IDUL FITRI : HARI KEMERDEKAAN YANG HAKIKI

0
232

oleh Joko Triyanto, S.Kom., B.Sc., M.Pd.I.
(Majelis Pendidikan Kader PDM Boyolali, Bidang Pendidikan Kader PDPM Boyolali )

“Tetapi dia tidak menempuh jalan terjal. Tahukah kamu apakah jalan terjal itu? Yaitu membebaskan perbudakan atau memberi makan pada hari kelaparan, anak yatim yang dalam pertalian kerabat, atau orang miskin yang bergelimang di atas debu” (QS 90: 11-16).

Waktu berputar begitu cepat, Bulan Ramadhan 1440 H yang penuh berkah, telah berakhir. Akhir Ramadhan umat manusia siap menyambut Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1440 H. Hari raya sudah sepatutnya di maknai sebagai hari yang sakral, dimana setiap manusia bermuhasabah. Bukan justru di buat berfoya foya apalagi menari di atas penderitaan saudara se iman.

Idul Fitri juga diartikan dengan kembali ke fitrah (awal kejadian). Dalam arti mulai hari itu dan seterusnya, diharapkan kita semua kembali pada fitrah. Di mana pada awal kejadian, semua manusia dalam keadaan mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan.

Jadi idul fitri bukan hanya membebaskan manusia dari makan dan minum, namun lebih dari itu yaitu mengembalikan jiwa dan raga kepada yang sebenar benarnya islam membebaskan dari ketidak adilan kedzoliman, kelaparan kemiskinan dll. Idul fitri saatnya menyadarkan diri bersama untuk mewujudkan kemerdekaan yang Sebenar benarnya/hakiki.

Hari raya Idul Fitri selayakanya tidak hanya dimaknai sebagai hari bersenang senang dan bermaaf maaf an saja. Namun lebih dari itu adalah untuk mewujudkan islam yang sebenar benarnya.

Mewujudkan Kemerdekaan adalah hak dan kewajiban setiap muslim, hal itu sesuai cita cita bangsa dan juga agama. Agama Islam mengemban misi memerdekakan manusia dari perbudakan dan membebaskan mereka dari kemiskinan, kebodohan, penderitaan, dan kesengsaraan.

Nabi Muhammad di utus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia dan juga membawa manusia dari kejahiliyahan atau kegelapan menuju jalan cahaya yang terang benderang.

Hari raya adalah hari kemenangan dimana seluruh umat islam seharusnya merdeka. Jika di hari idul fitri ini masih ada banyak saudara se iman kita yang terdzolimi, kelaparan, bodoh, miskin , munafik dan tidak menjalankan perintah serta menjauhi laranganNya. Maka sesungguhnya islam kita belum sempurna, hari raya tahun ini belum mampu kita pahami, amalkan dan nikmati bersama.

Maka dari itu, penulis mengajak saudara semua untuk merayakan idul fitri dengan benar, bukan dengan hanya berfoya foya, pamer kekayaan, pamer kesuksesan duniawi, pamer status dan lain sebagainya. Mari dihari raya idul fitri ini kita bergerak bersama dengan memberantas kelaparan, kedzoliman, kebodohan, kemiskinan dll. Agar terwujud kemerdekaan yang hakiki di hari raya idul fitri. (*)