KHUTBAH IDUL FITRI: RAMADHAN MEWUJUDKAN UMAT BERKEMAJUAN

0
715

Tim Majelis Tarjih dan P3M PDM Kota Surakarta

 السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا  أَمَّا بَعْدُ

Maasyiral Muslimin Rohimakumullah

Maha suci Allah yang telah mempertemukan kita dengan bulan suci Ramadhan, bulan yang penuh barokah, bulan yang penuh maghfirah. Pada pagi hari ini kita bersyukur kepada Allah SWT dengan takbir, tahlil dan tahmid karena kita dipertemukan dengan hari raya Idul Fithri 1438 H. Bulan Ramadhan telah mendidik kita menjadi hamba yang taat beribadah, mengajarkan untuk mencintai al-qur’an dan ilmu, dan menjadikan hamba yang ikhlas dan sabar. Pada akhirnya membentuk pribadi-pribadi yang taqwa, tangguh, dan berkemajuan.

 Maasyiral muslimin rohimakumullah..

Al-Qur’an menyebut, ada empat kriteria umat Islam yang akan ditinggikan derajatnya di sisi Allah SWT. Keempat kriteria tersebut harus dimiliki oleh setiap mukmin yang memiliki visi berkemajuan. Keempat kriteria itu adalah : Pertama, orang beriman yang berilmu.

Allah SWT menempatkan kedudukan seorang mukmin yang berilmu berbeda dengan seorang mukmin yang tidak berilmu. Ilmu menuntun seseorang beramal dengan benar, dan membawa kepada kebenaran. Allah SWT meninggikan derajat orang beriman lagi berilmu beberapa derajat, sebagaimana Firman Allah SWT di dalam Al-Quran surat Al-Mujadilah ayat 11 :

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan meninggikan orang beriman lagi berilmu di antara kamu beberapa derajat”

Suatu ketika, Abu Hurairah melintasi sebuah pasar melihat aktifitas jual-beli, lalu berkata : ”Kenapa kalian tetap di sini, sementara warisan Rasulullah dibagikan di masjid?”. Orang-orang bergegas menuju masjid, tetapi mereka tidak mendapati apa-apa kecuali majelis Al-Qur’an, dzikir, dan majelis ilmu. Mereka bertanya :”Mana ya Abu Hurairah yang Anda katakan?. Abu Hurairah menjawab : ”Apakah kalian tidak pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda :

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ إِنَّ اْلأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ.

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, akan tetapi mewariskan Ilmu, maka siapa yang mengambilnya ia telah mengambil bagian yang besar”. ( HR. Tirmidzi ).

 Maasyiral muslimin rohimakumullah..

Sungguh, ilmu memiliki keutamaan dan peran yang sangat besar dalam membentuk pribadi mukmin berkemajuan, sehingga mampu memahami mana yang benar dan yang salah. Sebaliknya tanpa ilmu manusia akan mengalami kemunduran, taklid buta dan jauh dari kebenaran. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 170 :

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلاَ يَهْتَدُونَ.

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”.

Itulah gambaran orang-orang yang tidak berilmu, mereka hanya ikut-ikutan tanpa memahami hakekat sebenarnya, apakah benar atau salah, diridhoi Allah SWT atau tidak, mereka seperti katak dalam tempurung. Pada zaman modern sekarang ini umat Islam haruslah lebih semangat menuntut ilmu, agar tidak terjerumus pada kebodohan, keterbelakangan, dan kesesatan.

 Maasyiral muslimin rohimakumullah..

Kriteria yang Kedua adalah memiliki kualitas iman yang tinggi. Seorang mukmin yang sebenarnya akan ditempatkan pada kedudukan terpuji di sisi Allah karena kesungguhan ibadah dan kuatnya keimanan dalam hatinya. Al-Qur’an menyebut tentang mukmin yang berkualitas, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Quran surat Al-Anfal ayat 2-4 :

إنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (2) الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3) أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ (4 (

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal,(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki yang mulia.

Pribadi mukmin berkualitas memiliki hati yang selalu ingat Allah SWT dan tauhid kuat yang diwujudkan dalam segala segi kehidupan. Mereka mampu menjadikan kalimat tauhid          “لاَ إله إلا الله sebagai sumber dari segala sumber kehidupan. Inilah cinta pada Allah SWT yang diwujudkan dengan ketaatan. Jika cinta kepada Allah SWT kuat, maka kuatlah ketaatannya, tetapi jika lemah, maka lemah pulalah ketaatannya.
Seorang mukmin berkualitas, selalu memupuk iman di dalam hati dengan mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an, karena Al-qur’an menjadikannya kokoh dan mulia. Khalifah Umar bin Khathab dalam sebuah khutbahnya mengatakan :

نَحْنُ قَوْمٌ اَعَزَّنَا اللهُ بِالْاِسْلاَمِ فَمَهْمَا ابْتَغَيْنَا الْعِزَّةَ بِغَيْرِهِ أَذَلَّنَا الله

Kita ini adalah kaum yang ditinggikan Allah dengan Islam, jika kita mencari kemuliaan di luar Islam maka Allah akan menghinakan kita”.

