisata seperti Travel Agent, Hotel, dan Destinasi Wisata yang mulai merumahkan pegawainya karena memang industri kehilangan pendapatan karena kehilangan wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

Setelah 4 bulan pemerintah menerapkan kebijakan PSBB, meskipun kasus positif terinfeksi coronvirus masih terjadi, kini pemeritah mengeluarkan kebijakan baru untuk membangkitkan secara perlahan ekonomi negara dengan tetap menerapkan protokol-protokol kesehatan yang berlaku dengan istilah “New Normal”. Di Era New Normal ini pemerintah berharap masyarakat agar bisa beraktivitas kembali seperti semula dengan menerapkan budaya baru sesusai protokol kesehatan seperti mengenakan masker, mencuci tangan, menggunakan hand sanitizer, dan lain-lain. Para pelaku Industri pariwisata pun bergerak cepat merespon kebijakan New Normal, beberapa Destinasi wisata mulai bersiap kembali membuka layanan untuk masyarakat.

Beberapa Destinasi Wisata yang hendak membuka kembali layanan, mereka mempesiapkan diri dengan memperhatikan aspek CHS (Cleanlines, Health, & Safety) sesuai anjuran dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) secara ketat. Mereka menyiapkan fasilitas dan aturan baru penunjang “New Normal” bagi wisatawan yang disinkronisasikan dengan protokol kesehatan seperti membatasi jumlah wisatawan, melakukan pengukuran suhu bagi setiap wisatawan yang hendak berkunjung, memperbanyak titik point tempat cuci tangan, dan sebagainya.

Sedangkan bagi Travel Agent, masa transisi New Normal ini dituntut agar lebih kreatif dalam membuat sebuah paket wisata, karena harus tetap memperhatikan protokol kesehatan yang berlaku, selain harus bisa menggali potensi wisata yang ada di daerahnya masing-masing guna mengurangi aktivitas kunjungan ke luar daerah yang dikhawatirkan bisa menjadi sebab penyebaran coronavirus meluas kembali. (Ranov)