MEK PDM Kendal Launching Sekolah Bisnis Muslim

0
658
Peserta Sekolah Bisnis Muslim saat mengikuti dgn seksama paparan dari Edy Darmono

PWMJATENG.COM, KENDAL – Sekarang ini banyak orang menyimpan uangnya di sebuah bank. Hal itu bisa jadi dilakukan oleh mereka karena belum mampu mengembangkan uangnya lewat sebuah usaha atau berbisnis, karena belum ditemukan ide atau gagasan yang strategis dan berpeluang. Sementara banyak anak muda kita temukan gagasannya yang bagus, cemerlang di bidang bisnis. Melihat hal itu, tidak ada salahnya jika Muhammadiyah mampu memadukan keduanya, pemilik modal dengan pemilik gagasan untuk melahirkan pengusaha – pengusaha muslim yang handal. Demikian dikatakan Edy Darmoyo, motivator dan master trainer dari TPC Corporation Semarang (Training Organizar) pada launching Sekolah Bisnis Muslim (SBM) yang digelar oleh Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) PDM Kendal Kamis (20/4) di Six Water Game Weleri, Kendal.

Lelaki kelahiran Demak 8 Juli 1977 tersebut mengungkapkan, seorang pengusaha yang sekarang sukses tidak serta merta mendapatkan kesuksesannya dengan mudah. Mereka bekerja keras, sejak nol sampai sekarang. Bahkan bisa jadi bisnis yang ditekuninya berawal dari ide tau gagasan yang sederhana. “ Mengawali bisnis tidak harus dengan melahirkan ide yang besar “ tegas Darmoyo.

Edy Darmoyo, motivator dan master trainer dari TPC Corporation Semarang (Trainer Organizer ) saat memberikan motivasi kepada peserta Sekolah Bisnis Muslim (SBM)

 

Sekolah Bisnis Muslim didirikan karena sebuah keprihatinan terhadap kondisi perekonomian Indonesia saat ini. “ Daya saing Indonesia dewasa ini terus merosot, warga Indonesia minder, rendah diri, dan masuk dalam kelas 7, sangat jauh dibanding dengan cina, hampir menguasai seluruh aspek perekonomian Indoensia  “ kata wakil ketua PDM Kendal, koordinator MEK, Drs. H. Khaerudin Rais ketika menyampaikan kata sambutan pada launching SBM.

Ditambahkan, keadaan ummat Islam walaupun mayoritas, namun yang menguasai sektor ekonomi kebanyakan bukan umat muslim. “ Ummat muslim sepertinya tak mampu mengambil alih kekuasaan di lini ekonomi. Ummat Islam sangat lemah bahkan lebih mengenaskan, banyak dari ummat Islam yang bekerja atau dipekerjakan untuk ummat non muslim secara tidak layak. “ ujarnya.

Maka melalui SBM diharapkan terjadi perubahan, walaupun berskala regional, khususnya di Kendal. “ Kami sedang berikhtiar melalui pembelajaran kongkrit khusus di bidang perekonomian yang berbasis syari’ah. Dari SBM insyaAllah lahir pengusaha-pengusaha sholeh, kaya, dan berkemajuan “ tegas Khaerudin.

Sejalan dengan hal itu, ketua Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM) Daerah Kendal, H. Budiyanto Amalia bertekad mewujudkan impian Muhammadiyah di bidang perekonomian melalui SBM. “ Dari sini akan lahir pengusaha-pengusaha muda yang mampu mengangkat perekonomian di Indonesia “ katanya.

Sekolah Bisnis Muslim dilakukan dengan pembelajaran berkala yang pelaksanaanya berkala sepekan sekali, setiap Kamis malam. Pesertanya bersifat umum

“ Sekolah ini dilaksanakan 10 kali pertemuan. Setiap peserta tidak kami pungut biaya, hanya kesungguhan dan disiplin selama proses pembelajaran berlangsung. Kesungguhan itu dibuktikan dengan surat pernyataan oleh setiap peserta SBM dan ditanda tangani di atas meterai 6.000. Dan untuk angkatan pertama ini kami menjaring 65 peserta, “ kata ketua MEK PDM Kendal, H. Moechammad Noer Agoes Hidayat, ST.

Untuk narasumber didatangkan dari pengusaha – pengusaha sukses di internal Muhammadiyah yang ada di JSM maupun pengusaha lain yang memiliki visi yang sama dengan SBM. (A.Ghofur/MPI Kendal)