Peradaban umat haruslah didasarkan pada sendi-sendi Al-Qur’an, agar nilai-nilai kebenaran tidak diterjang, permusuhan dan kemaksiatan tidak merajalela, hukum rimba berlaku di mana-mana, akhirnya hancurlah umat dan peradabannya.

Mukmin berkualitas senantiasa bertawakkal kepada Allah SWT. Tawakkal artinya berusaha maksimal dan menyerahkan hasil usahanya kepada Allah SWT. Mukmin yang bertawakkal kepada Allah SWT, ketika berhasil tidak bersikap sombong, dan bila gagal tidak patah arang, tetapi tetap bersabar untuk meraih rahmat Allah SWT.

Selain itu tanda mukmin berkualitas adalah menegakkan sholat, membayar zakat, menyantuni fakir miskin, dan anak-anak yatim. Itulah ciri-ciri mukmin sejati, mukmin berkemajuan. Mereka berhak memperoleh derajat tinggi, ampunan di sisi Allah serta rizki yang berkah.

Maasyiral muslimin rohimakumullah..

Kriteria yang ketiga adalah gemar beramal shalih. Iman adalah keyakinan dalam hati, diucapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan perbuatan atau yang sering disebut dengan amal shalih. Allah SWT menempatkan orang beriman yang mau beramal shalih pada derajat yang tinggi di sisi-Nya karena kesempurnaan iman. Allah SWT berfirman di dalam al-Quran surat Thoha ayat 75 :

وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُولَئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلَى.

Dan barang siapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal shaleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat yang tinggi.

Seorang mukmin yang memiliki visi berkemajuan, tidaklah berpangku tangan atau hanya mengejar kesalehan individu, melainkan diwujudkan dengan amal shalih yang nyata. Ia hadir di tengah-tengah masyarakat untuk menebarkan kebaikan dan perbuatan mulia, bahkan ia menjadi pelopor, pendorong dan teladan di dalam amal kebaikan. Inilah yang dimaksud dengan وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا”  atau mukmin yang menjadi pemimpin orang-orang yang taqwa.

 Maasyiral muslimin rohimakumullah.

Kriteria yang keempat adalah jihad fi sabilillah. Jihad secara bahasa berarti bersungguh-sungguh dalam melaksanakan sesuatu. Secara istilah berarti bersungguh-sungguh dalam menegakkan syiar agama Islam. Allah SWT sangat mencintai orang-orang yang mau berjuang dan berjihad di jalan Allah SWT. Sebagaimana firman Allah di dalam al Quran surat An-Nisa ayat 95 :

لا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلاَ وَعَدَ اللهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk[340] satu derajat. kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.

Seorang mukmin berkemajuan selalu mempunyai niat tulus mendakwahkan agama Allah SWT, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran serta mencegah kemungkaran dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Itulah implementasi jihad untuk beramar ma’ruf nahi munkar. Umat yang tidak mau beramar ma’ruf nahi munkar, akan dihinakan oleh Allah SWT sebagaimana bani Israil yang semula dilebihkan oleh Allah SWT dengan diutusnya para Rasul dari golongan mereka, tetapi karena mereka tidak membiasakan amar ma’ruf nahi munkar dan teramat besar kedurhakaan mereka kepada Allah SWT, maka Allah SWT melaknat mereka dengan mencabut status sebagai umat yang baik. Firman Allah di dalam al-Quran surat Al-Maidah ayat 79 :

كَانُوا لاَ يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ.

Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.

Alangkah bahayanya bila amar ma’ruf nahi munkar telah hilang pada suatu bangsa. Hal tersebut berdampak pada kemaksiatan semakin merajalela, perselisihan antar umat, politisi dan elit partai semakin tinggi, norma hukum tidak lagi ditaati, keadilan hilang, kejujuran lenyap, sehingga muncul kegelisahan masyarakat karena kehidupan tidak lagi nyaman dan tenteram.

 Maasyiral muslimin rohimakumullah.

Itulah empat kriteria mukmin yang dilebihkan dan diangkat kedudukannya oleh Allah SWT. Mereka sosok mukmin yang berkemajuan, tidak hanya memajukan dirinya, melainkan juga memajukan masyarakat, bangsa, dan Agama Allah SWT.

Sebagai bagian akhir dari khutbah pagi hari ini, marilah kita berdoa semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai mukmin yang berkemajuan, serta menjadi teladan bagi generasi penerus bangsa. Dan marilah kita berdoa kepada Allah SWT, semoga puasa dan segala ibadah kita pada Ramadhan tahun ini diterima oleh Allah SWT, mempunyai kualitas yang lebih baik dari Ramadhan tahun lalu, hubungan keluarga antara suami, istri, anak dan kekerabatan semakin harmonis, masyarakat semakin kondusif, lingkungan semakin aman, serta situasi negara semakin baik dan maslahat untuk semua warga negara.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. أَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلى ألِهِ وَ صَحْبِهِ وَمنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ،اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ، يَاقَاضِيَ الْحَاجَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ. أَللّهُمَّ اغْفِرْلَنَاذُنُوْبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِى أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا. رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصَّالِحِيْنَ. اللّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ اِلَيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ. رَبَّنَا ءَاتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا. رَبَّنَا ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ. وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته