Ibnu Djarir : God is not Great?

0
497

God is not Great?

  • Oleh Ibnu Djarir

BAGI umat beragama,
khususnya yang sering disebut pemeluk teguh, pasti terkejut, atau
mungkin malah geram, membaca kalimat God is not Great yang menjadi judul
buku karangan Hitchens. Sebab bagi umat beragama, termasuk  di
Indonesia, mereka berkeyakinan God is Great.

Ini tak dapat ditawar lagi karena merupakan dasar keyakinan. Kalau tidak
Great, mengapa harus disembah dan dipuja? Bagi umat Islam, mereka
berkeyakinan God is the Greatest, yang mereka sebut dengan kalimat
Allahu Akbar, yang berarti Allah Maha Besar, Allah Maha Agung, sebagai
Al Khaliq, Sang Pencipta alam semesta dan seisinya.

Buku berjudul God is not Great itu, yang isinya lebih banyak membeberkan
”kejeleken-kejelekan” agama-agama, menurut subjektivitas pengarangnya
sehingga seolah-oleh agama tak ada kebaikan dan gunanya sama sekali,
seperti ditulis L Murbandono Hs lewat artikelnya ”Memikirkan God is not
Great” (SM, 19/05/10).

Perlu kita sadari, publik di Indonesia dan bangsa Indonesia pada umumnya
mempunyai latar belakang filosofi-sosio-historis berbeda dari
bangsa-bangsa di dunia barat yang kebanyakan sekuler. Bangsa Indonesia
adalah bangsa yang berpancasila, religius, beragama, meski kadar
keberagamaannya bisa berbeda-beda. Nilai-nilai, pandangan, dan kebiasaan
yang dianggap baik di dunia barat, belum tentu baik untuk diterapkan di
Indonesia.

Di Negeri Belanda misalnya, dengan dalih atas nama hak asasi manusia,
ada orang-orang mendirikan arena nudis (scheveningen) yaitu tempat
orang-orang berkumpul ria dengan bertelanjang bulat. Ternyata masyarakat
sekitar tidak menentangnya. Di Indonesia tentu dinilai bertentangan
dengan nilai-nilai agama, nilai-nilai budaya, dan perundang-undangan
yang berlaku.

Murbandono menyinggung masalah terorisme. Terorisme dilakukan oleh
orang-orang dari berbagai pemeluk agama. Terorisme yang dilakukan oleh
orang-orang Islam muncul semenjak tentara Amerika Serikat dan sekutunya
menduduki Irak dan Afghanistan dengan kekerasan senjata. Puluhan ribu
jiwa melayang yang kebanyakan orang Islam. Sarana dan prasarana serta
aset budaya di dua negara tersebut dan sekitarnya yang tak ternilai
harganya hancur-lebur.
Bertentangan
Seluruh negara Islam mengutuk terorisme karena paham dan kegiatan
terorisme bertentangan dengan ajaran Islam yang sebenarnya yang
mengutamakan perdamaian sebagai bagian dari karakteristik Islam rahmatan
lil ‘alamin. Perlu diingat, jumlah orang Islam yang terpikat pada
gerakan terorisme itu amat sangat kecil dibanding dengan umat Islam yang
moderat. Sebagai contoh, umat Islam Indonesia diperkirakan 210 juta
jiwa.

Jumlah yang terlibat teroris mungkin hanya Densus 88 yang tahu. Tetapi
ada yang mengatakan tokohnya sekitar 5 ribu orang. Jadi secara objektif
kita harus memberikan apresiasi adil terhadap mayoritas umat Islam yang
moderat, yang mempunyai andil besar dalam memelihara stabilitas nasional
dan pembangunan bangsa dan negara.

Kemunculan pandangan ateisme dan demitologisasi, yang menganggap  Tuhan
tidak ada, Tuhan tak berarti, dan dalam agama banyak dongeng yang harus
dihilangkan, sudah sejak lama di dunia Barat. Friedrich Nietzsche
menyatakan God is dead. God remains dead. And we have killed him (Tuhan
telah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya).

Dalam perkembangan selanjutnya kemudian muncul pandangan The Death of
God Theology (Teologi Tuhan Mati) yang dipelopori oleh antara lain
Dietrich Bonhoeffer, William Hamilton, dan Harvey Cox. Menurut pendapat
saya, pandangan-pandangan yang mendiskreditkan agama-agama itu tidak
elok disebarluaskan di Indonesia.

Kita perlu mencermati latar belakang kemunculan pandangan-pandangan yang
mendiskreditkan agama-agama tersebut, sebagaimana yang muncul di
Amerika pada 1960-an, yaitu : (1) Masyarakat telah dipengaruhi oleh
paham sekulerisme, materialisme, dan hedonisme yang kering spiritualitas
atau nilai-nilai agama; (2) Meski ada penyempurnaan sistem pendidikan
faktanya mengabaikan pendidikan moral; (3) Peraturan perundangan
diperketat tetapi angka kriminalitas tetap melonjak; (4).

Berpretensi menjunjung tinggi demokrasi, tetapi melakukan diskriminasi
rasial; (5). Pemerintah Amerika Serikat menganjurkan perdamaian, tetapi
mencetuskan peperangan di negara-negara di luar Amerika Serikat; (6)
Simbol-simbol resmi masih religius, tetapi kehidupan sehari-hari ateis.
(10)  

— H Ibnu Djarir, Ketua MUI Provinsi Jawa Tengah