Jokowi Hadiri Dies Natalis UMS ke-55

0
321

SURAKARTA – Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Bambang Setiaji, menyatakan bahwa Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo sudah membuktikan negara masih bisa hadir di saat rakyat sakit dan atau tidak bisa menyekolahkan anak. Hal tersebut dijelaskan oleh Bambang Setiaji saat acara Hari Jadi UMS ke-55, di Auditorium Muh. Djazman UMS, Surakarta, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.
Bambang Setiaji mengatakan dies natalis ke-55 UMS tersebut terasa istimewa karena berada dalam dinamika menghadapi pergantian kepemimpinan nasional tahun depan. Keistimewaan tersebut terasa atas kehadiran Jokowi yang tengah memperoleh dukungan masyarakat untuk menggantikan kepemimpinan nasional. “UMS bukanlah lembaga politik dan tidak memiliki agenda politik tertentu. Undangan ini tidak lain sebagai artikulasi dukungan masyarakat supaya lebih menguatkan para sesepuh bangsa untuk memberikan estafet kepemimpinan. Jokowi sudah sejak tahun 2000 aktif memberikan ceramah di UMS,” papar Bambang Setiaji.

DiUsulkan Gelar Doktor Honoris Causa UMS, Jokowi Menolak
Bambang Setiaji juga mengusulkan kepada Senat UMS untuk memberikan gelar Doktor Kehormatan Honoris Causa (HC) kepada Gubernur DKI, Joko Widodo (Jokowi). Pemberian gelar tersebut mempertimbangkan peran Jokowi dalam kepemimpinannya saat menjabat Wali Kota Solo hingga menjadi Gubernur DKI yang dinilai sangat dekat dengan rakyat. “Dalam kepemimpinannya, Jokowi adalah tokoh muda yang polos, tidak terkontaminasi dan dekat dengan rakyat. Jokowi sudah membuktikan di tengah keterbatasan, sebagai pemimpin bisa hadir di tengah-tengah masyarakat. Atas kiprahnya itu, selayaknya Senat Akademik UMS mempertimbangkan gelar Doktor Kehormatan kepada Jokowi,” terang Bambang di sela-sela sambutannya dalam Upacara Hari Jadi ke-55 UMS.
Wakil Ketua Majelis Pendidikan Tinggi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Munir Mulkan, mendukung usulan pemberian gelar Doktor Honoris Causa kepada Jokowi. Menurutnya, sosok Jokowi sangat dekat dan pro kepada rakyat kecil baik di Solo maupun di Jakarta. “Atas nama Pimpinan Pusat Muhammadiyah, kami mendukung pemberian gelar Doktor Honoris Causa kepada Jokowi. Masyarakat menunggu orang-orang seperti Jokowi untuk mengubah nasib bangsa. Pemimpin itu seharusnya Jokowi yang sederhana, terbuka, dan membela rakyat kecil,” jelas Munir dalam sambutannya di acara tersebut.
Sementara itu, saat dikonfirmasi terkait usulan gelar kehormatan tersebut, Jokowi justru menampik secara halus dengan alasan keterbatasan pengetahuan, Jokowi mengaku berat menerima gelar kehormatan tersebut. Menurutnya, bukan hal mudah menyandang gelar kehormatan karena konsekuensinya cukup berat. “Saya ini kan orang bodoh jadi tidak layak kalau menerima gelar itu,” jelasnya seusai memberikan orasi ilmiah dalam acara tersebut.

Jadi Idola Mahasiswa
Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, juga menjadi idola mahasiswa saat mantan walikota Solo ini datang ke kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) untuk menyampaikan orasi Hari Jadi UMS ke-55. Puncak peringatan Milad UMS yang biasanya luput dari perhatian, tiba-tiba dipadati mahasiswa. Mereka sangat antusias untuk mendengarkan orasi Jokowi di luar auditorium HM Djazman. Seusai acara, mereka merangsek mengerubuti Jokowi yang berjalan didampingi Rektor UMS, Prof. Dr. Bambang Setiaji, MS. Ada yang mencoba bertanya, mengulurkan tangan untuk berjabat tangan hingga foto bersama.
Sambil tersenyum Jokowi pun dengan sabar menemuhi keinginan semua mahasiswa. Ia memperlambat langkahnya menuju mobil, bahkan kadang berhenti beberapa saat. Sesekali memerintahkan ajudannya untuk membantu mengambilkan foto dengan handphone mahasiswi. Jokowi memang menjadi pemimpin idola mereka.
Rektor UMS, Bambang Setiaji, menyatakan mengapa dukungan masyarakat terhadap Jokowi datang seperti air bah tak terbendung, karena masyarakat ingin perubahan. Dalam box kepemimpinan nasional, Jokowi adalah tokoh muda yang dinilai polos, virgin-tidak terkontaminasi dan dekat dengan rakyat.

Identik kemeja putih
Dalam menjalankan tugasnya sebagai Gubernur DKI Jakarta, Jokowi jarang terlihat mengenakan pakaian dinas. Mantan Wali Kota Solo itu justru sering terlihat mengenakan kemeja putih lengan panjang dengan lengan yang selalu digulung.
Jokowi mengaku lebih nyaman mengenakan kemeja putih ketimbang pakaian dinas. Baik saat berada di kantor maupun saat blusukan ke lapangan. Menurutnya, kemeja putih itu sederhana dan murah. “Baju putih itu murah. Harganya macam-macam. Yang Rp. 5 juta juga ada,” ujar Jokowi. Namun untuk kemeja yang digunakannnya, Jokowi mengaku tidak membeli bahan pakaian dengan harga Rp5 juta. Tapi cukup dengan harga yang murah. “Paling se-meter Rp. 35 ribu. Jahitnya Rp. 20 ribu,” katanya.

(Fakhrudin/suaramerdeka.com/solopos.com/vivanews.com/krjogja.com)