Kiprah dan Prestasi Sekolah Muhammadiyah di HUT RI Ke-70

0
590

SMK Muhammadiyah Bawang, Kabupaten Batang, Banjir siswa dan prestasi
SMK Muhamamdiyah Bawang, Batang, pada 2015 meraih tiga juara di kejuaraan tingkat Provinsi Jateng, dan prestasi tingkat Kabupaten, yaitu Juara Pertama Pencak Silat Kelas D1 Putri Popda atas nama Nurul Hamdallah, Lomba Keterampilan Tehnik Kendaraan Ringan diraih M Iqbalul Izza, dan debat Bahasa Inggris Nur Astuti, Tri Murwani, dan Istiyani.
Selain itu, SMK Muhammadiyah Bawang merupakan satu-satunya sekolah di Kabupaten Batang yang mempunyai jumlah siswa terbanyak, yaitu 1.225 orang. Kepala SMK Muhammadiyah Bawang, Solikhin, mengatakan, sekolah yang berada di Jalan Raya Bawang-Sukorejo, Desa Jlamprang tersebut didirikan tahun 2002 kini tercatat ada 1.225 siswa yang terbagi dalam 30 kelas. Mereka tidak hanya dari Batang, namun juga dari Wonosobo, Banjarnegara, dan Pekalongan. Bahkan, ada yang dari luar Jawa yaitu Palembang, Sumatra Selatan.
Ada tiga program kompetensi keahlian yang diajarkan pada SMK Muhammadiyah Bawang, antara lain jurusan Teknik Kendaraan ringan (TKR), Teknik Sepeda Motor (TSM), Teknik Komputer Jaringan (TKJ), akuntansi, dan perbankan syariah. Masing-masing jurusan dilengkapi dengan laboratorium dan multimedia.
Selain itu, SMK Muhammadiyah melengkapi fasilitasnya dengan kolam renang, sarana olahraga, edumart, BMT dan menerapkan sistem boarding school, yaitu asrama bagi anak-anak dari luar daerah.
SD Muhammadiyah 1 Kudus Lirik Lomba Tingkat Internasional
SD Muhammadiyah 1 Kudus menujukkan eksistensinya melalui berbagai prestasi yang diraih. Terakhir, sekolah yang berdiri sejak 1920 ini meraih juara 2 dan juara harapan kedua lomba robotik yang diselenggarakan SMK Al Hikmah Jepara dan Politehnik Negeri Semarang (Polines) Semarang.
Kepala SD Muhammadiyah 1 Kudus, Sugeng Prayitno, mengatakan, setiap tahunnya SD Muhammadiyah meraih segudang prestasi, dari akademik hingga nonakademik.
Untuk meraih prestasi tersebut, sekolah melakukan pengkaderan siswa sejak masuk. Siswa yang memiliki potensi dan memiliki minat terhadap olahraga atau salah satu bidang akademik mendapatkan bimbingan khusus. ”Seperti robotik ini, sekolah kami menjadi langgganan juara setiap tahunnya. Ini karena kami konsentrasi pada pengembangan prestasi siswa,” terangnya.
Selain prestasi pada bidang robotik, siswa SD Muhammadiyah 1 Kudus juga meraih juara III olimpiade MIPA yang diselenggarakan Universitas Negeri Semarang (Unnes), juara harapan II LCC Unnes, juara 1 renang gaya punggung 100 meter pada Popda Jateng, juara 1 atletik putri pada Popda Jateng, juara III bulu tangkis tunggal putri Muria Cup, juara I PMR tingkat Provinsi Jateng, juara 1 qira’ah tingkat nasional, juara II tingkat nasional, juara I lomba dokter cilik, dan prestasi lainnya. ”Prestasi ini menunjukkan usaha kami untuk mendidik siswa-siswi di sini mendapatkan hasil yang baik,” tegas Sugeng Prayitno.
Kini SD Muhammadiyah 1 Kudus mulai melirik event-event internasional untuk mendongkrak prestasi mereka. Oktober mendatang, siswanya atas nama Raisa Saffanahati Budhiwardoyo akan berangkat ke Korea untuk mengikuti event Student Kids. Wakil dari SD Muhammadiyah 1 Kudus ini akan membawa karya ilmiah tentang lingkungan yang akan dipresentasikan dalam kegiatan selama di Korea. ”Kami sudah siapkan mental dan materi untuk siswa, agar bisa membawa harum Indonesia di kancah internasional,” papar Sigit.
Selain konsentrasi pada pengembangan prestasi, SD Muhammadiyah 1 Kudus juga memperkuat karakter kebangsaan bagi siswa-siswinya. Hal itu terlihat dari berbagai lomba dan peringatan 17 Agustus. Siswa mengikuti lomba sepak bola pakai sarung, lomba masak, dan upacara bendera. ”Kami ingin mengembangkan prestasi seiring dengan pengembangan karakter agama maupun kebangsaan. Keduanya sangat penting,” tandasnya.
SMP Muhammadiyah 5 Purbalingga Terapkan One Day One Ayat
SMP Muhammadiyah 5 Purbalingga menerapkan one day one ayat (ODOA) kepada seluruh siswa dan guru. Kebijakan ini diterapkan sejak tahun pelajaran ini.
Kepala SMP Muhammadiyah 5 Purbalingga, Hamid Siswanto, mengatakan ODOA tersebut dilakukan setiap pagi selama 5 menit saat guru masuk kelas. Siswa dan guru menghafalkan 1 ayat yang sama bersama-sama. ”ODOA ini dimulai dari surat Annas di juz 30. Kemudian berlanjut ke surat-surat berikutnya. Karena suratnya pendek-pendek maka untuk sementara ini yang dihafalkan langsung 1 surat,” katanya.
Kalau nanti sudah memasuki ayat-ayat panjang maka hafalan akan kembali per ayat. ”Harapannya anak-anak saat lulus hafal juz 30,” katanya.
Selain ODOA, sekolah yang berada di Desa Losari, Kecamatan Rembang ini juga menerapkan program English Everyday (EE) mulai tahun pelajaran ini. Siswa dan guru menghafalkan 1 kosa kata setiap hari. ”Untuk tahap awal ini kosa kata yang dihafalkan adalah bagian-bagian tubuh manusia. Hafalan tiap hari ini cukup efektif. Anak-anak saya cek hafalannya sudah bagus,” katanya.
Dia menambahkan, jika sudah kelas 9 diharapkan anak sudah mempunyai 1.000 kosa kata. Sehingga bisa menjadi bekal mereka untuk lancar berbicara Bahasa Inggris. ”Untuk evaluasi dilakukan setiap Jumat. Satu guru mempunyai binaan 15 siswa. Mereka itulah yang akan mengevaluasi hafalan siswa binaannya, baik untuk program ODOA maupun EE,” tuturnya.
SMP Muhammadiyah 6 Kaligondang Gelar Bakti Sosial
SMP Muhammadiyah 6 Kaligondang menggelar bakti sosial. Kegiatan itu merupakan rangkaian perkemahan Pramuka yang digelar di sekolah dan lapangan Kaligondang di depan sekolah. ‘’Anak-anak membagikan paket sembako kepada 86 keluarga di Desa Kaligondang, Kecamatan Kaligondang,’’ ujar pembina Pramuka, Agus Priyanto. Dia menyebutkan, perkemahan diikuti 86 siswa kelas 7. Selain itu 46 binda damping dan bantara alumni juga terlibat dalam kegiatan tersebut. ‘’Selain bakti sosial, peserta mengikuti penjelajahan, materi keagamaan, renungan malam, api unggun, problem solving, dan pentas seni,’’ ujarnya.
Kegiatan diakhiri dengan upacara pelantikan dari penggalang ramu menjadi penggalang rakit. Perwakilan peserta maju dan dikalungi untaian minuman saset sebagai bentuk kelulusan. Bukan Gagah-gagahan ‘’Kegiatan ini bertujuan untuk menjadi anggota penggalang baru dan melatih siswa mengikuti uji kenaikan tingkat penggalang rakit,’’ ujar Agus.
Untuk lulus menjadi penggalang rakit, lanjutnya, anak-anak harus lulus syarat kecakapan umum (SKU). Jika tidak lulus SKU, mereka tidak bisa dilantik menjadi penggalang rakit.
Kepala Sekolah, Edy Budiyanto, berharap setelah dilantik menjadi penggalang rakit, anak-anak bisa menjadi contoh yang baik baik di sekolah maupun di rumah. ‘’Karena menjadi penggalang rakit itu bukan untuk gagah-gagahan melainkan harus bisa menjadi contoh bagi masyarakat di sekitarnya,’’ tambah Edy.
(F10-57/Arief Noegroho/ CN33/ SM Network/H76-24/ar-74/editor: Fakhrudin)